Abdul Malik Al-Houthi: “USS Eisenhower Tinggalkan Laut Merah dengan Kekalahan dan Kehinaan”
POROS PERLAWANAN – Pemimpin Gerakan Ansarullah, Sayyid Abdul Malik Al-Houthi, dalam pidato terbarunya, menjelaskan posisi tegas Yaman dalam mendukung perlawanan Palestina dan melawan agresi Israel yang terus berlangsung di Gaza, Lebanon, dan wilayah lainnya. Ia juga mengungkap keberhasilan pasukan Yaman dalam menghadapi armada tempur Amerika Serikat di perairan strategis dan operasi ini akan terus dilakukan sebagai bagian dari perjuangan melawan pendudukan Israel.
Yaman Tantang Armada Perang AS dan Israel
Dalam pidatonya pada Kamis malam (21/11), Al-Houthi mengungkapkan, Tentara Yaman sejak lama telah menantang armada perang Amerika Serikat di awal-awal agresi koalisi terhadap negara itu. Menurutnya, kapal-kapal perang AS yang selama ini dianggap sebagai simbol kekuatan global dan intimidasi dipaksa mundur akibat operasi angkatan laut Yaman.
“Kami menargetkan kapal induk mereka, termasuk USS Eisenhower dan Abraham Lincoln, yang selama ini menjadi alat intimidasi bagi banyak negara. Eisenhower telah melarikan diri dari Laut Merah dalam keadaan hina dan kalah. Kini, Abraham Lincoln juga kabur dari Laut Arab, kembali ke pangkalan asalnya,” ungkap Al-Houthi.
Ia menegaskan, operasi angkatan laut ini bertujuan untuk memblokade pelayaran kapal-kapal yang berhubungan dengan Israel, baik di Laut Merah, Selat Bab al-Mandeb, maupun Samudra Hindia. Operasi ini disebut sebagai bagian dari komitmen Yaman untuk mendukung perjuangan Palestina secara langsung.
Dukungan Militer untuk Gaza: Kewajiban Iman dan Jihad
Selain operasi laut, Tentara Yaman juga terus melancarkan serangan rudal dan drone terhadap posisi-posisi Israel di wilayah Palestina. “Kami telah melancarkan serangan ke wilayah pendudukan, dan serangan ini akan terus berlanjut sebagai bentuk kewajiban iman dan jihad dalam mendukung Gaza. Perlawanan ini adalah tanggung jawab kami sebagai bangsa yang berpegang pada prinsip keadilan,” ujar Al-Houthi.
Al-Houthi juga mengajak seluruh rakyat Yaman untuk mendukung perjuangan ini melalui aksi massa besar-besaran. Ia menyerukan mobilisasi nasional pada hari Jumat di Lapangan Sab’een, Sana’a, serta di provinsi-provinsi lainnya, untuk menunjukkan solidaritas terhadap Gaza, Palestina, dan Lebanon. “Partisipasi rakyat dalam perjuangan ini bukan hanya bentuk solidaritas, tetapi juga sumber kekuatan, kehormatan, dan pendidikan moral bagi generasi kita,” tegasnya.
Kritik Keras terhadap Amerika Serikat dan Sekutunya
Dalam pidatonya, Al-Houthi mengkritik tajam veto Amerika Serikat atas resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata di Gaza. Ia menyebut langkah tersebut sebagai cerminan dari “kebrutalan dan keterlibatan langsung Washington dalam kejahatan Israel.”
Menurutnya, Amerika Serikat selalu berbicara tentang perdamaian, namun pada kenyataannya terus menjadi pelaku utama kejahatan perang dan genosida di berbagai belahan dunia. “Amerika adalah mitra utama Israel dalam semua kejahatannya terhadap rakyat Palestina, Lebanon, Suriah, Yordania, dan Mesir selama beberapa dekade terakhir,” tegasnya.
Ia juga menyoroti sikap negara-negara Barat lainnya, seperti Prancis, Jerman, dan Inggris, yang secara aktif mendukung agresi Israel. “Pembantaian di Gaza bukan hanya kejahatan Israel, tetapi juga Amerika dan negara-negara Barat yang mendukung mereka dengan senjata dan politik,” ujarnya.
Strategi Israel: Genosida dan Kekacauan
Terkait situasi di Gaza, Al-Houthi menegaskan Israel menggunakan strategi genosida terhadap rakyat Palestina melalui pengeboman sistematis, blokade medis, dan penghancuran infrastruktur vital seperti rumah sakit. “Israel memperlakukan rumah sakit sebagai target utama, seolah-olah itu adalah pangkalan militer, demi memaksimalkan korban jiwa di Gaza,” katanya.
Ia juga mengungkapkan, Israel telah membentuk kelompok-kelompok perampok untuk mencuri bantuan kemanusiaan yang sangat terbatas. “Mereka tidak hanya menjarah bantuan, tetapi juga menghancurkan upaya pemerintah Gaza untuk mendistribusikan bantuan, menciptakan kekacauan yang diinginkan,” tegasnya.
Pujian untuk Perlawanan Palestina, Lebanon, dan Irak
Dalam pidatonya, Al-Houthi memberikan penghormatan kepada para pejuang perlawanan di Gaza, Lebanon, dan Irak yang terus melawan agresi Israel. Ia memuji Brigade Al-Qassam dan Saraya Al-Quds, yang telah melancarkan 24 operasi selama seminggu terakhir, termasuk operasi-operasi heroik dan pengorbanan diri yang menginspirasi.
Ia juga menyoroti keberhasilan Hizbullah di Lebanon, yang terus menggagalkan upaya invasi Israel ke desa-desa perbatasan. “Hizbullah telah menunjukkan ketahanan luar biasa. Mereka bertempur dari jarak dekat dengan Israel, memukul mundur mereka, dan menghujani pemukiman Israel dengan roket hingga ke Yafa,” ujarnya.
Menurutnya, ketakutan yang dirasakan Israel akibat perlawanan Hizbullah terlihat dari meningkatnya evakuasi warga Israel ke tempat perlindungan setiap malam. “Mereka hidup dalam ketakutan konstan, sementara suara sirene hampir tidak pernah berhenti,” tambahnya.
Al-Houthi juga memuji keberhasilan perlawanan Irak, yang telah melancarkan 18 operasi melawan pasukan pendudukan dalam seminggu terakhir.
Kritik terhadap Dunia Arab
Di sisi lain, Al-Houthi mengkritik respons lambat dan reaktif dunia Arab terhadap agresi Israel. Menurutnya, kebijakan mereka tidak sejalan dengan tingkat ancaman yang dihadapi. “Tindakan mereka hanya reaksi sesaat, tanpa strategi atau visi jangka panjang yang jelas,” katanya.
Ia menyoroti bagaimana dukungan penuh Amerika terhadap Israel membuat rezim Zionis semakin percaya diri untuk melanjutkan ekspansi wilayahnya. “Israel sekarang berbicara dengan keyakinan penuh bahwa Amerika akan memberikannya Tepi Barat dan Gaza tanpa syarat,” tutupnya.
Perlawanan sebagai Kewajiban dan Tanggung Jawab
Pernyataan Abdul Malik Al-Houthi menegaskan posisi Yaman sebagai bagian integral dari perlawanan regional terhadap pendudukan Israel. Dengan operasi militernya yang terus berlanjut di darat dan laut, Yaman menunjukkan tekad untuk tetap berdiri bersama Gaza dan Palestina, menjadikan perlawanan ini sebagai kewajiban moral, iman, dan jihad.
