Parlemen Iran Desak Negara Teluk Usir Pasukan AS Sebelum Konflik Meledak
POROS PERLAWANAN — Parlemen Iran melontarkan peringatan keras kepada negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia agar segera mengakhiri kehadiran Militer Amerika Serikat di wilayah mereka sebelum kemungkinan pecahnya konfrontasi baru antara Washington dan Teheran.
Peringatan tersebut disampaikan Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, di tengah meningkatnya retorika perang dari Presiden AS Donald Trump setelah perundingan tidak langsung antara kedua negara kembali menemui kebuntuan.
Menurut laporan Press TV pada Rabu (20/5/2026), Rezaei menegaskan negara-negara kawasan memiliki waktu yang sama dengan tenggat yang diberikan Washington sebelum kemungkinan serangan baru terhadap Iran terjadi.
“Selama Trump memberikan tenggat untuk serangan berikutnya, negara-negara kawasan juga memiliki waktu yang sama untuk mengumumkan dan melaksanakan pengusiran permanen pasukan Amerika dari negara mereka. Jangan mengeluh nanti,” kata Rezaei.
Pernyataan itu menjadi salah satu sinyal paling terbuka dari parlemen Iran tentang kemungkinan meluasnya dampak konflik ke negara-negara yang menjadi basis Militer Amerika di kawasan Teluk.
Rezaei juga menegaskan strategi Iran untuk menekan posisi politik dan ekonomi Pemerintahan Trump akan melibatkan sejumlah negara yang dinilai memfasilitasi keberadaan Militer Washington.
“Rencana kami untuk membuat Trump bangkrut secara politik dan ekonomi melewati sebagian negara-negara tersebut,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump dalam beberapa hari terakhir kembali mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran apabila jalur diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan sesuai tuntutan Washington.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi juga memperingatkan bahwa setiap upaya menghidupkan kembali perang melawan Iran akan membawa “kejutan yang jauh lebih besar” bagi Amerika Serikat.
Gelombang ketegangan terbaru bermula ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara baru terhadap Iran pada 28 Februari 2026, delapan bulan setelah operasi militer sebelumnya yang juga memicu eskalasi regional.
Iran kemudian membalas melalui rentetan serangan rudal dan drone ke Wilayah Pendudukan Israel serta pangkalan dan kepentingan Amerika Serikat di berbagai titik Timur Tengah.
Pada 8 April 2026, gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan mulai diberlakukan antara Iran dan Amerika Serikat. Namun, proses negosiasi lanjutan di Islamabad dilaporkan kembali mengalami kebuntuan akibat tuntutan berlebihan Washington yang dinilai Teheran tidak realistis dan bersifat sepihak.
Pernyataan terbaru parlemen Iran memperlihatkan bahwa ketegangan geopolitik di Teluk Persia masih berada pada fase rapuh. Kehadiran pangkalan militer Amerika di negara-negara Arab kini kembali menjadi titik sensitif dalam konfrontasi strategis antara Teheran dan Washington, terutama di tengah meningkatnya ancaman perang terbuka di Kawasan.
