Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Prosesi Pengiringan Jenazah Syahid Nasrallah adalah ‘Badai Perlawanan’

Prosesi Pengiringan Jenazah Syahid Nasrallah adalah ‘Badai Perlawanan’

POROS PERLAWANAN – Prosesi pengiringan jenazah Syahid Sayyid Hasan Nasrallah pada Minggu 23 Februari kemarin merupakan “Badai Perlawanan”, sekaligus jawaban terhadap Benyamin Netanyahu yang kerap mengeklaim telah melenyapkan faksi Perlawanan terpenting di Kawasan (Hizbullah).

Dalam wawancara dengan al-Alam, dosen ilmu politik Universitas al-Khalil, Imad al-Bashtawi mengatakan,”Jika orang-orang merdeka di dunia menangis satu kali untuk ‘Husain Zaman Ini’ (Sayyid Nasrallah), rakyat Palestina menangisinya hingga ribuan kali.”

“Sebelum syahadah Sayyid Nasrallah, Hizbullah selama satu tahun penuh berdiri di sisi Palestina. Hizbullah adalah pembela sejati dan efektif (untuk Palestina). Mereka adalah front yang kompak di hadapan Rezim Israel dan AS selaku mitra serta sekutunya di perang Gaza.”

“Hal yang perlu dicermati dalam masalah Palestina adalah, seluruh kalangan di Palestina, baik itu sayap kiri, nasionalis, sekular, atau Islamis, memiliki pandangan seragam terhadap Syahid Nasrallah. Ini adalah suatu hal yang langka dalam sejarah Palestina, bahwa berbagai partai, faksi, elite, dan cendekiawan Palestina memiliki pendapat serupa tentang satu figur.”

“Prosesi pengiringan jenazah hari ini adalah Badai Perlawanan. Badai ini adalah jawaban kepada PM Israel, Benyamin Netanyahu yang mengaku telah memusnahkan Poros Perlawanan terpenting di Kawasan. Di Palestina, Lebanon, Yordania, dan seluruh Poros ini, Perlawanan tidak bersifat figur sentris. Dengan demikian, tidak bisa dikatakan bahwa sebuah kelompok hancur hanya karena Sekjennya diteror.”

“Pengalaman perjuangan kita sebagai orang Palestina dan Perlawanan membuktikan, teror terhadap seorang Sekjen justru akan memperkuat faksi yang bersangkutan. Sebab itu, ada ungkapan terkenal di tengah rakyat Palestina, yaitu: faksi yang Sekjennya gugur tidak akan remuk.”

“Masalah Palestina bukan masalah retoris, tapi sebuah pengalaman revolusioner. Sebab itu, intifada dimulai 4 bulan setelah pembebasan selatan Lebanon di tahun 2000. Sebab, rakyat Palestina mengatakan bahwa Hizbullah mampu mematahkan mitos bahwa ‘Israel tak terkalahkan.’ Jika begitu, kita pun bisa mengalahkannya,” tegas al-Bashtawi.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *