Reuters: Rezim Teluk Khawatir Negosiasi AS-Iran Perkuat Kendali Teheran atas Selat Hormuz
POROS PERLAWANAN — Laporan Reuters mengungkap kekhawatiran negara-negara Teluk bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memperkuat kendali Teheran atas Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global.
Menurut laporan yang terbit pada Minggu dan dilansir Al Mayadeen pada Selasa 21 April, para pejabat dan sumber di Kawasan menilai arah pembicaraan mulai bergeser. Fokus tidak lagi pada program rudal Iran atau jaringan sekutunya, melainkan pada batas pengayaan uranium serta pengelolaan pengaruh Iran di Selat Hormuz.
Kekhawatiran meningkat setelah peringatan mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, yang menilai hasil maksimal pembicaraan kemungkinan hanya sebatas pembukaan kembali Selat Hormuz. Bagi negara-negara Teluk, skenario itu dinilai tidak cukup untuk meredakan ketegangan yang lebih luas.
Sumber-sumber Teluk yang dikutip Reuters menyebut pendekatan tersebut berisiko mengukuhkan dominasi Iran atas pasokan energi Kawasan. Stabilitas ekonomi global dinilai menjadi prioritas utama, sementara kepentingan keamanan negara-negara yang paling terdampak justru tersisih dari proses pengambilan keputusan.
Sejumlah pejabat Teluk juga menyoroti perubahan fokus diplomasi. Upaya menekan program rudal Iran disebut mulai ditinggalkan, digantikan dengan pembahasan teknis soal pengayaan uranium serta penerimaan implisit terhadap pengaruh Teheran di Selat Hormuz.
Meskipun perundingan tentang pengayaan uranium masih menemui jalan buntu, termasuk penolakan Iran terhadap kebijakan nol pengayaan dan pengiriman stok ke luar negeri, perubahan prioritas itu sendiri telah memicu kekhawatiran baru di Kawasan.
Seorang sumber Teluk yang dekat dengan lingkaran Pemerintah menyebut Selat Hormuz kini menjadi garis merah.
“Dulu ini bukan isu utama. Sekarang situasinya berubah. Aturannya tidak lagi sama,” ujarnya.
Dari pihak Iran, seorang sumber keamanan tingkat tinggi menyatakan negaranya telah lama menyiapkan skenario penutupan Selat Hormuz. Jalur tersebut disebut sebagai salah satu instrumen paling efektif dalam strategi pertahanan.
Sumber itu menggambarkan Selat Hormuz sebagai aset strategis yang tidak tergantikan karena melekat pada posisi geografis Iran. Sumber lain yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam menyebut batasan lama terkait penggunaan jalur tersebut kini telah berubah, sehingga meningkatkan daya tawar Iran terhadap kekuatan eksternal.
Para analis menilai kekhawatiran utama negara-negara Teluk terletak pada pergeseran fokus pembicaraan. Serangan rudal dan drone yang sebelumnya menjadi ancaman langsung bagi Kawasan kini tidak lagi menjadi prioritas utama, tergantikan oleh isu Selat Hormuz yang berdampak global.
Menurut sumber Teluk, inti persoalan bukan hanya siapa yang menguasai selat, melainkan siapa yang menetapkan aturan pelayaran. Pergeseran ini mencerminkan perubahan dari tatanan berbasis hukum internasional menuju pendekatan berbasis kekuatan.
Dalam konteks itu, para diplomat Kawasan mendorong Washington untuk tidak mencabut sanksi secara penuh terhadap Iran. Mereka mengusulkan pendekatan bertahap guna menguji perubahan perilaku Teheran, mengingat ancaman utama dinilai belum terselesaikan.
Laporan tersebut juga mencatat meningkatnya ketidakpuasan di negara-negara Teluk terhadap kebijakan Amerika Serikat. Sentimen berkisar dari kekecewaan hingga kebingungan atas keputusan sepihak Washington dalam proses diplomasi.
