Reaktor Nuklir Modular Kecil Disebut Jadi Masa Depan Energi Iran di Tengah Ancaman Serangan
POROS PERLAWANAN — Iran mulai menempatkan pengembangan reaktor nuklir modular kecil atau Small Modular Reactors (SMR) sebagai strategi utama ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya ancaman serangan terhadap infrastruktur vital negara tersebut.
Laporan Press TV pada Senin 1 Juni, menyebut serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas energi Iran, termasuk beberapa serangan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr, justru memperkuat keyakinan Teheran untuk mempercepat diversifikasi dan desentralisasi sistem energi nasional.
Menurut laporan itu, kekuatan utama sistem kelistrikan Iran terletak pada penyebaran geografis pembangkit listrik dan integrasi jaringan nasional yang memungkinkan distribusi energi tetap berjalan meski terjadi serangan di titik tertentu.
Iran saat ini mengandalkan kombinasi pembangkit termal, hidroelektrik, tenaga angin, surya, dan nuklir dalam sistem energi nasionalnya. Sebagian besar pembangkit listrik juga dibangun dalam skala kecil dan tersebar di berbagai wilayah negara tersebut.
Strategi itu dinilai membuat Iran lebih tahan terhadap tekanan eksternal, sanksi ekonomi, maupun serangan militer karena pasokan listrik tidak bergantung pada satu fasilitas raksasa yang rentan lumpuh akibat satu serangan.
Dalam konteks itulah, teknologi reaktor modular kecil mulai dipandang sebagai bagian penting dari masa depan energi Iran.
Juru Bicara Organisasi Energi Atom Iran, Behrouz Kamalvandi, dalam pertemuan Komisi Bersama Iran-Rusia pada Minggu lalu mengatakan bahwa masa depan energi nuklir berada pada pengembangan reaktor kecil. Ia menyebut protokol kerja sama pembangunan reaktor tersebut bersama Rusia akan segera difinalisasi.
Perusahaan energi nuklir Rusia, Rosatom, sebelumnya juga mengumumkan penandatanganan nota kesepahaman dengan Iran tentang pembangunan pembangkit nuklir skala kecil di berbagai wilayah Iran.
Kamalvandi menegaskan Iran memiliki sumber daya manusia dan kapasitas teknis yang cukup untuk mengembangkan teknologi tersebut bersama Rusia. Pemerintah Iran juga menaikkan target produksi listrik berbasis nuklir menjadi 20 ribu megawatt, angka yang disebut hanya dapat dicapai melalui pembangunan puluhan reaktor besar atau ratusan unit reaktor modular kecil.
Secara ekonomi, SMR dianggap lebih efisien dibandingkan pembangkit konvensional. Reaktor jenis ini umumnya memiliki kapasitas di bawah 300 megawatt dan dapat diproduksi di pabrik sebelum dipasang langsung di lokasi operasional.
Laporan tersebut menyebut pembangunan satu reaktor kecil hanya memerlukan waktu sekitar 10 hingga 12 bulan, lebih cepat dibandingkan pembangunan pembangkit gas berskala kecil. Produksi massal juga diperkirakan mampu menekan biaya hingga 30 persen.
Satu reaktor berkapasitas 100 megawatt disebut mampu memasok listrik bagi sekitar 100 ribu rumah dengan emisi karbon yang sangat rendah. Bagi Iran yang menghasilkan sekitar 180 juta ton emisi karbon monoksida setiap tahun, teknologi itu dipandang sebagai solusi energi jangka panjang yang lebih ramah lingkungan.
Laporan itu juga menyoroti dukungan kuat mendiang Pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Ali Khamenei, terhadap konsep reaktor modular kecil sejak beberapa tahun lalu.
Dalam pertemuan dengan pakar industri nuklir pada 2022, Imam Ali Khamenei disebut telah menekankan pentingnya pembangunan pembangkit listrik kecil di berbagai sektor nasional. Ia memandang fasilitas energi besar dan terpusat sebagai target yang rentan terhadap serangan militer maupun siber.
Sebaliknya, reaktor modular kecil dianggap lebih fleksibel karena dapat dipasang di berbagai wilayah dengan ketergantungan lebih rendah terhadap jaringan transmisi besar yang mudah diserang.
Di tengah meningkatnya persaingan teknologi energi di Kawasan, Iran juga melihat pengembangan SMR sebagai bagian dari perebutan posisi strategis global. Sejumlah negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kini juga mulai mengembangkan teknologi serupa untuk memperkuat ketahanan energi mereka.
Bagi Teheran, pengembangan reaktor modular kecil bukan hanya proyek energi, melainkan bagian dari strategi geopolitik jangka panjang untuk menjaga stabilitas nasional di tengah ancaman perang, sabotase, dan tekanan internasional yang terus meningkat.
