Abdul-Malik Al-Houthi: Tel Aviv Lakukan Kejahatan Paling Keji terhadap Gaza
POROS PERLAWANAN— Pidato terbaru Pemimpin Gerakan Ansharullah Yaman, Abdul-Malik Al-Houthi, kembali menyoroti skala kejahatan rezim Zionis di Jalur Gaza dan menempatkannya dalam konteks politik regional maupun ideologis. Dalam orasinya, yang disiarkan Al-Masirah pada Kamis malam 21 Agustus, ia menguraikan bagaimana Tel Aviv menurutnya tidak hanya melakukan genosida terhadap rakyat Palestina, tetapi juga berupaya menancapkan hegemoni di Kawasan melalui proyek Zionisasi yang lebih luas.
Pengeboman, Kelaparan, dan Generasi yang Terancam
Al-Houthi membuka pidatonya dengan menggambarkan kondisi kemanusiaan yang kian memburuk di Gaza. Menurutnya, rezim Zionis telah melakukan “kejahatan paling keji” pekan ini, mulai dari pengeboman hingga menciptakan kelaparan yang sistematis.
Ia menyebutkan bahwa ratusan warga gugur hanya dalam hitungan hari, ribuan lainnya terluka, dan serangan bahkan menghantam tenda pengungsi di dekat Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa. Angka yang ia sampaikan menyoroti skala penderitaan anak-anak, sekitar 250.000 anak Palestina kini terancam kematian perlahan akibat malnutrisi parah.
Tragedi individual juga disinggung untuk menegaskan kebrutalan rezim. Ia menyebut kemartiran seorang gadis Palestina, Amina Al-Mufti, yang syahid dihantam roket saat sedang membawa air. Baginya, peristiwa itu adalah cerminan telanjang dari kriminalitas tanpa batas.
Tepi Barat dan Proyek Pemisahan Yerusalem
Pidatonya kemudian bergeser ke Tepi Barat. Menurut Al-Houthi, pembangunan permukiman baru dirancang untuk memisahkan wilayah utara dari tengah dan selatan, serta untuk memutus hubungan Yerusalem dari kawasan sekitarnya. Ia menilai langkah ini sebagai strategi Zionis untuk menghapus gagasan negara Palestina, bahkan dalam bentuk paling minimal sekalipun.
Masjid Al-Aqsa dan Proyek Zionisasi
Al-Houthi memberi perhatian besar pada serangan berulang terhadap Masjid Al-Aqsa. Baginya, tindakan ini bukan hanya soal pelanggaran kesucian tempat ibadah, melainkan bagian dari rencana strategis Tel Aviv, yaitu penghancuran Masjid Al-Aqsa, pembangunan Bukit Bait Suci, dan Yahudisasi Yerusalem.
Menurutnya, dukungan yang kuat dari kekuatan Barat membuat Zionis percaya diri mendorong proyek “Israel Raya”. Ia menggambarkan Zionisme sebagai ideologi yang tidak hanya menindas Palestina, tetapi juga berakar pada penindasan umat manusia secara umum. Bahkan, ia menuding rezim Zionis menghubungkan klaim politiknya dengan kitab suci untuk membenarkan ekspansi wilayah, dari Sungai Nil hingga Laut Merah, termasuk klaim terselubung atas Madinah dan Mekah.
Kritik terhadap Negara-Negara Arab
Pidato Al-Houthi juga sarat kritik terhadap negara-negara Arab. Ia menyinggung kasus kapal Saudi yang mengangkut senjata untuk Israel melalui pelabuhan Italia, menyebut Riyadh telah “dipermalukan” karena menjadikan kekayaan minyaknya sebagai alat untuk mendukung musuh Zionis.
Ia juga mengecam kontrak gas Mesir dengan Israel, menyebutnya sebagai bencana yang seharusnya bisa dihindari dengan menjalin kerja sama energi bersama negara-negara Arab dan Islam lainnya. Kritiknya menajam dengan pernyataan bahwa banyak rezim Arab justru memusuhi negara-negara yang mendukung Palestina, termasuk Iran.
Terkait isu pelucutan senjata Hamas, Al-Houthi menuding Arab Saudi, sejumlah rezim Arab, bahkan Otoritas Palestina sendiri, berada di balik agenda melucuti kekuatan Perlawanan di Gaza dan Lebanon, suatu posisi yang menurutnya jelas menguntungkan Tel Aviv.
Operasi Militer Ansharullah
Sebagai penutup, Al-Houthi menyoroti peran militer Ansharullah dalam konfrontasi dengan Israel. Ia menyebut bahwa dalam pekan ini saja, pasukan Yaman melancarkan dua operasi di Laut Merah utara, menargetkan kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel. Sepanjang bulan Safar, menurutnya, Ansharullah telah menembakkan 42 rudal hipersonik, drone, dan senjata lainnya.
Ia menegaskan blokade laut terhadap Israel terus berlanjut, mulai dari Laut Merah hingga Bab al-Mandab dan Teluk Aden, membuat pelabuhan Umm al-Rishrash lumpuh. Bagi Al-Houthi, operasi ini adalah bukti nyata bahwa perlawanan Yaman tidak hanya bersifat retorika, melainkan juga berkontribusi langsung dalam melemahkan Israel di medan strategis Laut Merah.
Analisis POROS PERLAWANAN
Pidato panjang Abdul-Malik Al-Houthi kali ini tidak hanya menyoroti penderitaan rakyat Gaza, tetapi juga menempatkan krisis tersebut dalam kerangka yang lebih luas: proyek Zionisasi, kolaborasi sebagian rezim Arab, serta posisi Ansharullah dalam Poros Perlawanan.
Dengan gaya retoris yang khas, Al-Houthi berusaha memadukan tragedi kemanusiaan dengan visi ideologis dan geopolitik. Narasi tentang anak-anak Gaza yang kelaparan, penodaan Masjid Al-Aqsa, hingga blokade laut Israel disatukan menjadi satu benang merah: bahwa perlawanan terhadap Zionisme adalah kewajiban moral, politik, sekaligus religius.
Bagi pendukungnya, pidato ini memperkuat posisi Ansharullah sebagai bagian integral dari Poros Perlawanan. Namun bagi lawan politiknya, retorika semacam ini dianggap sebagai upaya menjadikan konflik Palestina sebagai panggung untuk meneguhkan legitimasi gerakan regional.
