Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Dari Hormuz ke Mediterania, UEA Cari Jalur Baru Kurangi Ketergantungan pada Iran

POROS PERLAWANAN — Perang terbaru Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kembali membuka kerentanan strategis Uni Emirat Arab (UEA). Di tengah ambisi Abu Dhabi membangun diri sebagai pusat perdagangan dan logistik regional, ekonomi negara itu tetap bergantung pada keamanan Selat Hormuz yang kini berada di bawah pengaruh kuat Iran.

Tulisan analisis geopolitik, Qabus Zafarani yang dipublikasikan Farsnews Agency pada Sabtu 30 Mei, menunjukkan langkah agresif UEA memperluas investasi di Suriah dan kawasan pesisir Mediterania bukan semata proyek ekonomi pascaperang. Abu Dhabi dinilai tengah berupaya membangun jalur alternatif perdagangan dan energi guna mengurangi ketergantungan strategisnya terhadap Selat Hormuz.

Namun perkembangan terbaru Kawasan memperlihatkan bahwa strategi tersebut masih menghadapi hambatan geopolitik besar.

Selama dua dekade terakhir, UEA berusaha memosisikan diri sebagai pusat perdagangan, investasi, dan logistik utama di Timur Tengah. Akan tetapi, eskalasi konflik terbaru serta respons militer Iran terhadap berbagai titik serangan memperlihatkan betapa rentannya posisi ekonomi UEA terhadap dinamika keamanan Teluk Persia.

Dari sudut pandang pengambil kebijakan di Abu Dhabi, kontrol keamanan Iran atas Selat Hormuz berpotensi langsung memengaruhi arus perdagangan, ekspor energi, dan stabilitas ekonomi negara tersebut.

Suriah Jadi Poros Strategi Baru Abu Dhabi

Dalam kerangka itu, Suriah kini dipandang UEA bukan lagi sebagai pasar rekonstruksi pascaperang, melainkan simpul geopolitik yang dapat menghubungkan Teluk Persia dengan Mediterania dan pasar Eropa.

Investasi besar UEA di sektor pelabuhan, energi, transportasi, telekomunikasi, hingga layanan finansial Suriah dinilai menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan jalur perdagangan alternatif di luar Hormuz.

Salah satu proyek terbesar adalah kontrak senilai 800 juta Dolar AS milik Dubai Ports World untuk pengembangan Pelabuhan Tartus selama 30 tahun. Bagi Abu Dhabi, Tartus bukan hanya pelabuhan dagang, melainkan bagian dari rantai pengaruh maritim UEA dari Teluk Persia hingga Mediterania timur.

Selain Tartus, Pelabuhan Latakia juga mulai menjadi pusat investasi UEA. Perusahaan-perusahaan seperti Emaar dan Eagle Hills ikut masuk ke proyek rekonstruksi perkotaan, pengembangan kawasan pesisir, dan pembangunan infrastruktur bernilai miliaran Dolar.

Namun dimensi paling strategis justru berada pada investasi di sektor data dan komunikasi. Abu Dhabi memperluas keterlibatan dalam proyek serat optik, jaringan telekomunikasi, infrastruktur finansial, dan sistem pembayaran digital Suriah.

Dalam lanskap geopolitik modern, penguasaan data dan jalur komunikasi dinilai sama pentingnya dengan kontrol atas pelabuhan dan jalur energi.

Dimensi Keamanan dan Pengaruh Regional

Sejumlah analis Kawasan menilai keterlibatan UEA di Suriah tidak dapat dipisahkan dari dimensi keamanan dan kerja sama strategisnya dengan Israel pasca-Abraham Accords.

Menurut analisis tersebut, penguasaan pelabuhan, jaringan logistik, serta infrastruktur komunikasi dapat memberi akses lebih luas terhadap data perdagangan dan informasi strategis Kawasan.

Dalam konteks itu, pelabuhan dan jaringan digital tidak lagi hanya menjadi fasilitas ekonomi, tetapi juga instrumen pengaruh geopolitik dan keamanan.

UEA dalam beberapa tahun terakhir juga memainkan peran sebagai mediator tidak langsung antara Damaskus dan Tel Aviv, sembari berusaha memperkuat posisinya dalam konfigurasi baru Suriah.

Mimpi Keluar dari Hormuz Masih Jauh

Meski investasi UEA di Suriah terus membesar, sejumlah hambatan mendasar dinilai membuat strategi tersebut sulit menggantikan peran Hormuz dalam waktu dekat.

Hambatan pertama adalah realitas geopolitik Kawasan. Iran berulang kali menegaskan setiap titik yang digunakan untuk mengancam keamanan nasionalnya dapat menjadi target balasan dalam kerangka pertahanan diri. Artinya, memindahkan sebagian infrastruktur energi atau logistik ke Suriah tidak otomatis mengeluarkan UEA dari lingkar tekanan geopolitik Iran.

Faktor kedua adalah waktu. Proyek seperti Tartus, Latakia, dan koridor energi baru membutuhkan investasi jangka panjang dan stabilitas politik bertahun-tahun sebelum dapat berfungsi optimal.

Namun tantangan terbesar berada di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Jalur alternatif yang menghubungkan Teluk Persia dengan Mediterania tetap bergantung pada keamanan kawasan tersebut yang dalam beberapa tahun terakhir dipengaruhi konflik Yaman.

Kelompok Ansharullah Yaman sebelumnya telah memperingatkan bahwa Laut Merah tidak akan dibiarkan digunakan untuk kepentingan Israel atau melawan Poros Perlawanan. Serangan drone dan rudal terhadap Abu Dhabi pada Januari 2022 menjadi pengingat bahwa Bab el-Mandeb juga dapat berubah menjadi titik tekanan strategis seperti Hormuz.

Karena itu, banyak analis menilai investasi besar UEA di Suriah lebih mencerminkan kekhawatiran strategis Abu Dhabi terhadap posisi Iran dibanding tanda keberhasilan keluar dari ketergantungan pada Selat Hormuz.

Bagi UEA, Suriah mungkin dapat mengurangi sebagian tekanan geopolitik. Namun dalam waktu dekat, jalur Mediterania masih belum mampu menggantikan arti vital Hormuz bagi ekonomi dan perdagangan negara tersebut.

Tags: