Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Laporan WSJ: Pentagon Gandeng Produsen Otomotif untuk Produksi Senjata

POROS PERLAWANAN — Departemen Pertahanan Amerika Serikat disebut menggandeng produsen otomotif untuk memproduksi persenjataan setelah stok militer tertekan akibat konflik dengan Iran. Informasi ini dilaporkan The Wall Street Journal (WSJ) pada Rabu 15 April, mengutip sumber militer yang tidak disebutkan namanya.

Menurut laporan tersebut, pejabat Militer AS telah menggelar pembicaraan dengan eksekutif perusahaan otomotif besar seperti General Motors dan Ford tentang produksi senjata dan perlengkapan militer. Diskusi awal disebut telah dimulai sebelum eskalasi konflik pada akhir Februari.

Langkah ini muncul di tengah kekhawatiran atas menipisnya persediaan senjata setelah puluhan hari operasi militer. Pemerintahan Donald Trump juga mendorong industri sipil untuk memperkuat produksi pertahanan.

WSJ menyebut produsen sipil kemungkinan akan menopang kontraktor pertahanan tradisional, termasuk dengan menilai kemampuan beralih cepat ke produksi militer.

Selain itu, Pentagon disebut berdiskusi dengan GE Aerospace dan Oshkosh untuk memperluas kapasitas industri pertahanan.

Seorang pejabat Pentagon mengatakan kepada Reuters bahwa Pemerintah berkomitmen memperluas basis industri militer dengan memanfaatkan teknologi dan kapasitas sipil guna menjaga keunggulan operasional.

Upaya ini sejalan dengan langkah Washington mengisi kembali stok senjata. Bulan lalu, Trump bertemu kontraktor pertahanan utama, sementara awal bulan ini mengusulkan peningkatan anggaran militer hingga US$1,5 triliun.

Analisis Royal United Services Institute pada Maret memperingatkan tekanan logistik dalam konflik, termasuk risiko menipisnya persediaan sistem intersepsi dalam waktu singkat.

Laporan tersebut menilai ketahanan industri kini menjadi faktor kunci dalam strategi, melampaui kinerja di medan tempur.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran berlangsung sejak akhir Februari. Gencatan senjata sementara sempat diberlakukan, namun perundingan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *