Uni Eropa Akhiri Era Ketergantungan Keamanan, Genjot Belanja Militer dan Industri Pertahanan
POROS PERLAWANAN – Uni Eropa menyatakan telah mengakhiri era ketergantungan terhadap pihak lain dalam menjaga keamanan kawasan mereka. Bersamaan dengan perubahan kebijakan tersebut, negara-negara anggota memperbesar anggaran pertahanan, memperluas industri militer, dan meningkatkan investasi pada teknologi persenjataan modern. Pernyataan itu disampaikan Duta Besar Uni Eropa untuk Amerika Serikat, Jovita Neliupšienė, dalam artikel di Defense News yang dikutip kantor berita IRNA, pada Selasa 14 Juli.
Neliupšienė menyebut perubahan itu menandai pergeseran mendasar dalam kebijakan pertahanan Uni Eropa. Menurutnya, penguatan militer kini menjadi strategi jangka panjang untuk membangun kemampuan pertahanan yang lebih mandiri sekaligus memperkuat daya tangkal kawasan Eropa.
“Dunia ketika sebagian besar tanggung jawab keamanan Eropa diserahkan kepada pihak lain telah berakhir”, tulis Neliupšienė.
Perubahan tersebut tecermin pada peningkatan belanja pertahanan negara-negara anggota. Sepanjang 2025, Uni Eropa secara kolektif mengalokasikan anggaran pertahanan sebesar 2,1 persen dari produk domestik bruto, melampaui target minimum NATO sebesar 2 persen. Polandia, Lithuania, Latvia, dan Estonia bahkan sedang meningkatkan belanja militernya hingga mencapai 5 persen dari PDB.
Komitmen itu diperkuat melalui program pembiayaan pertahanan Uni Eropa senilai 200 miliar Dolar AS. Sebanyak 18 negara anggota telah bergabung dalam skema tersebut. Tahap pertama pendanaan senilai lebih dari 6 miliar Dolar mulai dikucurkan untuk mempercepat pengadaan alat utama sistem persenjataan, meningkatkan kapasitas produksi industri militer, serta memenuhi kebutuhan kemampuan pertahanan Uni Eropa dan NATO.
Neliupšienė menegaskan perubahan yang berlangsung tidak berhenti pada kenaikan anggaran. Pabrik-pabrik baru mulai beroperasi, fasilitas produksi diperluas, sementara investasi swasta mengalir ke pengembangan pesawat nirawak generasi baru, kendaraan tempur lapis baja, kecerdasan buatan, dan sistem peperangan elektronik.
Ekspansi tersebut mulai melahirkan kerja sama industri baru. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi NATO, Lockheed Martin bersama Rheinmetall mengumumkan pembangunan fasilitas produksi rudal taktis ATACMS di Jerman. Untuk pertama kalinya, sistem rudal itu akan diproduksi di luar Amerika Serikat.
Menurut Neliupšienė, penguatan pertahanan Eropa tidak ditujukan untuk mengurangi peran Amerika Serikat, melainkan memperkokoh kemampuan NATO menghadapi ancaman bersama.
Data perdagangan menunjukkan negara-negara Eropa tetap menjadi pasar terbesar industri pertahanan Amerika Serikat dengan menyerap hampir 40 persen ekspor persenjataan senilai sekitar 130 miliar Dolar AS. Sementara itu, lebih dari separuh pengadaan pertahanan Uni Eropa masih berasal dari perusahaan-perusahaan Amerika.
Neliupšienė menilai meningkatnya investasi pertahanan Eropa akan memperluas pasar industri persenjataan sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih besar bagi perusahaan-perusahaan pertahanan Amerika Serikat.
Peningkatan anggaran, percepatan produksi industri militer, dan perluasan investasi teknologi menunjukkan Uni Eropa tengah membangun kapasitas pertahanan yang lebih mandiri tanpa meninggalkan kemitraan strategis dengan Amerika Serikat maupun komitmennya dalam aliansi NATO.
