Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Yedioth Ahronoth: Ilusi Israel tentang Kekalahan Hizbullah dan Iran Bakal Berujung Kekecewaan

POROS PERLAWANAN — Di tengah derasnya klaim kemenangan dari Tel Aviv, media Israel sendiri mulai mengakui adanya jurang antara retorika politik dan kenyataan lapangan.

Harian Yedioth Ahronoth, seperti dilansir Al Mayadeen pada Minggu 5 April, menilai narasi tentang “kekalahan Hizbullah dan Iran” dibangun di atas asumsi yang terlalu percaya diri dan berisiko berakhir dengan kekecewaan. Dalam pembacaannya, pernyataan para pejabat Israel tidak lagi sepenuhnya ditopang oleh hasil yang benar-benar mengubah keseimbangan di medan tempur.

Salah satu ilusi yang disorot adalah wacana pelucutan senjata Hizbullah. Media itu menilai tujuan tersebut tidak akan tercapai hanya dengan mengulang pernyataan politik. Sindiran diarahkan langsung kepada Menteri Perang Israel, Yisrael Katz, yang dinilai lebih banyak menaikkan volume retorika ketimbang mengubah kenyataan strategis.

Sorotan serupa juga diarahkan ke Washington. Donald Trump, menurut laporan itu, pada praktiknya telah menunjukkan batas dari opsi yang tersedia bagi Amerika Serikat. Mulai dari isu Selat Hormuz hingga kendali atas sumber daya strategis, ruang manuver yang semula diproyeksikan luas kini justru tampak menyempit.

Pengakuan paling jujur justru datang dari internal Militer Israel sendiri. Rekaman bocor yang disiarkan Channel 12 Israel memperlihatkan Komandan Wilayah Utara, Rafi Milo mengakui pihaknya terkejut oleh kemampuan Hizbullah membangun kembali kekuatannya.

Dalam percakapan tertutup dengan warga permukiman Misgav Am, Milo mengisyaratkan satu hal yang lebih penting daripada persoalan evaluasi taktis, Militer Israel ternyata telah salah membaca hasil perang. Estimasi pascakonflik 2024 yang menganggap Hizbullah telah dilemahkan secara menentukan kini berbenturan dengan realitas yang tidak sesuai harapan.

Realitas itu sederhana, tetapi merusak seluruh narasi kemenangan. Hizbullah masih hadir. Kapasitas operasionalnya tetap bekerja. Ancaman terhadap Israel pun belum benar-benar keluar dari medan.

Itulah sebabnya, pernyataan kemenangan yang terus diproduksi dari tingkat politik semakin terdengar sebagai upaya mengelola persepsi, bukan mencerminkan kondisi sebenarnya. Ketika media dan militer mulai mengakui kesenjangan antara klaim dan fakta, yang retak bukan hanya citra kemenangan, melainkan juga kredibilitasnya.

Pada akhirnya, persoalan ini tidak lagi berhenti pada Hizbullah atau Iran semata. Kini yang sedang diuji adalah kemampuan Israel dan sekutunya mengubah superioritas militer menjadi hasil politik yang nyata. Sejauh ini, hasil itu belum tampak.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *