Analis Qatar: Trump Mundur Selangkah demi Selangkah di Hadapan Iran
POROS PERLAWANAN – Analis di Royal United Services Institute for Defence and Security Studies (RUSI) Inggris dan dosen Kebijakan Publik di Universitas Hamad bin Khalifa, Sultan Barakat mengatakan, Iran semakin percaya diri dalam negosiasi dengan Amerika Serikat dan bahwa waktu berpihak pada Teheran, bukan Washington.
Diberitakan Fars, saat diwawancarai al-Jazeera, Barakat menambahkan bahwa masalah keuangan tetap menjadi bagian dari negosiasi, terutama aset Iran yang dibekukan di luar negeri dan dana yang disimpan di China.
“Uang sungguhan yang diinginkan Iran adalah uang yang saat ini disimpan di China. Jumlahnya lebih dari $40 miliar sebagai imbalan atas minyak yang sebelumnya diekspor Iran ke China,” tandasnya.
Barakat menjelaskan, Iran tidak menganggap kelangsungan hidupnya saat ini bergantung pada akses ke dana tersebut. Ia mengatakan, “Mereka saat ini tidak membutuhkan uang tunai untuk menunjukkan bahwa mereka mampu menahan serangan AS. Hal itu sudah dilakukan.”
Menurutnya, perimbangan negosiasi telah bergeser ke arah yang menguntungkan Teheran, yang membuat Washington secara bertahap mundur dari tuntutan-tuntutan sebelumnya.
“Awalnya, Trump secara terbuka berkata: ‘ini adalah garis merah, mereka harus melakukan satu, dua, tiga, empat hal, nol pengayaan, nol apa pun, mereka harus menerima syarat kami.’ Namun, yang kita lihat dalam beberapa minggu terakhir adalah dia mundur selangkah demi selangkah,” kata Barakat.
Ia menyatakan bahwa Trump dihadapkan pada dilema yang sulit dalam melanjutkan negosiasi dengan Iran. ia memandang bahwa posisi Washington telah melemah, dan Trump enggan untuk terlibat lebih banyak dalam konfrontasi melawan Iran.
“Dia tidak siap untuk berperang, terutama menjelang Piala Dunia. Hal terakhir yang dia inginkan adalah perang selama Piala Dunia.”
Barakat mengatakan, Trump tetap berada di bawah tekanan untuk mencapai kesepakatan sementara dengan Teheran. Dia juga menambahkan bahwa Israel tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan kemungkinan kemajuan diplomatik. Menurut analis tersebut, kemajuan dalam negosiasi tampaknya tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.
“Israel, seperti yang Anda lihat di Lebanon, menggunakan AS untuk menahan Iran sebanyak mungkin agar dapat menyelesaikan urusannya di Lebanon.”
Di sisi lain, imbuhnya, Teheran terus mengaitkan kesepakatan yang lebih luas dengan perkembangan di Lebanon, sambil menambahkan bahwa Iran telah berulang kali menekankan bahwa gencatan senjata di Lebanon harus menjadi bagian dari paket ini.
