Perpecahan di Kongres AS Kian Tajam, Dukungan Demokrat terhadap Israel Mulai Runtuh
POROS PERLAWANAN — Dukungan politik Amerika Serikat terhadap Israel mulai menunjukkan retakan serius. Di tengah berlanjutnya agresi brutal Rezim Zionis di Gaza serta meningkatnya tekanan publik di dalam negeri, semakin banyak anggota Kongres dari Partai Demokrat yang secara terbuka menolak bantuan militer lanjutan untuk Israel, termasuk pendanaan bagi sistem pertahanan udara Iron Dome.
Laporan Axios yang dikutip Al Mayadeen mengungkap bahwa sikap kritis terhadap bantuan militer untuk Israel, yang sebelumnya dianggap sebagai posisi marginal di Partai Demokrat, kini berkembang menjadi arus yang semakin kuat. Pergeseran ini mencerminkan perubahan besar dalam dinamika politik Washington, terutama karena basis pemilih Demokrat makin vokal menuntut penghentian dukungan terhadap agresi Israel.
Sejumlah legislator Demokrat menyatakan bahwa mereka tidak lagi dapat mendukung pengiriman dana tambahan kepada Israel, terutama setelah meningkatnya serangan mematikan terhadap warga sipil Palestina dan memburuknya krisis kemanusiaan di Gaza.
Anggota DPR Jim McGovern menjadi salah satu suara yang menonjol dalam perubahan ini. Ia menyatakan bahwa dirinya “tidak dapat mendukung bantuan militer lebih lanjut”, meskipun sebelumnya pernah mendukung pendanaan Iron Dome. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bahkan para pendukung lama bantuan militer untuk Israel kini mulai mempertanyakan kebijakan Washington.
Senada dengan itu, Anggota Kongres Jared Huffman menilai bahwa penolakan terhadap pendanaan militer bagi Israel bukan lagi sikap minoritas. Menurutnya, kritik terhadap kebijakan AS yang terus menopang Rezim Zionis kini semakin diterima di kalangan Demokrat.
Sikap yang lebih tegas disampaikan oleh Anggota DPR Mark Pocan. Ia menyatakan bahwa Israel tidak membutuhkan lagi uang dari Washington untuk melanjutkan perang. Menurutnya, Rezim tersebut sudah memiliki cukup sumber daya untuk menjalankan agresinya sendiri tanpa harus dibiayai oleh rakyat Amerika.
Pernyataan-pernyataan tersebut menandai perubahan besar dalam peta politik AS. Pada 2021, McGovern, Huffman, dan Pocan termasuk di antara lebih dari 200 anggota Demokrat yang mendukung pendanaan Iron Dome. Saat itu, hanya sedikit legislator progresif yang berani menolak.
Kini situasinya berbeda. Dukungan terhadap Israel tak lagi menjadi konsensus mutlak di tubuh Partai Demokrat. Tokoh progresif seperti Alexandria Ocasio-Cortez bahkan secara terbuka menegaskan bahwa ia tidak akan mendukung bantuan militer untuk Israel di masa depan.
Perubahan sikap ini didorong oleh meningkatnya tekanan dari publik, khususnya kalangan muda dan pemilih progresif yang semakin menentang keterlibatan AS dalam menopang agresi Israel. Mereka menilai bahwa bantuan militer Washington hanya memperpanjang kekerasan dan memperkuat impunitas Rezim Zionis.
Anggota Kongres Ro Khanna mengatakan bahwa perubahan opini publik ini berlangsung sangat cepat. Menurutnya, pergeseran sentimen terhadap Israel di kalangan masyarakat Amerika bahkan lebih cepat dibandingkan banyak perubahan sikap publik pada isu-isu sosial besar lainnya.
Di sisi lain, para pemimpin Kaukus Progresif DPR melihat perubahan ini sebagai bagian dari penataan ulang kebijakan luar negeri Demokrat. Dukungan otomatis kepada Israel tidak lagi dianggap sejalan dengan tuntutan basis pemilih yang semakin kritis terhadap perang dan penjajahan.
Persoalan ini juga mulai memengaruhi kontestasi politik internal Partai Demokrat. Dalam berbagai pemilihan pendahuluan, kandidat yang mengkritik Israel mendapat tekanan besar dari kelompok lobi pro-Israel. Namun di saat yang sama, mereka justru memperoleh dukungan kuat dari pemilih progresif yang mendesak perubahan kebijakan.
Beberapa anggota Kongres mengakui bahwa tekanan dari konstituen kini menjadi faktor penting dalam menentukan sikap mereka. Di banyak distrik yang persaingannya ketat, keberpihakan mutlak kepada Israel kini justru berpotensi menjadi beban politik.
Sementara itu, kalangan konservatif memandang perubahan ini sebagai ancaman bagi hubungan strategis AS-Israel. Dalam opini di The Washington Post, Daniel J. Samet menyebut Partai Demokrat kini bersikap “sangat bermusuhan” terhadap Israel.
Ia menunjuk tokoh seperti Gavin Newsom dan Alexandria Ocasio-Cortez sebagai simbol perubahan tersebut. Newsom sempat menyebut Israel sebagai “semacam negara apartheid” sebelum menarik ucapannya, namun tetap mengkritik keras kepemimpinan Benyamin Netanyahu.
Adapun Ocasio-Cortez secara terbuka menuduh Israel melakukan “genosida di Gaza” dan menyatakan penolakannya terhadap seluruh bantuan militer AS bagi Rezim itu.
Jajak pendapat memperlihatkan bahwa perubahan ini sejalan dengan pergeseran opini publik. Survei NBC News pada Maret menunjukkan bahwa 67 persen pemilih Demokrat lebih bersimpati kepada Palestina, sementara hanya 17 persen yang berpihak kepada Israel.
Data ini memperlihatkan bahwa dukungan tradisional terhadap Israel di kalangan Demokrat terus melemah. Jika tren ini berlanjut, kebijakan luar negeri AS terhadap Israel bisa mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
Retaknya dukungan di Kongres menunjukkan bahwa dominasi politik pro-Israel di Washington tidak lagi kokoh seperti sebelumnya. Gelombang kritik dari internal Partai Demokrat menandai bahwa dukungan tanpa syarat kepada Rezim Zionis kini semakin sulit dipertahankan, sementara solidaritas terhadap Palestina semakin menguat di jantung politik Amerika.
