Analis INSS: Israel Ibarat ‘Bebek di Arena Tembak’ di Hadapan Rudal Iran
POROS PERLAWANAN — Seorang analis keamanan dari Institute for National Security Studies (INSS) menilai Israel berada dalam posisi rentan menghadapi ancaman rudal Iran akibat belum adanya strategi nasional yang jelas. Penilaian itu muncul dalam analisis berjudul “Ducks in a Shooting Gallery: In the Absence of a National Strategy” yang terbit pada 15 Februari.
Dr. Shmuel Harlap menulis kondisi keamanan Israel menyerupai sasaran terbuka di tengah ancaman rudal balistik. Analisis tersebut menyoroti lemahnya kerangka strategi jangka panjang dalam menghadapi perkembangan Militer Iran.
“Israel seperti bebek di arena tembak di hadapan rudal Iran”, tulis Harlap dalam publikasi INSS.
Tulisan itu mengulas konsep strategi sebagai upaya membangun kekuatan dan mengubah keseimbangan situasi. Harlap merujuk pandangan Profesor strategi, Lawrence Freedman yang mendefinisikan strategi sebagai seni membangun kekuatan dan kemampuan memperoleh keunggulan dari kondisi awal yang terbatas.
Harlap menekankan strategi tidak hanya menyangkut langkah yang harus dilakukan, tetapi juga batas tindakan yang perlu dihindari, termasuk perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata sesuai hukum internasional.
Analisis juga menyinggung perdebatan filosofis tentang keberadaan, ideologi, serta narasi kekuasaan dalam konflik modern. Dalam konteks keamanan nasional, Harlap menilai literatur strategi sering mengabaikan kondisi nyata berupa kerentanan atau pasivitas.
“Keadaan menjadi sasaran empuk merupakan kondisi empiris yang sering diabaikan dalam diskursus keamanan nasional”, tulisnya.
Menurut Harlap, ancaman rudal balistik Iran terhadap infrastruktur dan pusat populasi Israel menciptakan tekanan keamanan langsung. Ketidakmampuan mencegah peluncuran rudal dinilai menempatkan negara dan warga sipil dalam situasi rawan.
Ia menilai inti strategi keamanan harus memastikan warga tidak menjadi sasaran serangan. Upaya itu memerlukan doktrin militer yang jelas serta keputusan politik yang terarah.
“Pemerintah harus menentukan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya untuk mencegah kondisi tersebut”, tulis Harlap.
Analisis tersebut memunculkan kembali perdebatan internal mengenai arah strategi keamanan Israel, terutama di tengah meningkatnya kemampuan rudal Iran dan dinamika konflik Kawasan.
Diskursus ini menunjukkan tantangan utama keamanan modern tidak hanya berkaitan dengan kekuatan senjata, tetapi juga kesiapan strategi, doktrin pertahanan, serta kemampuan membaca ancaman jangka panjang.
