Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Trump Sebut Ukraina Terus Kehilangan Wilayah di Tengah Perang yang Didukung Senjata Barat

POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, pernyataan kontroversial kembali dilontarkan oleh Donald Trump yang menyoroti dinamika perang berkepanjangan antara Ukraina dan Rusia. Dalam wawancara dengan Salem News Channel, Trump secara gamblang menyebut bahwa Ukraina terus mengalami kemunduran di medan tempur. Ia bahkan menyiratkan bahwa keberlangsungan perang ini tak lepas dari campur tangan Barat yang terus mengucurkan bantuan militer.

“Mereka kehilangan wilayah,” ujar Trump singkat namun tajam, merujuk pada kondisi Ukraina yang menurutnya semakin terdesak. Dalam nada yang tak kalah kritis, ia juga menyebut Volodymyr Zelensky sebagai sosok yang “rumit”, seolah menyiratkan adanya persoalan kepemimpinan di tengah krisis nasional yang kian memburuk.

Di balik pernyataan tersebut, tersirat kritik lebih dalam terhadap strategi geopolitik Washington. Trump menilai bahwa aliran senjata dari Amerika Serikat dan sekutu NATO justru memperpanjang konflik, alih-alih mendorong penyelesaian damai. Ia menegaskan bahwa Pemerintah AS saat ini seharusnya lebih fokus mencari jalan keluar diplomatik ketimbang terus menyuplai kebutuhan perang.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan situasi yang lebih kompleks. Di tengah eskalasi konflik global, khususnya keterlibatan Amerika Serikat dalam perang melawan Iran, tekanan terhadap stok persenjataan Washington semakin nyata. Pentagon bahkan telah mengeluarkan peringatan bahwa sejumlah sekutu utama seperti Inggris, Polandia, dan Jepang berpotensi mengalami penundaan dalam pengiriman senjata canggih.

Sistem-sistem vital seperti HIMARS dan NASAMS kini berada dalam pengawasan ketat, seiring evaluasi ulang terhadap cadangan Militer AS. Prioritas pun mulai bergeser dari mendukung sekutu ke menjaga kesiapan domestik menghadapi potensi konflik lain.

Dampaknya terasa langsung ke Ukraina. Negara yang sudah lama bergantung pada suplai Barat ini kini menghadapi ancaman kekurangan amunisi yang semakin serius. Seorang pejabat tinggi Ukraina mengungkapkan bahwa pengiriman senjata dari AS mulai tersendat sejak Washington meningkatkan keterlibatannya di Timur Tengah.

Data dari Center for Strategic and International Studies memperkuat kekhawatiran ini. Dalam analisis terbarunya, disebutkan bahwa Militer AS telah menghabiskan ribuan unit amunisi canggih selama konflik, termasuk rudal Tomahawk, sistem pertahanan Patriot, dan THAAD. Lebih dari 850 rudal Tomahawk dilaporkan telah digunakan, dengan total biaya mencapai puluhan miliar Dolar.

Pengurasan besar-besaran ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapan jangka panjang Militer AS. Bahkan sebelum eskalasi terbaru, stok persenjataan sudah berada dalam tekanan akibat dukungan berkelanjutan ke Ukraina. Kini, situasinya semakin genting.

Di Washington, perdebatan pun memanas. Para analis mulai mempertanyakan kemampuan AS untuk menghadapi potensi konflik di kawasan lain, terutama di Indo-Pasifik. Ketegangan dengan China terkait Taiwan menjadi bayang-bayang yang tak bisa diabaikan. Jika stok senjata terus menipis, kemampuan deterrence Amerika bisa melemah secara signifikan.

Sementara itu, di Eropa, kekhawatiran serupa turut mencuat. Para diplomat memantau dengan cermat bagaimana konflik AS-Iran akan memengaruhi komitmen Washington terhadap Ukraina. Laporan dari Foreign Policy menyebutkan bahwa ketidakpastian kini menyelimuti aliansi Barat.

“Semuanya akan tergantung pada situasi di sekitar Iran,” ujar seorang diplomat Eropa, mencerminkan kegelisahan yang meluas.

Bagi Ukraina, situasi ini bukan sekadar soal strategi, melainkan soal kelangsungan. Ketika suplai senjata mulai tersendat dan dukungan Barat goyah, pertanyaan besar pun muncul, berapa lama lagi Kiev mampu bertahan dalam perang yang kian timpang ini.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *