Senator Rusia Sebut AS Tak Akan Menang jika Perang Melawan Iran Berlanjut
POROS PERLAWANAN – Senator Rusia, Alexei Pushkov menilai Amerika Serikat tidak akan mampu memenangkan perang melawan Iran meskipun Presiden Donald Trump kembali meningkatkan konfrontasi militer di Kawasan. Menurut Pushkov, pengalaman panjang Washington di Irak dan Afghanistan menunjukkan bahwa kemenangan melalui operasi militer di Timur Tengah sulit dicapai. Pernyataan tersebut disampaikan melalui kanal Telegram dan dikutip kantor berita IRNA pada Selasa 14 Juli.
Ketua Komite Kebijakan Informasi Dewan Federasi Rusia itu mengatakan alasan yang digunakan Washington untuk menyerang Iran mengulang pola yang pernah dipakai sebelum invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003.
Mengutip Presiden Brasil, Pushkov menyatakan Amerika Serikat memberikan informasi yang tidak benar mengenai program nuklir Iran, sebagaimana yang menurutnya pernah dilakukan terhadap Irak sebelum perang dimulai.
Menurut Pushkov, isu nuklir hanya dijadikan dalih legitimasi politik bagi Pemerintahan Trump untuk membuka front perang baru terhadap Iran. Karena itu, klaim Washington mengenai keberhasilan operasi militernya dinilai tidak memiliki dasar yang kuat.
Pushkov juga menolak pernyataan Trump yang menyebut kemampuan militer Iran telah dihancurkan. Menurutnya, Iran masih memiliki kemampuan melakukan serangan balasan terhadap kepentingan Amerika Serikat di Kawasan serta tetap mempertahankan pengaruhnya di sekitar Selat Hormuz.
Senator Rusia tersebut turut mengkritik rencana Trump mengenakan pungutan sebesar 20 persen terhadap setiap kapal yang memperoleh pengawalan Amerika Serikat saat melintasi Selat Hormuz. Menurut Pushkov, kebijakan semacam itu identik dengan praktik yang pada masa lalu dikenal sebagai pembajakan laut.
Dari sisi ekonomi, Pushkov menilai meningkatnya ketegangan di Teluk Persia telah langsung memengaruhi pasar energi global. Menurutnya, harga minyak melonjak sekitar 9 persen hanya dalam dua jam setelah Trump mengumumkan rencana Amerika Serikat mengambil alih pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pushkov juga menyatakan Trump telah memberi tahu Kongres bahwa Amerika Serikat secara resmi berada dalam keadaan perang dengan Iran. Pada saat yang sama, menurutnya, kritik internasional terhadap operasi militer Washington terus meningkat.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menyatakan dimulainya kembali serangan Amerika Serikat terhadap Iran telah melanggar nota kesepahaman yang sebelumnya ditandatangani Teheran dan Washington.
Lavrov menilai operasi militer tersebut tidak akan menghasilkan penyelesaian konflik, tetapi justru menutup ruang diplomasi yang sebelumnya mulai terbuka setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman.
Dalam perkembangan terakhir, Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz dilakukan sebagai respons atas situasi keamanan yang memburuk akibat serangan Amerika Serikat. Pemerintah Iran menyebut jalur pelayaran akan kembali dibuka setelah kondisi keamanan dinilai telah pulih.
Di sisi lain, Trump menyatakan Amerika Serikat telah mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan berencana mengenakan pungutan sebesar 20 persen dari nilai muatan kapal yang melintas di bawah perlindungan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut memicu reaksi dari berbagai negara karena dinilai berpotensi meningkatkan ketegangan di salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Pemerintah Iran menegaskan tetap berpegang pada prinsip “komitmen dibalas komitmen”. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei mengatakan bahwa Teheran tidak pernah menjadi pihak yang lebih dahulu melanggar kesepakatan. Namun, Iran akan menghentikan pelaksanaan komitmennya apabila Amerika Serikat terus mengabaikan kewajibannya berdasarkan nota kesepahaman yang telah disepakati kedua negara.
