Pentagon Pangkas Data Korban Tewas Perang Iran dari 18 Menjadi 14 Orang
POROS PERLAWANAN – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menuai sorotan setelah Pentagon menurunkan jumlah resmi personel Militer AS yang tewas dalam perang melawan Iran dari 18 menjadi 14 orang.
The New York Times pada Jumat 24 Juli, mengutip tiga pejabat Militer AS, melaporkan Pentagon merevisi data korban tewas dengan menghapus empat personel yang gugur setelah Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata.
Menurut laporan tersebut, tiga personel tewas di Yordania dan satu lainnya di Irak. Keempatnya tidak lagi dimasukkan dalam statistik resmi karena kematian mereka terjadi setelah pengumuman gencatan senjata.
Namun, Juru Bicara Pentagon, Joel Valdez memberikan penjelasan berbeda. Ia menyatakan perubahan angka tersebut disebabkan oleh “gangguan sementara pada data situs web” Pentagon.
The New York Times menilai perbedaan penjelasan antara para pejabat Militer dan Pentagon menunjukkan masih adanya ketidakjelasan mengenai metode pelaporan korban di pihak Militer AS selama perang melawan Iran.
Di tengah meningkatnya kritik atas bertambahnya korban di pihak AS, Trump sebelumnya berupaya menunjukkan bahwa jumlah korban perang Iran relatif lebih kecil dibandingkan perang-perang besar yang pernah diikuti Amerika Serikat.
Melalui akun Truth Social, Trump membandingkan jumlah korban dalam sejumlah konflik sebagai berikut:
- Perang Afghanistan: 20 tahun, 2.000 korban tewas.
- Perang Irak: 9 tahun, 4.600 korban tewas.
- Perang Vietnam: 19 tahun 5 bulan, 58.220 korban tewas.
- Perang Korea: 3 tahun 1 bulan, 36.574 korban tewas.
- Konflik Venezuela: 1 hari, tidak ada korban tewas.
- Perang Iran: 4 bulan, 18 korban tewas.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump pada awal operasi militer menyatakan perang melawan Iran akan berakhir hanya dalam beberapa pekan. Namun, hingga kini konflik telah berlangsung lebih dari empat bulan.
