Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Analisis Kayhan: Retorika Ancaman AS, Narasi Perlawanan, dan Memori Konflik Kawasan

POROS PERLAWANAN — Harian Kayhan memuat analisis Hossein Shariatmadari berjudul “Khoda injast, nav-e New Jersey kojast?! (Tuhan ada di sini, di mana kapal perang New Jersey?!)” yang menyoroti retorika ancaman Amerika Serikat serta respons ideologis, historis, dan politik dari Iran. Tulisan terbit Senin 16 Februari dan mengaitkan dinamika global dengan memori konflik, simbol keagamaan, serta strategi komunikasi politik.

Shariatmadari membuka analisis dengan menempatkan pola ancaman Washington sebagai bagian dari tekanan psikologis dalam diplomasi. Gaya komunikasi Presiden AS, Donald Trump dinilai membangun ketidakpastian untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi internasional.

Pendekatan tersebut dikaitkan dengan konsep “teori orang gila” dalam operasi psikologis. Strategi ini pernah dilekatkan pada Presiden AS, Richard Nixon pada masa Perang Vietnam, ketika citra pemimpin yang tidak terduga digunakan untuk menekan lawan dan memaksa konsesi.

Tulisan juga mengangkat pernyataan Nikki Haley pada periode menjabat sebagai Perwakilan AS di PBB. Dalam wawancara setelah masa tugas, Haley mengungkap dorongan membangun citra kepemimpinan yang sulit diprediksi sebagai instrumen menghadapi pihak yang berseberangan. Analisis memosisikannya sebagai bagian dari taktik diplomasi berbasis persepsi.

Bagian berikut memuat rujukan religius dan historis dalam respons Iran. Shariatmadari menyinggung pandangan tokoh-tokoh Revolusi terkait ketahanan menghadapi tekanan eksternal. Narasi tersebut menempatkan keyakinan, solidaritas politik, dan pengalaman perjuangan sebagai fondasi sikap negara.

Ingatan konflik di Teluk Persia turut diangkat. Peristiwa yang melibatkan Militer Amerika digunakan sebagai contoh rivalitas panjang dan dampaknya terhadap pembentukan identitas politik Iran. Memori tersebut diposisikan sebagai sumber legitimasi dalam merespons tekanan global.

Analisis juga menyoroti peristiwa 1980-an di Lebanon saat kehadiran Militer Amerika menjadi fokus konflik Kawasan. Kisah yang berkembang dalam wacana perlawanan lokal dipresentasikan sebagai contoh perubahan keseimbangan kekuatan di lapangan serta dampak konflik asimetris terhadap kekuatan besar.

Dimensi psikologis menjadi penekanan penting dalam tulisan. Media, pidato politik, dan simbol religius dipandang berperan membangun kepercayaan diri publik sekaligus menantang dominasi narasi global yang dibentuk kekuatan besar.

Tulisan tersebut menegaskan konflik modern berlangsung di dua ruang sekaligus. Medan militer tetap menentukan, tetapi pertarungan persepsi publik memiliki pengaruh setara. Citra, simbol, dan memori sejarah digunakan untuk mobilisasi dukungan serta legitimasi kebijakan.

Analisis Kayhan hadir saat ketegangan geopolitik terus meningkat, mulai dari rivalitas Iran–Amerika hingga dinamika keamanan Timur Tengah. Situasi ini membentuk lanskap politik baru yang menautkan ideologi, sejarah, dan strategi komunikasi dalam satu kerangka.

Publikasi ini memperlihatkan cara media ideologis membaca situasi internasional. Peristiwa global dipadukan dengan memori Revolusi, pengalaman konflik, serta simbol keagamaan untuk memperkuat narasi kemandirian dan ketahanan nasional.

Tulisan tersebut menjadi bagian dari arus wacana yang lebih luas di Kawasan, ketika politik, militer, dan identitas terus membentuk persepsi publik. Dalam konteks itu, analisis berfungsi sebagai alat pembingkai posisi politik sekaligus sarana komunikasi strategis dalam menghadapi tekanan global.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *