Militer Iran Peringatkan AS agar Tak Gunakan Negosiasi sebagai Alat Tipu
POROS PERLAWANAN — Press TV pada Rabu (6/5/26), melaporkan bahwa Angkatan Bersenjata Iran menyatakan siap memberikan “kekalahan memalukan” kepada Amerika Serikat dan sekutunya apabila Washington menggunakan jalur negosiasi dengan Teheran sebagai kedok untuk melanjutkan tekanan maupun agresi militer terhadap Republik Islam tersebut.
Juru Bicara Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak salah menghitung kekuatan militer Iran. Menurutnya, setiap upaya untuk menguji kapasitas pertahanan Teheran pada akhirnya selalu berujung kegagalan.
“Setiap kali musuh mencoba menguji kekuatan kami, mereka gagal,” kata Shekarchi. “Jika intimidasi terus dilakukan, kami akan mengalahkan mereka dengan cara yang memalukan, dan itu sudah pernah terjadi.”
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia menyusul penghentian mendadak operasi militer Amerika Serikat yang diklaim bertujuan melemahkan kontrol Iran atas Selat Hormuz.
Dalam perkembangan yang disebut dramatis, Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengatakan bahwa operasi militer yang diluncurkan kurang dari 48 jam sebelumnya dihentikan berdasarkan “kesepakatan bersama”. Trump menyebut terdapat “kemajuan besar” menuju kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran.
Namun Shekarchi menilai Washington berpotensi memanfaatkan proses negosiasi sebagai instrumen penipuan politik dan strategis.
Ia juga menyinggung mundurnya Amerika Serikat dari proyek yang disebut “Project Freedom” di Teluk Persia. Menurutnya, Iran akan memberikan respons tegas terhadap setiap tindakan bermusuhan karena angkatan bersenjata negara itu berada dalam posisi strategis yang “kuat dan unggul”.
Di sisi lain, pemerintah Iran menyatakan proposal Amerika Serikat yang disampaikan melalui mediasi Pakistan masih dalam tahap peninjauan. Teheran disebut akan menyampaikan tanggapan resminya melalui Islamabad setelah proses evaluasi selesai dilakukan.
Kantor berita Tasnim News Agency, mengutip sumber yang mengetahui proses tersebut, melaporkan bahwa Iran belum memberikan jawaban resmi karena sejumlah poin dalam proposal Washington dianggap tidak dapat diterima.
Pernyataan terbaru pejabat militer Iran menunjukkan bahwa ruang diplomasi antara Teheran dan Washington masih terbuka, namun berlangsung dalam suasana saling curiga dan tekanan militer yang tetap tinggi di kawasan strategis Timur Tengah.
