Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Ahmad al-Oudah: Sosok Misterius di Tengah Gejolak Suriah dan Rivalitasnya dengan Jolani

POROS PERLAWANAN – Suriah kembali menjadi pusat perhatian internasional, bukan hanya karena konflik yang belum usai, melainkan juga karena munculnya tokoh-tokoh baru yang mengubah dinamika politik dan militer di negara tersebut. Salah satunya adalah Ahmad al-Oudah, seorang komandan militer dari selatan Suriah yang kini dianggap sebagai penantang serius bagi Abu Muhammad al-Jolani (Ahmad al-Sharaa), pemimpin kelompok Haiat Tahrir al-Sham (HTS). Dengan latar belakang kompleks, hubungan politik yang berlapis, dan strategi militer yang tajam, al-Oudah telah menjadikan dirinya sebagai salah satu aktor utama dalam perebutan kekuasaan di Suriah.

Ahmad al-Oudah: Dari Busra al-Sham ke Panggung Nasional

Ahmad al-Oudah lahir di kota Busra al-Sham, provinsi Daraa. Ia adalah lulusan Sastra Inggris dari Universitas Damaskus dan pernah menjalani wajib militer di Angkatan Bersenjata Suriah. Setelah itu, ia sempat menetap cukup lama di Uni Emirat Arab bersama keluarganya sebelum kembali ke Suriah pada tahun 2012, setahun setelah pecahnya konflik.

Kepulangannya bukan sekadar pulang kampung, melainkan langkah strategis untuk bergabung dengan perlawanan bersenjata melawan Pemerintah Bashar al-Assad. Al-Oudah bergabung dengan Free Syrian Army (FSA) dan menjadi Komandan Brigade Pemuda Ahlus Sunnah. Kelompok ini mengalami transformasi signifikan, berkembang pesat, dan akhirnya mencapai kesepakatan dengan Militer Suriah pada 2018.

Perjalanan Politik dan Militer yang Kompleks

Perjalanan al-Oudah selama lebih dari satu dekade mencerminkan pasang surut politik dan militer di Suriah. Dari seorang pemberontak yang memimpin pertempuran melawan pemerintah hingga menjadi bagian dari Angkatan Darat Kelima, sebuah divisi militer yang didukung Rusia, al-Oudah menunjukkan fleksibilitas dan kecerdasan politiknya.

Ia menjaga hubungan erat dengan Moskow, sehingga dijuluki sebagai “orang Rusia di Suriah”. Pada saat yang sama, ia menjalin aliansi strategis dengan Yordania dan Uni Emirat Arab melalui Pusat Operasi Militer Asing di Yordania, yang dikenal sebagai MOC. Pusat ini didukung oleh CIA dan negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, memberikan pelatihan serta bantuan logistik kepada kelompok oposisi bersenjata di Suriah selatan.

Namun, hubungan ini tidak selalu mulus. Pada 2018, ketika dukungan Yordania terhadapnya berkurang, al-Oudah memilih berdamai dengan Pemerintah Suriah dan mendirikan Brigade Kedelapan di bawah komando Angkatan Darat Kelima.

Rivalitas dengan Abu Muhammad Al-Jolani

Rivalitas antara Ahmad al-Oudah dan Abu Muhammad al-Jolani mencerminkan persaingan internal di antara kelompok-kelompok oposisi di Suriah. Jolani selaku pemimpin HTS yang berbasis di Idlib, telah lama menjadi tokoh dominan dalam perlawanan terhadap Pemerintah Assad. Namun, al-Oudah menawarkan pendekatan berbeda, lebih pragmatis, dan berorientasi pada aliansi regional.

Pada 2023, rencana besar untuk menggulingkan Pemerintahan Assad mulai disusun. Pemberontak dibagi menjadi tiga pusat operasi utama:

1. Radd al-Adwan di Idlib yang dipimpin Jolani.
2. Fajr al-Hurriyah di Aleppo utara.
3. Front Selatan di Daraa yang dipimpin al-Oudah.

Al-Oudah memimpin operasi menuju Damaskus, mendahului langkah Jolani. Saat Jolani masih berkonsolidasi di Aleppo, pasukan al-Oudah telah memasuki Ibu Kota, mengambil alih beberapa kantor strategis, menghancurkan dokumen sensitif, dan bahkan menyerbu Bank Sentral Suriah. Langkah ini sempat mengubah persepsi bahwa Jolani adalah tokoh utama dalam upaya menggulingkan Bashar al-Assad.

Namun, manuver ini tidak berlangsung lama. Meskipun sempat ada pembicaraan antara kedua belah pihak, Jolani berhasil mengonsolidasikan kekuasaannya dan menggeser al-Oudah dari pusat perhatian.

Peran Uni Emirat Arab dan Yordania

Menurut laporan Middle East Eye, keberhasilan awal al-Oudah di Damaskus tidak terlepas dari dukungan Yordania dan Uni Emirat Arab. Kedua negara ini khawatir atas potensi dominasi HTS dan Turki di Suriah, sehingga mendorong al-Oudah dan pasukan Front Selatan untuk bergerak cepat ke Damaskus sebelum pasukan Jolani tiba.

Namun, strategi ini tidak sepenuhnya berhasil. Jolani, dengan dukungan logistik dan kekuatan militer yang lebih besar, akhirnya menguasai Damaskus.

Mengapa Al-Oudah Tidak Menjadi Tokoh Utama Suriah?

Kegagalan al-Oudah untuk menjadi tokoh utama dalam transisi politik Suriah disebabkan oleh beberapa faktor:

1. Keterbatasan Dukungan Internasional: Dukungan dari Yordania dan Uni Emirat Arab bersifat terbatas dan tidak berkelanjutan.

2. Kekuatan Jolani: Jolani telah lama menguasai jaringan militer dan politik yang lebih kuat, terutama di wilayah utara Suriah.

3. Pragmatismenya yang Kontroversial: Hubungan al-Oudah dengan Rusia dan Pemerintah Assad membuatnya kehilangan dukungan dari beberapa kelompok oposisi.

Ahmad al-Oudah adalah gambaran kompleks dari konflik Suriah: seorang tokoh pragmatis yang mencoba menavigasi jaringan aliansi politik dan militer yang rumit. Namun, dalam rivalitasnya dengan Jolani, ia harus menghadapi kenyataan bahwa pragmatisme politik saja tidak cukup untuk mengatasi dinamika kekuatan yang lebih besar.

Rivalitas antara al-Oudah dan Jolani hanyalah salah satu bab dari konflik panjang di Suriah, tetapi ini menunjukkan bahwa jalan menuju stabilitas di negara itu masih panjang dan penuh tantangan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *