Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Gelombang Penolakan Hantam Trump setelah Unggahan “AI Jesus”, 87% Publik AS Bereaksi Negatif

POROS PERLAWANAN – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menuai badai kritik setelah memublikasikan citra berbasis kecerdasan buatan yang menggambarkan dirinya menyerupai figur mesianis. Dikutip Al Mayadeen dari The Washington Post, mayoritas rakyat Amerika disebut mengecam keras unggahan tersebut, yang dinilai sebagai bentuk kultus individu dan eksploitasi simbol agama untuk kepentingan politik.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa sekitar 87 persen warga Amerika memberikan reaksi negatif terhadap gambar AI yang diunggah Trump di platform Truth Social pada 12 April lalu. Bahkan, 69 persen responden menyatakan mereka memiliki reaksi “sangat negatif” terhadap unggahan tersebut.

Gambar kontroversial itu memperlihatkan Trump mengenakan jubah putih-merah, berdiri layaknya penyembuh Ilahi dengan cahaya memancar dari tangannya, sementara bendera Amerika berkibar di belakangnya dan seekor elang melayang di udara. Banyak pengamat menilai visual tersebut secara sengaja membangun citra Trump sebagai figur penyelamat atau “Mesias Amerika”.

Reaksi keras tidak hanya datang dari kubu oposisi Partai Demokrat, tetapi juga dari basis konservatif dan sebagian pendukung Partai Republik sendiri. Tuduhan penghujatan dan manipulasi simbol Kristen segera membanjiri media sosial AS, memaksa unggahan itu dihapus hanya sehari setelah dipublikasikan.

Menanggapi kecaman publik, Trump berusaha meremehkan kontroversi tersebut. Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada 13 April, ia mengeklaim gambar itu sekadar menampilkan dirinya “sebagai dokter” dan terkait dengan simbol Palang Merah.

“Saya pikir itu adalah saya sebagai dokter… hanya media palsu yang bisa membuat narasi seperti itu,” ujar Trump.

Namun menurut survei yang sama, bahkan 80 persen pemilih Trump dan 79 persen anggota Partai Republik tetap memandang negatif unggahan tersebut, menunjukkan retaknya dukungan internal terhadap gaya propaganda visual yang semakin agresif dari Presiden AS itu.

Kontroversi semakin membesar setelah Trump sebelumnya menyerang Paus Leo XIV melalui Truth Social. Trump menuding sang Paus bersikap “lemah” terhadap Iran dan menuduhnya gagal mendukung agenda perang Washington terhadap Teheran.

Paus Leo XIV, yang belakangan dikenal vokal menentang eskalasi militer AS di Asia Barat, menolak tunduk pada tekanan politik Gedung Putih. Dalam tanggapannya, Paus menegaskan dirinya “tidak takut terhadap Pemerintahan Trump” dan akan terus menyuarakan pesan Injil tentang perdamaian dan keadilan.

Trump kemudian kembali memancing kontroversi dengan membagikan gambar AI lain yang memperlihatkan dirinya dipeluk Yesus di tengah cahaya malaikat dan simbol-simbol patriotik Amerika. Langkah itu dinilai para pengkritik sebagai upaya memperdalam kultus personal di tengah menurunnya legitimasi politiknya.

Sementara itu, jajak pendapat menunjukkan posisi Paus Leo justru memperoleh simpati luas di kalangan publik AS. Sekitar 66 persen warga Amerika mendukung seruan Paus agar rakyat mendesak Kongres bekerja demi perdamaian dan menolak perang. Di kalangan umat Katolik Amerika, dukungan terhadap Paus bahkan mencapai 70 persen.

Sebaliknya, tingkat persetujuan publik terhadap Trump terus merosot. Survei terbaru mencatat approval rating Trump turun menjadi 37 persen, jauh merosot dibandingkan Februari 2025 lalu.

Di tengah ketegangan tersebut, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio dijadwalkan bertemu Paus Leo XIV di Vatikan. Pertemuan itu berlangsung dalam suasana hubungan yang semakin tegang antara Washington dan Gereja Katolik, terutama setelah kritik terbuka Vatikan terhadap perang AS dan kebijakan anti-imigran Pemerintahan Trump.

Meski Rubio berusaha menggambarkan pertemuan itu sebagai agenda diplomatik rutin, banyak pengamat melihatnya sebagai upaya Gedung Putih meredam keretakan yang semakin terbuka antara kekuasaan politik Amerika dan otoritas moral Vatikan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *