Washington Hadapi Krisis Persenjataan, Iran Terapkan Doktrin Baru di Medan Perang
POROS PERLAWANAN – Perkembangan terbaru konflik antara Iran dan Amerika Serikat dalam 24 jam terakhir menunjukkan perubahan signifikan, baik di medan perang maupun di jalur diplomasi. Sejumlah media Barat melaporkan menurunnya kemampuan logistik serta cadangan persenjataan Amerika Serikat, sementara Iran menyatakan telah mengukuhkan doktrin pencegahan (deterrence) baru yang diklaim akan mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.
Intensitas Serangan AS Dilaporkan Menurun
Berdasarkan laporan lapangan pada Sabtu dini hari (25/7/2026) yang dipublikasikan Mehr News Agency, intensitas serangan udara dan rudal Amerika Serikat disebut mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan beberapa malam sebelumnya.
Meski Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) masih dilaporkan melakukan sejumlah serangan terbatas, berkurangnya volume operasi dinilai sejumlah pengamat Iran sebagai indikasi melemahnya kemampuan operasional militer Amerika dalam mempertahankan intensitas serangannya.
Media Barat Ungkap Tekanan terhadap Persenjataan AS
Sejumlah media Barat turut menyoroti tantangan yang dihadapi Washington.
CBS News, mengutip pejabat militer dan intelijen Amerika Serikat, melaporkan bahwa penggunaan rudal pertahanan udara dan amunisi presisi dalam jumlah besar di Timur Tengah telah menguras persediaan strategis Washington. Kondisi tersebut disebut memicu perdebatan internal di pemerintahan Presiden Donald Trump mengenai keberlanjutan operasi militer.
Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan Presiden Donald Trump semakin frustrasi setelah konflik yang diperkirakan berakhir dalam beberapa pekan justru telah berlangsung selama lima bulan tanpa kepastian penyelesaian.
Di sisi lain, The Independent mengutip sejumlah analis yang memperingatkan bahwa dampak ekonomi utama akibat konflik Iran diperkirakan baru akan mulai terasa dalam waktu dekat.
Iran Umumkan Doktrin Balasan Baru
Menanggapi berlanjutnya serangan Amerika Serikat, Panglima Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, mengumumkan apa yang disebut sebagai “persamaan baru” dalam medan pertempuran.
Melalui pernyataan yang diunggah di media sosial, Abdollahi menyatakan bahwa setiap warga negara Iran yang tewas akibat serangan Amerika akan dibalas dengan kematian satu personel militer Amerika.
Pernyataan tersebut menandai penguatan doktrin balasan Iran yang sebelumnya, menurutnya, telah dibuktikan dalam praktik di lapangan.
Serangan terhadap Fasilitas Militer AS
Seiring dengan pernyataan tersebut, sejumlah media Iran melaporkan berbagai serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan.
Di Bahrain, sumber-sumber Arab melaporkan pangkalan Armada Kelima Angkatan Laut AS di Al-Jufair menjadi sasaran rudal dan pesawat nirawak, disertai tiga ledakan besar serta aktivasi sirene peringatan.
Di Kuwait, pangkalan udara Ali Al-Salem dilaporkan menjadi sasaran serangan drone.
Sementara itu, citra satelit yang dipublikasikan media Iran menunjukkan hancurnya sistem pertahanan udara Patriot milik Amerika Serikat di Erbil, Irak utara. Kebakaran besar yang terjadi di sekitar lokasi diduga berasal dari ledakan amunisi sekunder.
Iran juga melaporkan telah menyerang markas kelompok-kelompok bersenjata anti-Iran di wilayah Erbil menggunakan pesawat nirawak.
Iran Ajukan Protes ke Dewan Keamanan PBB
Di jalur hukum internasional, Iran mengirimkan surat resmi kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dalam surat yang disampaikan oleh Gholamhossein Darzi, Wakil Tetap Iran untuk PBB, Teheran menyebut Amerika Serikat secara sengaja menyerang kapal sipil Naji-15 dan Naji-16, yang menurut Iran merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Media Iran juga menyoroti konferensi pers Presiden Donald Trump ketika ia tidak menjawab secara langsung pertanyaan wartawan The New York Times mengenai apakah pengeboman terhadap pembangkit listrik sipil dan jembatan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Trump justru mengkritik media tersebut tanpa memberikan jawaban substantif.
Pada saat yang sama, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan sanksi baru terhadap empat individu dan sembilan entitas yang disebut terkait dengan Iran.
Diplomasi Iran Berlanjut di Forum Organisasi Kerja Sama Shanghai
Di tengah eskalasi konflik, Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araghchi melanjutkan serangkaian pertemuan diplomatik dalam rangkaian Pertemuan Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Shanghai.
Bertemu Menlu China
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi, kedua pihak membahas hubungan bilateral, perkembangan regional dan internasional, serta agenda kerja sama dalam Organisasi Kerja Sama Shanghai dan BRICS.
Araghchi menegaskan bahwa ketidakamanan di Selat Hormuz merupakan akibat langsung dari pelanggaran komitmen Amerika Serikat terhadap kesepakatan penghentian perang serta serangan terhadap infrastruktur vital Iran.
Ia juga menekankan bahwa Iran tetap berkomitmen mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya dari setiap bentuk agresi militer.
Wang Yi menyatakan bahwa perdamaian di Asia Barat hanya dapat diwujudkan melalui peningkatan kepercayaan dan kerja sama antarnegara di kawasan, serta menegaskan kesiapan China untuk membantu upaya tersebut.
Bertemu Menlu Rusia
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, kedua negara membahas kerja sama politik, ekonomi, perdagangan, energi, transportasi, serta koordinasi dalam berbagai forum multilateral.
Kedua menteri juga bertukar pandangan mengenai perkembangan terbaru di Asia Barat menyusul, menurut Iran, pelanggaran kembali yang dilakukan Amerika Serikat terhadap kesepakatan penghentian perang.
Araghchi menyampaikan apresiasi atas sikap Rusia yang mengecam serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia menegaskan Iran akan terus mempertahankan kepentingan dan keamanan nasionalnya serta mencegah penyalahgunaan Selat Hormuz untuk mengancam keamanan Iran.
Lavrov kembali menegaskan posisi Rusia yang mengutuk serangan terhadap Iran serta mendukung pembentukan mekanisme keamanan kawasan yang bertumpu pada negara-negara regional.
Selain itu, Araghchi juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Kirgizstan dan menyampaikan apresiasi atas sikap negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai yang mengecam serangan militer Amerika Serikat.
China dan Pakistan Bahas Jalur Mediasi
Di tengah meningkatnya ketegangan, Reuters melaporkan Pakistan bersama China sedang mengkaji kemungkinan membuka kembali jalur perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang sebelumnya mengalami kebuntuan.
Menteri Luar Negeri Pakistan dalam pertemuannya dengan Araghchi juga menekankan pentingnya upaya menurunkan eskalasi konflik.
Sementara itu, Presiden Donald Trump kembali menyampaikan pernyataan yang dinilai kontradiktif. Ia mengatakan Iran “belum siap mencapai kesepakatan”, namun pada saat yang sama membuka kemungkinan dilanjutkannya perundingan.
The New York Times juga melaporkan, mengutip sumber-sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, bahwa Trump menggelar rapat bersama para penasihat seniornya untuk mempertimbangkan apakah serangan terhadap Iran perlu ditingkatkan.
Di sisi lain, Bloomberg melaporkan Trump semakin frustrasi terhadap jalannya perang dan menginginkan biaya konflik yang lebih besar bagi Iran.
Namun, hanya beberapa jam sebelumnya, Trump menyatakan belum mengambil keputusan mengenai kemungkinan melancarkan serangan besar terhadap Iran. Ia juga mengklaim masih terdapat proses negosiasi yang berlangsung sehingga serangan skala besar mungkin tidak diperlukan.
Kesimpulan
Menurut laporan Mehr News Agency, perkembangan 24 jam terakhir menunjukkan strategi militer Amerika Serikat menghadapi tantangan yang semakin besar, ditandai dengan menurunnya intensitas serangan serta laporan media Barat mengenai berkurangnya cadangan persenjataan strategis Washington.
Di sisi lain, Iran menyatakan telah menetapkan doktrin balasan baru, termasuk ancaman pembalasan terhadap setiap korban jiwa warga Iran akibat serangan Amerika, serta mengklaim berhasil menghancurkan sejumlah sistem pertahanan utama milik AS di kawasan. Menurut Teheran, kondisi tersebut telah mengubah keseimbangan strategis dan menempatkan Washington pada pilihan antara melanjutkan konflik yang berkepanjangan atau menempuh penyelesaian melalui negosiasi.
