Aktivis Wanita Asal Finlandia akan Tuntut Pemerintah UEA atas Penyiksaan Saat Dirinya di Penjara
POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, aktivis hak-hak perempuan Finlandia, Tiina Jauhiainen menceritakan penderitaan yang ia alami selama penahanannya di Uni Emirat Arab (UEA), mengatakan bahwa dia akan mengambil tindakan hukum terhadap Pemerintah Emirat atas pemenjaraan dan penyiksaannya.
Menurut Emirates Leaks, Jauhiainen berencana menarik perhatian masyarakat internasional atas pelanggaran HAM berat yang dilakukan di negara Teluk Persia itu.
Jauhiainen mengumumkan dalam sebuah pertemuan yang diadakan di kota Jenewa, Swiss pekan lalu bahwa dia tidak akan tinggal diam menghadapi apa yang dia alami selama berada di balik jeruji besi dan bahwa dia bermaksud untuk mengambil tindakan hukum di pengadilan hukum Eropa dan menuntut UEA atas penyiksaannya.
Selama acara tersebut, dia mengatakan bahwa pasukan keamanan Emirat memenjarakannya di tempat yang tidak diketahui dan sangat dingin, berulang kali mengancamnya dengan kematian, dan memaksanya untuk menulis pengakuan dan menandatangani surat resmi dalam bahasa Arab.
Jauhiainen dulu tinggal di Uni Emirat Arab. Dia ditangkap dan disiksa karena berpartisipasi dalam upaya gagal Putri Latifa, putri Perdana Menteri UEA, Sheikh Mohammad bin Rashid Al Maktoum, untuk melarikan diri dari ayahnya pada 2018.
Aktivis Finlandia itu kemudian berbicara kepada para wanita Inggris, dengan mengatakan, “Saya ingin menyarankan Anda untuk berpikir dua kali sebelum bepergian ke UEA dan jangan pernah tertipu oleh citra [yang disebut] masyarakat yang aman dan toleran yang coba digambarkan oleh beberapa orang.”
Kembali pada Maret 2020, tahanan wanita Emirat, Maryam al-Balushi mencoba bunuh diri di pusat penahanan di UEA dengan memotong pembuluh darah di lengannya, beberapa bulan setelah dia melaporkan menjadi sasaran berbagai bentuk penyiksaan dan diancam dengan pemerkosaan.
Kampanye Internasional untuk Kebebasan di UEA (ICFUAE) mengatakan dalam sebuah pernyataan pada saat itu bahwa Balushi melakukan bunuh diri di Penjara al-Wathba, tepat di luar Ubu Kota Abu Dhabi, karena memburuknya kondisi psikologisnya setelah diancam oleh kantor kejaksaan publik karena dia menolak untuk merekam pengakuan yang akan dipublikasikan melalui saluran resmi.
Balushi ditangkap pada 19 November 2015 dan didakwa membiayai “terorisme” setelah menyumbangkan uang untuk keluarga Suriah. Dia menegaskan donasi itu dilakukan dengan itikad baik, menurut ICFUAE.
Sumber hak asasi manusia, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, juga mengungkapkan bahwa Balushi tidak diberikan perawatan medisnya selama berbulan-bulan saat ia mengidap sirosis hati dan batu ginjal.
Pihak berwenang UEA juga menolak perawatan tahanan wanita lain, yang diidentifikasi sebagai Amina al-Abdouli, yang menderita anemia dan penyakit hati.
Pada Mei 2019, tahanan wanita Alia Abdel Nour meninggal karena kanker setelah ditolak aksesnya ke perawatan medis mendesak oleh petugas penjara.
