Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Analis AS Peringatkan Trump: Perang dengan Iran Berarti ‘Bunuh Diri’

POROS PERLAWANAN — Rencana opsi militer Amerika Serikat terhadap Iran memicu peringatan dari kalangan Militer dan analis senior. Sejumlah jenderal purnawirawan menilai serangan besar berpotensi berubah menjadi konflik panjang, mahal, dan menelan korban signifikan di pihak AS serta sekutu.

Majalah Foreign Policy dalam artikel berjudul “Will Trump’s Luck Run Out if He Attacks Iran Again?” karya John Haltiwanger, 24 Februari, melaporkan bahwa Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi militer. Langkah itu dibahas di tengah jalur diplomasi tidak langsung antara Washington dan Teheran terkait program nuklir Iran. Peningkatan kehadiran Militer AS di Kawasan membuka spektrum pilihan, dari serangan udara terbatas hingga operasi berskala luas.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Kaine mengingatkan risiko eskalasi. Serangan besar dapat berkembang menjadi pertempuran berkepanjangan dengan biaya tinggi dan korban di pihak pasukan Amerika maupun mitra regional.

Empat jenderal purnawirawan yang diwawancarai Foreign Policy menyampaikan kekhawatiran serupa. Mereka menyoroti kompleksitas sistem pertahanan udara Iran serta penyebaran target strategis yang luas dan terintegrasi. Operasi terhadap Iran dinilai jauh lebih rumit dibanding persepsi publik.

Penilaian tersebut muncul meski Militer AS memiliki keunggulan teknologi dan proyeksi kekuatan global. Para perwira senior menekankan pengalaman konflik sebelumnya di Timur Tengah sebagai pelajaran mahal dari sisi politik, ekonomi, dan militer.

Kritik keras juga datang dari jurnalis dan penulis Amerika, Chris Hedges. Dalam opini terbarunya, Hedges menulis: “Perang dengan Iran adalah bunuh diri.”

Hedges menilai kombinasi kepemimpinan agresif dan pendekatan negosiasi yang lemah berisiko menyeret AS ke konflik regional tanpa mandat Kongres serta tanpa dukungan publik luas. Potensi perang disebut sebagai bencana baru di Timur Tengah.

Menurut Hedges, Iran bukan Irak atau Afghanistan. Negara itu termasuk terbesar ke-17 di dunia dengan populasi hampir 90 juta jiwa dan kapasitas militer signifikan. Dalam skenario konfrontasi terbuka dengan gabungan kekuatan AS dan Israel, Iran diperkirakan mampu menimbulkan kerusakan cepat dan luas.

Risiko lain adalah kemungkinan penutupan Selat Hormuz, jalur distribusi energi global yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Gangguan di jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang ekonomi global. Fasilitas energi, kapal militer, serta pangkalan AS di Kawasan juga berisiko menjadi sasaran balasan.

Hingga kini belum ada keputusan resmi terkait operasi militer. Diplomasi masih berjalan, sementara ketegangan tetap tinggi. Sejumlah analis menilai setiap langkah militer terhadap Iran akan membawa dampak strategis jangka panjang bagi stabilitas Kawasan dan ekonomi dunia.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *