Iran: Nota Kesepahaman dengan AS Tercapai Dibarengi Ketidakpercayaan Penuh terhadap Musuh
POROS PERLAWANAN – Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa teks nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat telah difinalisasi, menyusul diterimanya seluruh usulan perbaikan terakhir dari pihak Iran. Menurutnya, penandatanganan resmi dokumen tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat 19 Juni mendatang di Swiss.
Diberitakan Fars, dalam wawancara televisi yang disampaikan pada Senin dini hari 16 Juni Gharibabadi mengatakan, proses perundingan untuk mencapai finalisasi dokumen itu memakan waktu panjang dan melibatkan serangkaian konsultasi intensif dalam beberapa pekan terakhir. Ia menjelaskan, Pakistan dan Qatar berperan sebagai mediator dalam proses tersebut.
Menurut Gharibabadi, sehari sebelumnya delegasi dari Qatar berada di Teheran untuk menyelesaikan pembahasan akhir mengenai teks yang disebut sebagai “Nota Kesepahaman Islamabad”. Ia menyebut perundingan berlangsung lebih dari 14 hingga 15 jam. Dalam pembahasan itu, Iran mengajukan revisi terakhir terhadap naskah yang ada, dan seluruh revisi tersebut diterima oleh pihak terkait sehingga teks akhirnya dinyatakan final.
Ia menambahkan, untuk saat ini yang telah disepakati adalah finalisasi teks. Sedangkan penandatanganan resmi oleh para pihak utama akan dilakukan di Swiss pada akhir pekan ini.
Gharibabadi juga mengungkapkan dua langkah mendesak yang menurutnya harus segera dilakukan mulai Senin dini hari. Pertama, penghentian segera dan permanen perang serta operasi militer di berbagai front, termasuk di Lebanon. Ia merujuk pada pernyataan Perdana Menteri Pakistan yang, menurutnya, secara tegas menyebut berakhirnya perang secara segera dan permanen di seluruh front tersebut.
Kedua, ia mengatakan Presiden Amerika Serikat juga telah mengumumkan penghentian dan pencabutan blokade laut yang disebut Iran diberlakukan oleh Washington terhadap Teheran. Namun, ia menegaskan bahwa pelaksanaan kewajiban Iran serta bagian-bagian lain dari nota kesepahaman baru akan dimulai setelah penandatanganan resmi pada Jumat.
Meski menyebut teks telah final, Gharibabadi menekankan bahwa nota kesepahaman itu dicapai dalam situasi “ketidakpercayaan penuh” Iran terhadap musuh-musuhnya. Ia mengatakan Teheran tidak menaruh kepercayaan kepada pihak lawan, melainkan kepada kekuatan militer, kemampuan diplomasi, serta dukungan dan persatuan rakyat Iran.
Ia menilai tahap implementasi akan menjadi aspek paling penting setelah penandatanganan. Karena itu, Iran disebut telah menyiapkan mekanisme khusus untuk mengawasi pelaksanaan komitmen Amerika Serikat berdasarkan nota kesepahaman tersebut. Gharibabadi menambahkan, pada tahap berikutnya akan dimulai negosiasi selama 60 hari untuk mencapai kesepakatan final. Jika kesepakatan akhir tercapai, menurutnya, setiap komitmen terbatas yang mungkin diterima Iran akan sepenuhnya disesuaikan dengan pelaksanaan kewajiban pihak lawan. Ia menegaskan bahwa bila Iran menemukan kekurangan dalam implementasi komitmen pihak lain, Teheran akan mengambil langkah balasan yang sepadan.
Dalam penjelasannya, Gharibabadi juga mengaitkan perkembangan negosiasi dengan eskalasi keamanan di Kawasan, terutama setelah serangan Rezim Zionis ke Dahiyeh, Beirut. Menurut dia, peringatan keras dari para komandan dan pejabat Iran, disertai tekanan besar terhadap Israel dan Amerika Serikat, memainkan peran efektif dalam mendorong Washington menerima nota kesepahaman itu. Ia mengatakan, beberapa poin yang sebelumnya ingin diperbaiki Iran dalam dokumen tersebut dapat dimajukan berkat perkembangan di Lebanon, pernyataan Angkatan Bersenjata Iran, serta kesiapan militer Iran untuk memberikan respons tegas terhadap tindakan Israel.
Ia juga menyinggung sikap Presiden Amerika Serikat yang, menurutnya, sempat mengkritik Israel dan menyatakan bahwa serangan tersebut seharusnya tidak terjadi. Pada saat yang sama, Gharibabadi menyebut Hizbullah telah memberikan respons yang cepat dan keras terhadap tindakan yang ia sebut sebagai aksi teroris Rezim Zionis.
Terkait substansi dokumen, Gharibabadi mengatakan prioritas utama tim perunding Iran adalah menjamin kepentingan nasional dan keamanan nasional Iran secara maksimal. Ia menyatakan, Pemerintah Iran akan segera memublikasikan isi teks nota kesepahaman tersebut beserta penjelasan yang cukup. Tujuannya agar masyarakat dapat melihat capaian politik, diplomatik, dan hukum yang menurutnya diperoleh Teheran. Ia menegaskan, komitmen yang diberikan Iran sangat terbatas dan tidak sebanding dengan manfaat serta komitmen yang harus dipenuhi pihak lawan.
Menurut dia, pejabat Amerika sebelumnya sempat menyatakan bahwa teks telah final dan Iran juga telah menyetujuinya. Namun, Gharibabadi menegaskan bahwa Teheran belum menerima dokumen itu sebelum seluruh poin yang menjadi perhatian terakhir Iran dimasukkan ke dalam teks. Ia mengatakan, pembicaraan mengenai hal tersebut terus berlangsung sejak hari sebelumnya hingga sekitar satu jam sebelum pernyataannya disampaikan, dan seluruh sikao Iran akhirnya dimasukkan ke dalam naskah final.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Iran tetap memandang para lawannya sebagai pihak yang akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk merugikan Republik Islam. Karena itu, menurutnya, kesiapsiagaan diplomatik dan militer akan tetap dipertahankan. Ia menegaskan bahwa bahkan jika nota kesepahaman ini ditandatangani dan negosiasi 60 hari nantinya berujung pada kesepakatan final, hal itu tidak akan membuat Iran lengah terhadap kemungkinan konspirasi musuh. “Kami akan selalu siap menghadapi segala bentuk skenario dari pihak lawan,” tandas Gharibabadi.
Mengenai mekanisme perundingan 60 hari ke depan, Gharibabadi menjelaskan bahwa mediator dan fasilitator seperti Pakistan dan Qatar akan tetap hadir. Namun negosiasi utama akan dilakukan antara Iran dan Amerika Serikat. Ia mengatakan, rincian teknis mengenai susunan perundingan dan pembentukan kelompok-kelompok kerja akan dibahas lebih lanjut di Swiss setelah penandatanganan resmi.
Ia menambahkan bahwa pada Jumat mendatang tidak hanya akan ada penandatanganan resmi, tetapi juga pembicaraan antara kepala delegasi kedua pihak untuk menentukan kerangka perundingan lanjutan. Namun, Iran menegaskan bahwa dimulainya negosiasi 60 hari bergantung pada verifikasi pelaksanaan komitmen mendesak oleh Amerika Serikat. Komitmen tersebut, menurut Gharibabadi, meliputi penghentian blokade, penghentian perang dan operasi militer, serta pembebasan dana Iran yang dibekukan. Setelah seluruh komitmen itu dipastikan berjalan, Iran menyatakan siap segera memasuki negosiasi teknis.
Gharibabadi menyebut Iran berharap pembicaraan dapat dirampungkan dalam 60 hari. Namun, ia membuka kemungkinan perpanjangan jika terdapat persoalan teknis atau kompleksitas isu yang memang memerlukan waktu lebih panjang, dengan syarat disetujui kedua pihak.
Ia juga menegaskan, perundingan 60 hari tidak hanya terbatas pada isu nuklir. Menurutnya, terdapat empat pokok utama yang akan dibahas. Pertama, penghentian seluruh sanksi terhadap Iran, termasuk sanksi sepihak primer dan sekunder, serta pengakhiran resolusi Dewan Keamanan PBB dan resolusi Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Ia menilai aspek ini sebagai perbedaan mendasar dibandingkan kesepakatan-kesepakatan sebelumnya, karena kali ini seluruh sanksi disebut akan diakhiri.
Kedua, pembahasan mengenai isu-isu nuklir. Ketiga, penetapan kerangka program akhir yang menurutnya telah disetujui dalam draf awal untuk mencakup agenda rekonstruksi dan pengembangan ekonomi. Selama 60 hari, kata dia, mekanisme pelaksanaannya akan dirundingkan dan difinalisasi. Keempat, penetapan mekanisme operasional untuk mengawasi implementasi yang baik atas komitmen kedua pihak dalam nota kesepahaman serta kepatuhan terhadap kewajiban yang akan timbul dalam kesepakatan final.
Menutup pernyataannya, Gharibabadi menyampaikan apresiasi kepada rakyat Iran, para pemimpin negara, dan Angkatan Bersenjata. Ia mengatakan bahwa jika Iran berhasil membawa pihak lawan ke meja perundingan dan memaksakan sejumlah komitmen, termasuk yang paling utama yaitu penghentian perang, hal itu menurutnya terjadi bukan karena Iran meminta penghentian konflik, melainkan karena kekuatan militer Iran telah memaksa lawan untuk menerima kondisi tersebut.
Ia juga menyampaikan penghormatan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, para pejabat negara, dan Angkatan Bersenjata yang menurutnya selalu siap membela Republik Islam. Gharibabadi juga menyampaikan salam takzim kepada syuhada Perang Ramadan, terutama Syahid Imam Ali Khamenei.
