Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Aktivis Anti-Perang AS: Perang Amerika-Israel terhadap Iran Dipicu Kepentingan Korporasi dan Lobi Zionis

POROS PERLAWANAN — Aktivis anti-perang Amerika Serikat, Mike Ferner menilai perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran bukan didorong isu senjata nuklir, melainkan kepentingan korporasi, industri persenjataan, dan kontrol atas minyak Iran.

Dalam wawancara dengan Press TV yang dipublikasikan pada Minggu 17 Mei, Ferner menyebut kebijakan luar negeri Washington sangat dipengaruhi perusahaan besar dan lobi Zionis.

“Perang ini dianggap perlu jika Anda memahami bahwa Amerika adalah sebuah imperium dan korporasi-korporasi besar mengendalikan Pemerintahannya dengan pengaruh kelompok Zionis,” kata Ferner.

Mantan Direktur Nasional organisasi Veterans For Peace itu menyebut industri persenjataan melihat perang sebagai peluang ekonomi bernilai miliaran Dolar.

“Perusahaan pembuat senjata melihat perang ini sebagai kesempatan menghasilkan miliaran Dolar. Perusahaan minyak melihatnya sebagai cara untuk kembali menguasai minyak Iran. Korporasi-korporasi inilah yang pada dasarnya mengendalikan kebijakan luar negeri kami,” ujarnya.

Ferner juga menyinggung kegagalan jalur diplomasi setelah Pemerintahan Donald Trump keluar dari perjanjian nuklir Iran pada 2015.

“Sudah ada kesepakatan yang berjalan dan Trump tidak akan mampu menggantinya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa rakyat Iran menjadi pihak yang paling menderita akibat konflik berkepanjangan, sementara jutaan warga Amerika sendiri masih kesulitan mendapatkan layanan kesehatan.

Dalam wawancara tersebut, Ferner juga menanggapi pandangan sejumlah analis dan pejabat Amerika yang menilai Trump terseret ke dalam perang akibat tekanan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu.

“Saya tidak akan terkejut jika itu benar,” katanya.

Ferner menilai tujuan utama perang bukanlah menghentikan program nuklir Iran, melainkan mendorong perubahan rezim di Teheran.

“Itu adalah upaya mengganti Pemerintahan Iran dengan sosok yang mirip Shah,” ujarnya, merujuk pada monarki Pahlavi yang didukung Barat sebelum Revolusi Islam Iran 1979.

Namun, menurut Ferner, skenario tersebut sulit diwujudkan dalam kondisi Iran saat ini.

Ia juga menyebut perang berkepanjangan akan semakin membebani Amerika Serikat secara ekonomi, politik, dan lingkungan.

“Amerika tidak mampu melanjutkan perang ini, baik secara ekonomi, politik, maupun lingkungan,” katanya.

Menjelang Piala Dunia FIFA 2026 dan Pemilu sela Amerika Serikat, Ferner menilai tekanan domestik terhadap Washington akan terus meningkat apabila konflik terus meluas.

Di akhir wawancara, Ferner melontarkan kritik keras terhadap sistem politik Amerika.

“Ini sebuah tragedi. Inilah yang terjadi ketika rakyat tidak benar-benar mengendalikan pemerintahannya dan justru menyerahkannya kepada korporasi dan orang-orang gila,” ujarnya.

Tags: