Al-Houthi: Kaburnya para Marinir AS Tanda Kegagalan Washington Kuasai Yaman
POROS PERLAWANAN – Dalam pidato pada Selasa 11 Februari kemarin, Pemimpin Ansharullah, Sayyid Abdulmalik Badrudin al-Houthi menyoroti kaburnya para marinir AS setelah kemenangan Revolusi 21 September di Yaman.
“Ini adalah kemenangan besar bagi rakyat Yaman. Kaburnya mereka adalah tanda kegagalan proyek Washington untuk menguasai Yaman. Selama bangsa-bangsa masih dikuasai AS, mereka tidak bisa merasakan kebebasan dan kemerdekaan sejati,” kata al-Houthi, al-Alam melaporkan.
“Terbebas dari cengkeraman AS adalah penjamin kemuliaan dan kemerdekaan bangsa Yaman.”
Ia menyebut AS dan Israel sebagai dua sisi sebuah koin. Al-Houthi menyatakan, keserakahan AS jelas terlihat dalam pernyataan-pernyataan Trump.
“AS menganggap Umat Islam sebagai sapi perah dan suapan yang siap dikunyah.”
Di bagian lain pidatonya, al-Houthi menyoroti peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran yang ke-46. Ia menyampaikan ucapan selamat atas peringatan tersebut dan mengatakan,”Iran memperkenalkan Revolusi Islamnya sebagai pembela terbesar Palestina. Iran mendukung Perlawanan di hadapan AS-Israel.”
“Tindakan-tindakan Republik Islam Iran telah mewujudkan capaian-capaian besar bagi Arab.”
Pemimpin Ansharullah menyebut AS sebagai dalang penyebaran kerusakan moral. Ia menegaskan, proyek AS adalah menjadikan Yaman berada di ambang keruntuhan.
“Sebuah bangsa Muslim tidak akan mulia selama masih dikendalikan AS.”
“Salah satu konspirasi AS adalah meruntuhkan Yaman dari sisi ekonomi. AS juga berupaya melakukan infiltrasi ke pusat-pusat pendidikan, kesehatan, dan yudikatif Yaman.”
Al-Houthi menyebut proyek Zionis sebagai ancaman berbahaya bagi negara-negara di Kawasan, yang tujuannya adalah mendisintegrasi negara-negara Muslim serta menguasai mereka.
“Dukungan untuk Palestina dan perlawanan warga Gaza adalah tugas bagi seluruh orang merdeka. Berlanjutnya kehadiran pasukan Israe di Lebanon tidak bisa diterima.”
“AS tidak pernah berkawan dengan siapa pun. AS hanya memandang hina selainnya dan berusaha menjaga hegemoninya,” tegas al-Houthi.
