Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Air Mata Buaya, Kursi Kosong, dan Drama Murahan Netanyahu

POROS PERLAWANAN – Di panggung megah PBB, yang ironisnya terlihat lebih mirip aula sekolah setelah jam pulang, Benyamin Netanyahu tampil dengan pidato penuh peta, simbol, dan teka-teki. Sayangnya, yang ia lupakan hanyalah satu hal kecil: audiens. Kursi-kursi kosong lebih banyak daripada kepala yang mendengar, dan bahkan kursi pun tampak bosan.

Media Israel sendiri menyebut pidato ini “tidak penting”. Bayangkan, kalau media pro-Zionis saja sudah capek, berarti kita sedang menonton episode paling hambar dari serial panjang “Drama Netanyahu: The Endless Season”.

Sambil menyebut Gaza, Netanyahu tetap memakai jurus lamanya: putar balik, penuh ancaman samar, dan janji manis yang bahkan Donald Trump pun mungkin sudah hafal luar kepala. Tidak ada kebijakan baru, tidak ada langkah praktis, hanya pengulangan mantra lama: “keamanan Israel”, “dialog internasional”, dan tentu saja “nanti kita bahas sama Trump”. Seolah Trump itu lampu ajaib yang bisa mengeluarkan jin penyelamat.

Publik Israel? Tetap was-was. Dunia internasional? Menguap. Delegasi PBB? Keluar ruangan, mungkin lebih memilih kopi di kafe dekat lobi daripada mendengar kaset rusak yang diputar ulang.

Sejurus kemudian, masuklah adegan klasik: air mata buaya. Oposisi Netanyahu, Yair Lapid, langsung menuding bahwa sang Perdana Menteri sedang memainkan peran melodrama. Katanya dunia menyaksikan “seorang Perdana Menteri lelah, agresif, meneteskan air mata buaya lewat tipu daya dan penipuan.” Kalau ini teater, judulnya pas sekali: “Kehancuran Politik dalam Tiga Babak”.

Singkatnya, Netanyahu datang ke PBB bukan untuk memberi solusi, tapi untuk mengulang ceramah lama sambil menambahkan bumbu air mata murahan. Hasilnya? Alih-alih menghentikan tsunami politik, ia justru mempercepat arus yang bisa menenggelamkan dirinya sendiri, beserta rezimnya.

Tags: