Ulama Bahrain Peringatkan Dinasti Al Khalifa Bisa Runtuh jika Represi Terus Berlanjut
POROS PERLAWANAN — Seorang ulama oposisi terkemuka Bahrain, Sheikh Abdullah al-Daqaq, memperingatkan Dinasti Al Khalifa terancam runtuh apabila terus meningkatkan tindakan represif terhadap warga, di tengah gelombang penangkapan ulama Syiah setelah dimulainya kampanye militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Menurut laporan Press TV pada Kamis, (14/5/2026), dalam konferensi pers, Daqaq mengatakan penggunaan penyiksaan, penuntutan hukum, hingga pencabutan kewarganegaraan secara sistematis menunjukkan Bahrain sedang menghadapi krisis politik dan hukum yang mendalam.
Menurutnya, otoritas Manama selama bertahun-tahun menggunakan pencabutan kewarganegaraan terhadap aktivis dan ulama yang dianggap mengancam keamanan negara.
“Kondisi saat ini menunjukkan kedalaman krisis politik dan hukum dalam rezim yang berkuasa,” kata Daqaq seperti dikutip media oposisi Bahrain.
Daqaq juga mendesak organisasi hak asasi manusia internasional mengambil peran lebih aktif untuk memantau situasi di Bahrain.
Ia secara khusus mengecam tuduhan terbaru terhadap ulama senior Syiah Bahrain, Ayatullah Sheikh Isa Qasim, sebagai tuduhan yang sepenuhnya tidak berdasar. Sheikh Isa Qasim diketahui telah dicabut kewarganegaraannya oleh pemerintah Bahrain sejak 2016 dan kerap menjadi sasaran kritik pemerintah.
“Menargetkan tokoh agama dan tokoh nasional seperti ini hanya akan memperkuat tekad rakyat Bahrain,” ujarnya.
Daqaq memperingatkan pemerintah Bahrain agar segera menghentikan kebijakan tekanan dan penghapusan terhadap warga.
“Jika Al Khalifa tidak segera meninjau kembali tindakan permusuhan terhadap rakyat dan menghentikan kebijakan penindasan, mereka tidak akan menghadapi nasib lain selain keruntuhan,” katanya.
Peringatan itu muncul ketika Bahrain mengambil sikap paling keras di antara negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk terhadap Iran, menyusul operasi rudal dan drone Teheran terhadap aset militer Amerika Serikat dan Israel di Asia Barat.
Bahrain sendiri merupakan sekutu utama Washington di kawasan dan menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat.
Sejak akhir April, aparat keamanan Bahrain dilaporkan menangkap puluhan ulama Syiah, termasuk Jamil al-A’ali, Mahmoud al-A’ali, Radhi al-Qaffas, dan Jassim al-Mu’min, tanpa penjelasan resmi mengenai tuduhan terhadap mereka. Aktivis menyebut lokasi penahanan para ulama tersebut hingga kini tidak diketahui.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain pada 9 Mei lalu menyatakan pihak berwenang menahan 41 orang dengan tuduhan memiliki hubungan dengan IRGC. Namun pemerintah tidak memberikan rincian mengenai aktivitas yang dituduhkan.
Pada 27 April, pemerintah Bahrain juga mencabut kewarganegaraan 69 orang beserta anggota keluarga mereka dengan tuduhan mendukung serangan Iran terhadap aset Amerika Serikat dan Israel.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia internasional berulang kali mengkritik praktik pencabutan kewarganegaraan di Bahrain yang dinilai sebagai bentuk hukuman kolektif dan bertentangan dengan hukum internasional.
