Aktivis Global Sumud Flotilla Ungkap ’40 Jam Kekejaman Terencana’ oleh Pasukan Pendudukan Israel di Perairan Internasional
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, Global Sumud Flotilla kembali mengungkap rincian mengerikan terkait perlakuan brutal yang dialami para aktivisnya setelah dicegat oleh pasukan Pendudukan Israel di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani. Kelompok tersebut menegaskan bahwa para peserta “baru saja selamat dari 40 jam kekejaman yang direncanakan” di atas kapal Militer Israel.
Dalam pernyataan yang dibagikan melalui Telegram, Global Sumud menuturkan bahwa para aktivis yang ditahan mengalami kondisi tidak manusiawi. “Mereka tidak diberi makanan dan air yang cukup, serta dipaksa tidur di lantai yang sengaja dibanjiri berulang kali,” ungkap pernyataan tersebut. Situasi ini disebut sebagai bagian dari tekanan sistematis terhadap misi kemanusiaan yang bertujuan menembus blokade Gaza.
Lebih lanjut, para aktivis melaporkan tindakan kekerasan fisik yang parah. “Peserta dipukuli, ditendang, dan diseret di dek kapal dengan tangan terikat di belakang,” demikian isi laporan tersebut. Sejumlah korban bahkan mengalami luka serius, termasuk patah hidung, retak tulang rusuk, hingga pendarahan akibat pemukulan brutal.
Di tengah kekacauan saat pencegatan, pasukan Pendudukan juga dilaporkan melepaskan tembakan serta berupaya menculik dua peserta. Global Sumud menegaskan bahwa tindakan tersebut terjadi baik sebelum maupun setelah para aktivis melakukan perlawanan damai di atas kapal mereka.
Armada yang terdiri dari sekitar 70 kapal dari 70 negara itu diketahui berangkat dari Barcelona pada 15 April, membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Namun, pada malam hari di antara Rabu 29 April dan Kamis 30 April, kapal-kapal tersebut dibajak di perairan internasiona dekat Pulau Kreta. Para aktivis menyebut insiden ini sebagai “eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya” sekaligus bentuk pembajakan terang-terangan.
Selain melakukan penahanan, pasukan Israel juga dilaporkan menonaktifkan mesin dan sistem navigasi kapal sebelum mundur. Insiden ini memicu kecaman luas, dengan menteri luar negeri dari 12 negara mengeluarkan pernyataan yang mengutuk tindakan tersebut.
Namun, di tengah gelombang kecaman global, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat justru menuding armada tersebut sebagai “inisiatif pro-Hamas”. Washington bahkan menyerukan kepada sekutu-sekutunya untuk menolak akses pelabuhan bagi kapal-kapal tersebut. Sikap ini dinilai para pengamat sebagai bentuk dukungan berkelanjutan terhadap agresi Israel, sekaligus pengabaian terhadap krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza.
