Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Araghchi: Iran Tidak Menginginkan Perang, tetapi Siap Melanjutkan Pertahanan Jika Diperlukan

POROS PERLAWANAN — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang, namun siap mempertahankan diri dan melanjutkan perlawanan jika diperlukan. Pernyataan itu disampaikan di tengah masih berlangsungnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pascakonflik yang berlangsung dari akhir Februari hingga awal April lalu.

Menurut laporan Press TV, Rabu (3/6/2026), Araghchi mengatakan Iran tetap menginginkan perdamaian, tetapi perdamaian yang bermartabat dan tidak dibangun di atas tekanan maupun agresi.

“Kami tidak pernah menginginkan perang. Kami menginginkan perdamaian, tetapi perdamaian yang terhormat,” kata Araghchi dalam wawancara dengan jaringan televisi Lebanon Al Mayadeen.

Namun, ia menegaskan Iran memiliki kemampuan untuk melanjutkan konfrontasi apabila diperlukan.

“Kami siap melanjutkan perang, baik dari sisi kemampuan militer, persatuan nasional, maupun tekad untuk menghadapi agresi,” ujarnya.

Araghchi menilai kemampuan militer Iran justru menguat setelah konflik terbaru dengan Amerika Serikat dan Israel.

“Posisi militer kami bahkan lebih kuat dibanding sebelum perang. Produksi militer tetap berjalan selama agresi berlangsung dan mereka tidak mampu menghentikannya,” katanya.

Menurutnya, Iran memiliki kapasitas untuk mempertahankan konflik selama diperlukan. Namun, perang tidak akan berlanjut apabila semua pihak memilih jalur rasional.

“Jika akal sehat yang menang, perang tidak akan kembali terjadi,” ujarnya.

Persepsi Baru AS terhadap Iran

Araghchi mengatakan konflik terbaru telah mengubah cara pandang Amerika Serikat terhadap kekuatan Iran.

“Amerika Serikat kini memahami secara nyata kekuatan sebenarnya yang dimiliki Iran,” katanya.

Ia menilai Washington gagal mencapai sejumlah tujuan utama selama konflik, termasuk tuntutan awal berupa penyerahan tanpa syarat dari Iran.

Araghchi merujuk pada serangkaian serangan balasan yang dilakukan Angkatan Bersenjata Iran hingga akhirnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata sepihak pada 7 April.

Negosiasi Belum Berjalan Formal

Mengenai hubungan Iran dan Amerika Serikat, Araghchi mengatakan belum ada proses negosiasi formal yang sedang berlangsung meskipun komunikasi antara kedua pihak masih terbuka.

“Kedua belah pihak masih melakukan komunikasi, tetapi dalam beberapa hari terakhir belum menghasilkan kemajuan yang berarti,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa masing-masing pihak masih meninjau berbagai kerangka yang ada sebelum memutuskan kemungkinan dimulainya kembali perundingan.

Menurut Araghchi, setiap proses diplomatik harus berlandaskan kepentingan nasional Iran, hak-hak rakyat Iran, serta tujuan mengakhiri konflik di Iran dan Lebanon.

Lebanon dan Peran Hizbullah

Dalam wawancara tersebut, Araghchi juga menegaskan bahwa Iran memandang penghentian agresi di Lebanon sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari setiap upaya penyelesaian konflik yang lebih luas.

“Kami tidak memisahkan nasib perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dari perkembangan yang terjadi di Lebanon,” katanya.

Menurutnya, penghentian perang harus berlaku di kedua wilayah secara bersamaan.

Araghchi juga menolak anggapan bahwa penghentian sementara serangan terhadap Beirut terjadi karena campur tangan Presiden Donald Trump.

“Yang menghentikan situasi perang dalam beberapa hari terakhir adalah kekuatan perlawanan, kekuatan Angkatan Bersenjata Iran, dan perlawanan di Lebanon,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa Iran telah memperingatkan Amerika Serikat mengenai konsekuensi jika Beirut menjadi sasaran serangan.

“Kami menyampaikan kepada pihak Amerika bahwa jika Beirut diserang, kami tidak akan menerimanya sama sekali. Dari sudut pandang kami, gencatan senjata akan dianggap berakhir dan Angkatan Bersenjata Iran akan merespons,” katanya.

Mengenai Hizbullah, Araghchi menegaskan bahwa kelompok tersebut tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sosial, politik, dan pertahanan Lebanon.

“Dunia harus menerima kenyataan itu. Tidak seorang pun dapat mengabaikan atau menghapus keberadaan Hizbullah,” ujarnya.

Menurut Araghchi, ketahanan kelompok perlawanan tersebut tidak bergantung pada satu figur tertentu.

“Perlawanan adalah sebuah cita-cita. Perlawanan tidak bergantung pada satu individu,” katanya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *