Analis Zionis: Iran Sedang Susun dan Tentukan Masa Depan Kawasan
POROS PERLAWANAN – Kegagalan proyek untuk menggulingkan Republik Islam, upaya yang gagal untuk menghentikan program nuklir, serta runtuhnya semua janji Netanyahu, kini telah memaksa para analis dan media Zionis untuk mengakui kenyataan pahit bahwa bukan “mereka”, melainkan “Iran” yang sedang membentuk masa depan Kawasan sesuai dengan tatanan baru.
Dilansir Fars, saat ini, di kalangan politik dan media Rezim Zionis, tidak ada lagi pembicaraan tentang “kemenangan yang menentukan”—baik di Gaza, maupun di Lebanon, dan yang terpenting, tidak di Iran. Yang terdengar justru adalah gema kekalahan dari doktrin keamanan yang, menurut para analis, telah dibangun Netanyahu di atas fondasi kebohongan dan berlebihan.
Sebuah artikel terbaru oleh Barak Seri, seorang politisi Zionis terkemuka, di situs web Walla, serta laporan investigasi dari jaringan Israel News 24, mengungkap kebohongan-kebohongan Netanyahu, terutama terkait Iran. Mereka mengakui, Iran bukan hanya tidak bisa dikendalikan, tetapi kini telah menjadi pemain utama dan penentu dalam perimbangan mendatang di Kawasan.
Kegagalan Slogan-slogan Kosong Netanyahu
Langkah Netanyahu untuk mengarahkan komunitas Zionis menuju konfrontasi militer besar-besaran dengan Iran didasarkan pada dua asumsi strategis: “pelumpuhan kemampuan nuklir” dan “penghancuran infrastruktur rudal Teheran”. Namun, perkembangan peristiwa di lapangan menunjukkan bahwa tak satu pun dari tujuan tersebut tercapai. Publikasi artikel pribadi yang kritis oleh orang-orang seperti Barak Seri di media Ibrani menunjukkan kegagalan proyek hubungan masyarakat Netanyahu. Mereka menggambarkan situasi komunitas Zionis saat ini sebagai “mengecewakan”, Seri menganggap “kekuatan” yang diklaim Netanyahu hanyalah pertunjukan propaganda. Mengakui kegagalan dalam memukul mundur Hizbullah dan ketidakefektifan strategi penahanan terhadap Teheran, alih-alih menjadi sikap partisan, justru menunjukkan bahwa Rezim Zionis sedang mengalami “kebuntuan geopolitik”.
Pada tingkat yang lebih dalam, Seri menunjukkan bahwa Rezim Zionis kini dihadapkan pada versi Iran yang tidak hanya tetap kokoh dalam struktur kekuasaannya, tetapi dengan memulihkan deterensi aktif, telah berhasil menimpakan biaya pergeseran keseimbangan kekuatan kepada lawannya. Kehadiran Iran yang kuat dalam perimbangan saat ini menandakan pergeseran pusat kekuatan di Kawasan; sebuah situasi di mana Teheran, melampaui peran sebagai aktor defensif, memaksakan syarat-syaratnya di “papan catur negosiasi” dan “medan perang” dengan memanfaatkan pengaruh strategisnya atas Amerika Serikat.
Kekuatan Nuklir dan Rudal Iran: Mimpi Buruk yang Tetap Bertahan
Ketakutan terbesar musuh adalah tetap berlanjutnya keberadaan infrastruktur vital Iran. Bagi Israel, tak terbayangkan bahwa Iran, setelah dua perang dan semua teror itu, masih bersikeras melanjutkan program nuklirnya. Ini berarti rencana AS dan Israel untuk mematahkan tekad Iran telah gagal. Tel Aviv dan Washington kini menyadari bahwa meskipun Iran diserang dengan keras, “kelangsungan hidup” dan stabilitas struktur kekuasaan di Republik Islam serta Pengawal Revolusi tetap bertahan, yang berarti kemenangan strategis bagi Teheran. Ini berarti bahwa kini Iran, dengan membentuk masa depan, sedang merancang “tatanan regional baru”.
Front Utara: Kekalahan di Hadapan Tekad Perlawanan
Netanyahu mengeklaim bahwa Hizbullah telah mundur puluhan tahun dan kemampuan misilnya hancur. Namun, serangan presisi di Kiryat Shmona dan Haifa, serta kehidupan bawah tanah para pemukim Zionis dari utara hingga pusat Wilayah yang Diduduki, membantah klaim tersebut. Militer Zionis kini dengan ragu-ragu mengakui bahwa melucuti Perlawanan “adalah hal yang mustahil atau akan memakan waktu puluhan tahun”. Kontradiksi antara klaim politik Netanyahu dan laporan lapangan Militer telah membuat para pemukim Zionis, bahkan yang paling setia sekalipun, menyadari bahwa kemenangan atas Perlawanan hanyalah ilusi belaka.
Kesimpulan: Munculnya Tatanan Baru Iran di Cakrawala Regional
Analisis yang dilakukan oleh media dan politisi Zionis menunjukkan bahwa mereka harus menghapus secara permanen istilah “kemenangan mutlak” dari kosakata mereka dan menggantinya dengan “realisme yang pahit.” Israel telah mengakui kenyataan bahwa Iran telah menang, karena Iran tetap teguh, mempertahankan infrastrukturnya, dan tidak membiarkan kehendak pihak-pihak asing menentukan nasibnya.
Netanyahu, dengan kebohongannya, hanyalah menunda waktu, namun kini waktu telah habis demi kepentingan Iran. Hari ini, yang terdengar adalah “gemuruh Iran”, dan musuh tidak punya pilihan selain menerima kekuasaan tak terbantahkan Republik Islam dalam menentukan nasib masa depan Kawasan. Singkatnya, menurut analis dan media Zionis, benteng-benteng Iran tidak hanya tetap tak tertembus, tetapi telah menjadi landasan untuk memaksakan tuntutan Iran kepada AS dan komunitas internasional.
