Agenda Terselubung Israel Taklukkan Lebanon: Picu Perang Saudara dengan Kedok Gencatan Senjata
POROS PERLAWANAN – Di tengah eskalasi konflik di Lebanon, Israel kembali melontarkan syarat-syarat gencatan senjata yang dinilai tidak masuk akal oleh para pengamat internasional. Di balik upaya tersebut, terselip tujuan bahwa Tel Aviv sedang menjalankan agenda berbahaya untuk menciptakan kekacauan dan perang saudara di Lebanon.
Menurut analisis jurnalis senior sekaligus pemimpin redaksi Al-Akhbar, Ibrahim Amin, pada Sabtu 16 November, syarat-syarat gencatan senjata yang diajukan Israel berupaya mengarahkan tanggung jawab perang kepada pihak Lebanon. Dengan tekanan ini, Israel berharap rakyat Lebanon sendiri akan melucuti senjata Hizbullah, sebuah langkah yang tidak pernah tercapai melalui serangan militer.
“Israel sedang berusaha menciptakan narasi baru tentang konflik ini”, tulis Amin dalam artikelnya. Ia menyoroti bahwa Israel berupaya menggiring opini publik bahwa tujuan mereka adalah mendorong stabilitas dengan memindahkan Hizbullah dari perbatasan selatan dan menggeser mereka ke wilayah utara Sungai Litani. Namun, narasi ini tidak lepas dari kepentingan Israel untuk mendapatkan keuntungan strategis di medan perang dan meja negosiasi.
Kerja sama Israel dan Amerika Serikat dalam perang ini juga menjadi sorotan. Seorang diplomat Arab di Washington mengungkapkan bahwa Israel diminta menyesuaikan langkahnya dengan prioritas AS. Namun, Pemerintahan AS saat ini tampaknya tidak ingin memicu perang lebih luas di Timur Tengah, meskipun memberikan ruang luas bagi Israel untuk mencapai keuntungan militer di Lebanon.
Israel diduga meminta waktu lebih lama agar dapat memperoleh kemenangan strategis yang nantinya dapat digunakan sebagai kartu tawar dalam negosiasi gencatan senjata. Namun, hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa mereka mampu memaksakan syarat-syarat tersebut kepada Pemerintah maupun rakyat Lebanon.
Salah satu poin paling kontroversial dari rencana Israel adalah upaya mereka membentuk Komite Pengawasan Internasional baru untuk mengimplementasikan Resolusi 1701. Komite ini diharapkan bekerja sama dengan militer Lebanon dan pasukan UNIFIL untuk melucuti senjata Hizbullah di wilayah selatan Litani.
Namun, penggeledahan rumah warga, fasilitas umum, hingga tempat ibadah yang diusulkan dalam rencana tersebut memicu kekhawatiran bahwa langkah ini akan menjadi pemicu perang saudara. Ibrahim Amin memperingatkan adanya pihak-pihak di Lebanon yang mungkin menyetujui rencana tersebut dengan alasan menghentikan perang.
“Jika ada elemen internal yang mendukung syarat-syarat Israel, itu berarti mereka gagal belajar dari sejarah dan sedang membawa negara ini menuju konflik internal yang lebih besar”, tulisnya.
Meskipun menghadapi tekanan internasional, Lebanon sejauh ini menunjukkan sikap tegas. Pejabat Lebanon menolak syarat-syarat yang diajukan Israel dan menyebutnya sebagai langkah yang tidak realistis.
Pengamat politik menilai bahwa perang ini tidak hanya menjadi ujian bagi kekuatan militer Lebanon dan Hizbullah, tetapi juga kesatuan rakyat Lebanon. “Israel berusaha menciptakan perpecahan internal di Lebanon, namun sejarah menunjukkan, rakyat Lebanon memiliki daya tahan yang luar biasa terhadap tekanan eksternal,” ujar seorang analis Timur Tengah yang tidak disebutkan namanya.
Konflik ini bukan sekadar persoalan militer, tetapi juga perang narasi yang kompleks. Israel mencoba menekan Lebanon melalui berbagai skenario, termasuk syarat gencatan senjata yang dianggap sebagai jebakan untuk memicu kekacauan internal.
Namun, hingga kini, keteguhan rakyat Lebanon dan kekuatan Perlawanan tampaknya menjadi penghalang utama bagi Israel untuk mencapai tujuan-tujuannya. Dengan eskalasi konflik yang terus berlanjut, masa depan stabilitas Kawasan ini masih penuh dengan ketidakpastian.
