Agresi AS-Israel Rusak 82 Ribu Fasilitas Sipil di Iran, IRCS Desak Investigasi Internasional
POROS PERLAWANAN — Kepala Iranian Red Crescent Society (IRCS), Pir-Hossein Koulivand melaporkan kerusakan luas pada infrastruktur sipil akibat agresi dan eskalasi militer Israel dan Amerika Serikat sejak akhir Februari. Total 82.417 unit fasilitas sipil tercatat terdampak di berbagai wilayah Iran.
Data resmi yang dikutip dari Press TV menunjukkan 62.440 rumah tinggal dan 19.187 bangunan komersial mengalami kerusakan. Provinsi Teheran mencatat dampak paling besar dengan 25.280 unit bangunan hancur atau rusak.
Dampak serangan menjalar ke sektor vital. Sebanyak 281 fasilitas medis, termasuk apotek dan layanan darurat, ikut terdampak. Selain itu, 481 sekolah dan 17 pusat operasional IRCS mengalami kerusakan.
Kerugian juga menimpa armada kemanusiaan. Tiga helikopter, 48 kendaraan operasional, dan 46 ambulans dilaporkan hancur.
Dalam surat kepada Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, Koulivand menyampaikan kecaman atas serangan terhadap fasilitas kesehatan.
“Serangan terhadap infrastruktur medis merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional, termasuk Konvensi Jenewa dan protokol tambahannya”, tulis Koulivand.
IRCS mendesak WHO mengambil langkah konkret, termasuk kecaman resmi dan pembentukan investigasi independen untuk menilai dampak kemanusiaan konflik.
Eskalasi militer bermula pada 28 Februari saat pasukan AS dan Israel menyerang sejumlah target di Teheran. Serangan tersebut memicu respons Iran melalui peluncuran rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan AS di Kawasan.
Kementerian Pertahanan Iran melaporkan sedikitnya 600 personel Militer Amerika tewas atau terluka sejak awal konflik. Klaim ini belum mendapat verifikasi independen.
Situasi di lapangan masih berkembang dengan potensi peningkatan krisis kemanusiaan jika eskalasi terus berlanjut.
