Loading

Ketik untuk mencari

Eropa Palestina

Aktivis Pro-Palestina Pilih Tak Kembali ke Penjara Inggris, Tolak Dilabeli ‘Tawanan Perang’ dan Dicap ‘Teroris’

Aktivis Pro-Palestina Kabur dari Penjara Inggris, Tolak Dilabeli ‘Tahanan Perang’

POROS PERLAWANAN – Seorang aktivis berusia 33 tahun dari Palestine Action, Sean Middlebrough memilih tak kembali ke penjara di Inggris setelah diberi jaminan sementara untuk menghadiri pernikahan saudaranya.

Diberitakan ISNA, dikenal dengan nama “Shibby”, Middlebrough mengeluarkan pernyataan kepada The Electronic Intifada pada Senin 10 November bahwa dia bukan teroris dan menentang penahanannya yang dianggap tidak adil.

Setelah pembebasan bersyarat selama empat hari pada 23 Oktober, Middlebrough tidak kembali ke penjara Wandsworth di London. Sumber-sumber mengonfirmasi kepada The Electronic Intifada bahwa ia berhasil menghindari pemeriksaan polisi di rumahnya tanpa sepengetahuan keluarganya.

Middlebrough, yang berasal dari Liverpool, sedang ditahan untuk kali ketiga karena keterlibatannya dalam protes pada Agustus 2024 di fasilitas senjata Elbit di Filton, dekat Bristol. Elbit Systems dikenal sebagai salah satu produsen senjata terbesar Israel, yang menjalankan operasi signifikan di Inggris.

Selama demonstrasi di Filton, para aktivis dilaporkan mengendarai van ke dalam pabrik, menyebabkan kerusakan senilai $2,5 juta pada peralatan militer, termasuk quadcopter bersenjata yang digunakan oleh Militer Israel dalam genosida di Gaza.

Enam orang ditangkap di lokasi dan dijerat dengan tuduhan kerusakan kriminal dan kerusuhan kekerasan. Total 24 orang kemudian ditahan oleh polisi kontra-terorisme Inggris terkait aksi tersebut.

Sidang Middlebrough dijadwalkan pada April 2026, dan ia telah menghabiskan lebih dari setahun dalam tahanan pra-sidang, jauh melebihi batas enam bulan yang biasanya diterapkan untuk tahanan pra-sidang.

“Saya tidak melarikan diri,” kata Middlebrough. “Saya menolak untuk ditahan sebagai tawanan perang di penjara Inggris. Secara mengejutkan, 23 rekan terdakwa saya yang heroik tetap ditahan setelah kami diculik oleh polisi kontra-terorisme.”

Pemerintah Inggris menunjuk Palestine Action sebagai “kelompok teroris” pada 5 Juli 2024. Keputusan ini menuai kritik dari PBB atas apa yang disebutnya sebagai penyalahgunaan yang mengkhawatirkan terhadap undang-undang kontra-terorisme.

Middlebrough mengkritik taktik polisi selama penangkapannya. Dia menyatakan bahwa mereka menggunakan langkah-langkah kontra-terorisme, meskipun ia tidak didakwa dengan tuduhan terkait terorisme. “Kami diserbu, keluarga kami ditahan, dan senjata diarahkan ke kepala kami,” katanya.

Salah satu pendiri Palestine Action, Huda Ammori mengatakan bahwa tuduhan terhadap para aktivis telah secara salah dikaitkan dengan terorisme. “Meskipun 24 orang Filton menghadapi tuduhan non-terorisme, jaksa penuntut mengeklaim adanya ‘hubungan terorisme’, yang dapat menyebabkan hukuman lebih berat jika mereka dinyatakan bersalah,” jelasnya.

Middlebrough menggambarkan kondisi penjara yang dia alami sebagai sangat keras. Menurutnya, dia ditahan di sel tunggal dan sering dikurung hingga 23 jam sehari.

“Saya hampir tidak mendapatkan makanan yang layak, dan hak-hak saya sangat dibatasi,” tambahnya.

Terlibat dengan Palestine Action sejak Januari 2022, Middlebrough telah berpartisipasi dalam berbagai protes menentang pendudukan Israel atas Palestina.

Penahanan sebelumnya termasuk dakwaan konspirasi atas dugaan rencana untuk menutup Bursa Efek London pada Januari 2024, dan penangkapan sebelumnya pada 15 Mei 2023 selama protes memperingati Hari Nakba.

“Kami bukan teroris,” tegas Middlebrough. “Ketika kami menyaksikan genosida terhadap rakyat Palestina yang didukung oleh Inggris, ini adalah kewajiban moral kami untuk bertindak menentangnya. Beberapa rekan saya dari Filton 24 sedang melakukan mogok makan aktif untuk pembebasan segera dan persidangan yang adil.”

Enam aktivis Palestine Action telah melakukan mogok makan sejak 2 November, bertepatan dengan peringatan deklarasi Balfour.

“Mereka adalah yang terbaik di antara kami, dan kami harus mendukung perjuangan mereka,” tekan Middlebrough.

Ammori menuduh Pemerintah Inggris memanfaatkan undang-undang kontra-terorisme untuk menekan mereka yang berusaha mencegah genosida sambil melindungi tersangka pelaku kejahatan perang Israel.

“Baik Middlebrough maupun 32 orang lainnya yang saat ini ditahan tidak seharusnya berada di penjara,” tegasnya.

Palestine Action sedang menunggu sidang peninjauan yudisial atas larangan organisasinya, yang dijadwalkan akan digelar pada 25 hingga 27 November.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *