Hegseth Desak Eropa–Asia Ambil Peran di Hormuz, Kritik Ketergantungan pada AS
POROS PERLAWANAN — Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth menuding negara-negara Eropa dan Asia bergantung pada Washington dalam menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers dan dilaporkan Al Mayadeen pada Sabtu 25 April.
Hegseth menyebut Eropa dan Asia selama puluhan tahun menikmati perlindungan keamanan dari Amerika Serikat. “Eropa dan Asia telah lama memanfaatkan perlindungan Amerika. Saatnya sekutu menunjukkan kemampuan dan komitmen nyata,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah jalur pelayaran di Selat Hormuz terganggu menyusul eskalasi konflik dengan Iran. Hegseth menilai negara-negara mitra tidak cukup hanya mengandalkan posisi politik dan perlu mengambil peran operasional dalam menjaga keamanan maritim.
Pada saat yang sama, Britania Raya dan Prancis menggelar pembahasan tentang pembentukan kekuatan maritim untuk menjamin kebebasan navigasi di kawasan tersebut. London menyebut rencana itu bersifat defensif dan akan dijalankan ketika kondisi memungkinkan.
Hegseth mengkritik langkah tersebut dan menyebutnya tidak memadai. Ia menilai negara-negara Eropa dan Asia memiliki ketergantungan lebih besar terhadap energi dari kawasan Teluk dibandingkan Amerika Serikat, sehingga harus berkontribusi lebih nyata dalam pengamanan jalur tersebut.
Dalam perkembangan terkait, laporan Reuters mengutip pejabat AS yang menyebut Pentagon tengah mempertimbangkan langkah terhadap anggota NATO yang dinilai tidak mendukung operasi Washington terhadap Iran.
Opsi yang dibahas mencakup peninjauan ulang posisi sejumlah sekutu, termasuk kemungkinan penangguhan keanggotaan Spanyol serta evaluasi sikap AS terhadap klaim Britania Raya atas Kepulauan Falkland.
Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden AS, Donald Trump berulang kali mendorong negara-negara NATO untuk terlibat secara militer dalam pengamanan Selat Hormuz bersama Washington. Seruan tersebut belum mendapat respons.
Trump juga melontarkan kritik keras terhadap sekutu-sekutu tersebut dengan menyebut mereka “macan kertas”.
