Susan Rice: AS Kini Bernegosiasi dengan Iran dari Posisi yang Jauh Lebih Lemah
POROS PERLAWANAN — Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Susan Rice, mengkritik kebijakan militer Washington terhadap Iran. Menurutnya, tindakan tersebut justru memperburuk situasi dan membuat Amerika Serikat kembali ke meja perundingan dari posisi yang lebih lemah.
Dalam wawancara dengan Bill Maher yang dikutip Fars News Agency pada Sabtu (6/6/2026), Rice menegaskan bahwa Iran mematuhi komitmennya dalam Perjanjian Nuklir 2015 atau JCPOA sebelum Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan tersebut pada 2018.
Rice mengatakan kepatuhan Iran terhadap JCPOA telah dikonfirmasi oleh komunitas intelijen Amerika Serikat maupun Israel. Selain itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) secara rutin melakukan inspeksi terhadap fasilitas nuklir Iran.
“Ketika Amerika Serikat keluar dari perjanjian itu, kesepakatan tersebut sedang dijalankan sepenuhnya,” kata Rice.
Menurutnya, keputusan Washington meninggalkan JCPOA justru memberikan ruang bagi Iran untuk meningkatkan kemampuan strategisnya. Ia menyebut Iran kini memiliki cadangan uranium yang diperkaya dalam jumlah besar, program rudal yang lebih maju, serta pengaruh yang signifikan terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Rice juga mempertanyakan efektivitas tindakan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Ia menilai operasi tersebut gagal mencapai tujuan utama Washington, baik terkait program nuklir, program rudal, maupun pengaruh regional Iran.
“Kami justru membuat situasi menjadi lebih buruk,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak berhasil menghancurkan kemampuan militer Iran dan kini harus kembali ke jalur diplomasi dengan posisi tawar yang lebih rendah dibanding sebelumnya.
Rice bahkan meragukan Washington dapat memperoleh kesepakatan yang setara dengan JCPOA 2015. Menurutnya, jika pemerintahan Amerika Serikat mampu mencapai perjanjian yang kualitasnya setara dengan kesepakatan sebelumnya, hal itu akan menjadi kejutan besar.
Kritik terhadap kebijakan militer Amerika Serikat terhadap Iran tidak hanya datang dari Rice. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah analis dan politikus Amerika turut mempertanyakan dampak strategis dan ekonomi dari konflik tersebut, termasuk konsekuensinya terhadap stabilitas kawasan dan perekonomian global.
