Barghouti Jadi Sasaran Kekerasan Brutal di Penjara Israel, Desakan Internasional untuk Pembebasannya Kian Menguat
POROS PERLAWANAN – Kekhawatiran terhadap keselamatan Pemimpin Palestina, Marwan Barghouti semakin meningkat setelah laporan terbaru mengungkap bahwa tokoh senior Palestina itu mengalami serangkaian serangan brutal di dalam penjara Israel. Dalam laporan yang dikutip dari Al Mayadeen, Barghouti disebut telah diserang tiga kali hanya dalam kurun waktu tiga minggu, memicu kecaman luas dari keluarga, tim hukumnya, hingga para pendukung internasional.
Menurut kuasa hukumnya, Ben Marmarelli, tindakan kekerasan terhadap Barghouti menunjukkan pola sistematis yang mengkhawatirkan. Ia menegaskan bahwa kliennya mengalami “peningkatan kekerasan yang jelas yaitu kekerasan fisik, pengabaian medis, dan perlakuan yang menempatkannya dalam risiko langsung”.
Marmarelli menjelaskan bahwa pada 25 Maret 2026 lalu, penjaga penjara Israel memasuki sel Barghouti di Penjara Megiddo bersama seekor anjing. Dalam serangan tersebut, Barghouti dipaksa terbaring di lantai sementara anjing itu menyerangnya berulang kali. Kekerasan itu berlanjut keesokan harinya saat ia dipindahkan ke Penjara Ganot.
Tidak berhenti di situ, pada 8 April 2026 Barghouti kembali menjadi korban pemukulan oleh petugas penjara. Ia dilaporkan dibiarkan dalam kondisi berdarah selama lebih dari dua jam tanpa mendapat perawatan medis meski telah berkali-kali memintanya. Perlakuan ini menambah daftar panjang dugaan penyiksaan terhadap tahanan Palestina di penjara-penjara Rezim Pendudukan.
Meski mengalami tekanan fisik dan psikologis berat, Marmarelli mengatakan bahwa Barghouti tetap tegar. “Pikirannya tetap tajam, fokus, dan sangat terlibat dengan segala sesuatu yang terjadi di luar tembok penjara,” ujarnya.
Kondisi ini mendorong gelombang solidaritas internasional yang semakin luas. Pada peringatan 24 tahun penahanan Barghouti, sejumlah tokoh dunia seperti Cate Blanchett, Bryan Adams, dan Don Cheadle bergabung dalam seruan global untuk pembebasannya. Dukungan juga datang dari ratusan budayawan dan mantan pemimpin dunia yang melihat Barghouti sebagai simbol perjuangan rakyat Palestina.
Di Jalur Gaza, para demonstran membawa foto-foto Barghouti dalam berbagai aksi unjuk rasa di kamp-kamp pengungsi, menunjukkan betapa kuatnya posisi simbolis Barghouti di tengah rakyat Palestina. Di Beit Lahm, para seniman Palestina bahkan melukis mural wajahnya di tembok pemisah sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangannya.
Marmarelli memperingatkan bahwa kondisi penjara Israel mencerminkan pengabaian sistematis terhadap tahanan Palestina, termasuk minimnya makanan dan akses layanan kesehatan. Ia menegaskan bahwa “dalam situasi di mana Israel semakin berani melakukan penyiksaan terhadap tahanan, satu-satunya cara untuk melindungi Marwan adalah dengan segera membebaskannya”.
Pengacara itu juga menggambarkan sulitnya komunikasi saat pertemuan terakhir dengan Barghouti. Mereka dipisahkan oleh kaca tanpa sistem telepon yang berfungsi, memaksa keduanya berteriak agar bisa saling mendengar. “Selama Marwan berada di penjara Israel, tidak ada cara untuk menjamin keselamatannya,” tegas Marmarelli.
Kekhawatiran terhadap nasib Barghouti kembali meningkat setelah rekaman langka dirinya dirilis musim panas lalu oleh Menteri Kepolisian Israel sayap kanan, Itamar Ben-Gvir. Rekaman tersebut menjadi penampilan publik pertama Barghouti dalam satu dekade terakhir dan memicu reaksi luas dari keluarga serta para pendukungnya.
Putra Barghouti, Arab Barghouti menyatakan bahwa keluarga sangat khawatir terhadap keselamatan ayahnya dan menyerukan keterlibatan internasional yang lebih besar. Ia menekankan pentingnya dukungan dari kalangan seniman dan tokoh publik.
“Para seniman dan musisi memainkan peran penting dalam membebaskan Nelson Mandela dan mengakhiri apartheid di Afrika Selatan. Kami berharap mereka juga memainkan peran serupa untuk Marwan dan Palestina,” ujarnya.
Marwan Barghouti sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh paling dihormati dalam politik Palestina. Sebagai Pemimpin senior Fatah, ia dipandang luas sebagai simbol persatuan nasional Palestina dan calon kuat penerus Mahmoud Abbas. Sejak ditangkap pada 2002, Barghouti dijatuhi lima hukuman penjara seumur hidup atas tuduhan terkait Intifada Kedua, tuduhan yang selalu ia bantah.
Bagi banyak warga Palestina, penahanan Barghouti bukan sekadar persoalan hukum, melainkan lambang penindasan terhadap perjuangan nasional mereka. Kini, di tengah meningkatnya laporan penyiksaan dan kekerasan, desakan untuk membebaskannya semakin menggema sebagai bagian dari perjuangan yang lebih luas melawan pendudukan Israel.
