Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Pentagon: Washington Kini Harus Membagi Kekuatan antara Teluk Persia dan Laut Merah

POROS PERLAWANAN – Sejumlah pejabat aktif dan mantan pejabat Amerika Serikat, termasuk dari Pentagon, mengakui bahwa ancaman Yaman untuk memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi di Laut Merah telah menempatkan militer AS dalam tekanan yang semakin besar. Washington kini disebut harus membagi kekuatan militernya antara kawasan Teluk Persia dan Laut Merah, sebuah kondisi yang dinilai mempersempit ruang gerak strategis Amerika di Asia Barat.

Reuters melaporkan pada Rabu (22/7/2026) bahwa ancaman Ansarullah terhadap pelayaran yang berkaitan dengan Arab Saudi berpotensi memperluas krisis keamanan regional. Ketika sebagian besar aset militer Amerika masih difokuskan di Teluk Persia dan sekitar Iran, pembukaan front baru di Laut Merah diperkirakan akan semakin membebani kemampuan operasional Washington.

Mantan pejabat senior Pentagon, Jason Campbell, mengatakan Amerika Serikat terpaksa membagi sumber daya militernya yang terbatas ke dua kawasan sekaligus. Menurutnya, penguatan kehadiran di Laut Merah mengharuskan pemindahan sebagian kapal perang dan sistem pertahanan dari Teluk Persia ke perairan dekat Yaman, yang pada akhirnya mengurangi kapasitas Amerika dalam menjalankan misi-misi lain di kawasan.

Sementara itu, Kayhan dalam laporannya pada Kamis (23/7/2026) menilai berbagai operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan koalisi pimpinan Arab Saudi selama bertahun-tahun gagal melemahkan kemampuan Ansarullah. Sebaliknya, kelompok tersebut disebut tetap mempertahankan bahkan meningkatkan kemampuan daya tangkal militernya. Mantan Deputi Asisten Menteri Pertahanan AS, Michael Mulroy, juga mengakui bahwa pasukan Yaman berulang kali menunjukkan kemampuan dan tekad untuk mengganggu jalur pelayaran di Bab el-Mandeb dan Laut Merah.

Laporan itu juga menyoroti meningkatnya tekanan terhadap militer Amerika akibat menipisnya persediaan sistem pertahanan, amunisi, serta kelelahan armada laut yang terus menjalankan operasi berkepanjangan. Mantan perwira Korps Marinir AS, Mark Cancian, menilai pembukaan front kedua di Laut Merah akan semakin menguras kemampuan tempur Angkatan Laut Amerika.

Menurut analisis yang dikutip Kayhan, posisi strategis Bab el-Mandeb kini menjadi salah satu instrumen tekanan utama Yaman. Media Al-Araby Al-Jadeed menyebut ancaman blokade terhadap Arab Saudi tidak hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi global. Ketergantungan Riyadh pada Pelabuhan Yanbu sebagai jalur utama ekspor minyak di Laut Merah dinilai menciptakan kerentanan baru karena fasilitas tersebut berada dalam jangkauan rudal dan pesawat nirawak Yaman.

Laporan itu juga mengutip perusahaan analisis pelayaran Kpler yang menyatakan bahwa keterlibatan Ansarullah dalam dinamika keamanan maritim telah memperluas pusat risiko energi dunia dari Selat Hormuz ke Laut Merah. Gangguan secara bersamaan di kedua jalur pelayaran strategis tersebut diperkirakan dapat memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan biaya logistik global.

Sementara itu, anggota Biro Politik Ansarullah, Ali al-Dailami, menegaskan bahwa Yaman memiliki strategi yang telah disiapkan untuk mengakhiri blokade terhadap negaranya dan tidak akan mengubah sikap di bawah tekanan militer maupun politik. Ia menilai satu-satunya jalan keluar adalah mengakhiri blokade dan menghormati hak-hak rakyat Yaman.

Sebelumnya, pada awal pekan ini, Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan larangan pelayaran bagi kapal-kapal yang berkaitan dengan Arab Saudi sebagai respons atas blokade yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Juru bicara militer Yaman, Brigjen Yahya Saree, menyatakan kebijakan tersebut mulai diberlakukan berdasarkan prinsip “blokade dibalas dengan blokade.”

Sebagai penutup, Kayhan menyimpulkan bahwa pengakuan para pejabat Amerika mengenai keterbatasan sumber daya, menipisnya persediaan militer, serta keharusan membagi kekuatan antara Teluk Persia dan Laut Merah menunjukkan meningkatnya biaya strategis yang harus ditanggung Washington. Dalam narasi laporan tersebut, perkembangan ini mencerminkan menyusutnya ruang manuver Amerika di Asia Barat, sementara Yaman dinilai semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu aktor yang mampu memengaruhi dinamika keamanan maritim dan energi di kawasan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *