Al-Jolani yang Terus Merengek & Trump yang Sibuk Main Golf
POROS PERLAWANAN – Meski Abu Mohammad al-Jolani tak lelah mengetuk pintu Gedung Putih dengan dalih kebijakan transparan dan janji-janji manis demi dukungan Amerika Serikat, Donald Trump memilih memegang stik golfnya ketimbang menanggapi rengekan tersebut.
Sikap Amerika yang Dingin dan Tak Tergoyahkan
Pendekatan Amerika terhadap Suriah di bawah kepemimpinan Jolani jelas berbeda dengan gaya Eropa yang berusaha memanfaatkan kekosongan pasca-kejatuhan Damaskus. Sayangnya bagi Jolani, sikap Washington lebih mirip tetangga yang pura-pura tidak mendengar ketukan pintu, meskipun bunyinya memekakkan telinga. Apalagi, sanksi berat dari AS tetap melekat erat seperti label harga yang sulit dilepas.
Pengawasan Ketat ala Amerika: Kami Melihat, Tapi Tak Mau Repot
Setelah rezim Assad tumbang pada era Joe Biden, Gedung Putih sempat menunjukkan wajah ramah. Biden dengan bijak menyatakan, “Rakyat Suriah kini punya peluang membangun kembali negara mereka,” sambil mengingatkan bahwa jejak terorisme tak bisa diabaikan begitu saja. Namun, ketika tongkat estafet beralih ke Trump, nada bicara berubah drastis. “Suriah punya masalah mereka sendiri. Kita tak perlu ikut campur,” ujar Trump, seolah menegaskan bahwa drama di Suriah hanyalah tontonan dari kejauhan.
Bahkan ketika Menteri Luar Negeri Jolani, Asaad al-Shaibani, hadir dalam konferensi internasional di Paris pada Februari 2025, harapan akan perhatian Amerika tak lebih dari fatamorgana. Washington tetap bungkam, seakan-akan masalah Suriah hanyalah gangguan latar belakang yang tidak layak masuk agenda utama.
Militer Amerika: Hadir Tanpa Peduli
Sejak membantu Pasukan Demokratik Suriah (SDF) melawan ISIS pada 2014, Amerika memang tak pernah benar-benar pergi. Dengan 10.000 personel yang kini bercokol di pangkalan Al-Tanf, kehadiran militer AS di Suriah lebih mirip tamu yang enggan pulang, meskipun tuan rumah baru sudah berganti. Namun, kehadiran ini bukan untuk membantu Jolani, melainkan demi memastikan bahwa tak ada pihak lain yang bermain terlalu jauh.
Suriah: Sekadar Titik di Peta Geopolitik Trump
Pendukung Jolani boleh saja berharap bahwa kejatuhan Assad akan membuka jalan bagi hubungan mesra dengan Washington. Sayangnya, bagi Trump, Suriah hanyalah titik kecil di peta geopolitik yang tak cukup penting untuk mengganggu jadwal golfnya. Meski delegasi AS sempat dua kali berkunjung ke Damaskus, hasilnya nihil—sanksi tetap berlaku, dan pintu investasi asing tetap tertutup rapat.
Ketidakpercayaan yang Tak Kunjung Luntur
Michael Singh dari Institut Perdamaian Amerika menyarankan agar AS bersikap pragmatis dan membangun kepercayaan dengan Jolani. Namun, tampaknya Trump lebih tertarik pada angka handicap-nya daripada membangun hubungan dengan pemimpin Suriah yang baru itu. Bahkan ketika Trump memutuskan untuk menangguhkan bantuan luar negeri, Jolani tak bisa berbuat banyak selain terus mengetuk pintu yang tak kunjung terbuka.
Rengekan yang Tak Berbalas
Meski Jolani sudah membuka pintu Damaskus selebar-lebarnya untuk Amerika, Trump tetap tak bergeming. Suriah mungkin penting bagi aktor regional seperti Arab Saudi dan Turki, tetapi bagi Trump, urusan di Timur Tengah hanyalah gangguan kecil yang tak sebanding dengan keseruan mengincar hole-in-one. Jadi, selama minyak Suriah masih bisa dieksploitasi dan pangkalan militer tetap aman, Washington tak perlu repot-repot merespons rengekan Jolani yang terus bergema di kejauhan. [PP/MT]
Referensi dan Rujukan
1. Biden, J. (2025). Official White House Statement on Syria. Washington, DC: The White House.
2. Trump, D. (2025). Exclusive Interview with Fox News. Washington, DC: Fox News.
3. Rubio, M. (2025). Speech in Israel on the Situation in Syria. Tel Aviv: U.S. Embassy.
4. Singh, M. (2025). Diplomatic Approach to Post-Assad Syria. Washington, DC: United States Institute of Peace.
5. Wilson, J. (2025). Interview with Al-Hurra. Washington, DC: Al-Hurra TV Channel.
6. U.S. Department of the Treasury (2025). Report on Sanctions Relief for Syria. Washington, DC: Department of the Treasury.
7. Pentagon (2024). Report on U.S. Military Personnel in Syria. Washington, DC: United States Department of Defense
