Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Ancaman Trump Picu Kemarahan di Oman: Muscat Tidak Akan Tunduk

POROS PERLAWANAN — Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Oman terkait Selat Hormuz memicu gelombang kemarahan di kalangan elite politik, akademisi, dan intelektual Oman. Mereka menyebut pernyataan Trump sebagai bentuk arogansi dan intimidasi yang tidak dapat diterima, serta menegaskan bahwa Muscat tidak akan tunduk pada politik pemerasan.

Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan Oman apabila negara Teluk itu “campur tangan” dalam isu Selat Hormuz. Dalam pidatonya di pangkalan militer Fort Myers, Presiden AS itu mengatakan bahwa Selat Hormuz “akan tetap terbuka untuk semua pihak dan Amerika akan menjaganya.”

“Jika Oman tidak bertindak sebagaimana negara lain, kami akan dipaksa untuk menghancurkannya,” kata Trump.

Pernyataan tersebut segera memicu kecaman luas di Oman. Sejumlah akademisi, peneliti, dan tokoh media menilai ucapan Trump mencerminkan kegagalan politik Washington di kawasan dan upaya menekan negara-negara yang menolak tunduk pada agenda Amerika Serikat dan Israel.

Pemimpin redaksi surat kabar Al-Ru’ya, Hatem al-Ta’i, mengaitkan pernyataan Trump dengan “krisis mendalam dan kompleks” yang sedang dihadapinya. Ia mengatakan Trump “tidak mampu berperang” dan menyebut kegagalan proyek “Kesepakatan Abraham” sebagai salah satu faktor di balik retorika tersebut.

“Trump menggunakan ancaman dan penghancuran untuk menutupi kegagalannya menyelesaikan persoalan kawasan,” ujar al-Ta’i pada Kamis (28/5).

Profesor Universitas Oman, Ali bin Masoud al-Ma’shani, mengatakan kebijakan agresif Amerika Serikat terhadap Iran dan kawasan justru mendorong Teheran memperkuat kemampuan pertahanan dan militernya.

Sementara itu, akademisi Oman lainnya, Saif al-Ma’mari, menilai pernyataan Trump sebagai upaya “meminggirkan peran Oman” terkait perang Amerika-Israel melawan Iran.

“Oman tetap konsisten pada posisinya terhadap perang Amerika-Israel atas Iran dan tidak akan terlibat di dalamnya,” katanya.

Peneliti politik Mohammed Saeed al-Futaisi menegaskan bahwa Oman “tidak dapat diajak bicara dengan bahasa ketergantungan ataupun kompromi.” Ia juga mengutip pernyataan mendiang Sultan Qaboos mengenai kemampuan Oman mempertahankan kedaulatan dan wilayahnya.

“Oman adalah kekuatan regional yang tidak berbicara dengan bahasa transaksi maupun ketergantungan,” ujarnya.

Dosen Universitas Oman, Laila al-Abriah, juga menegaskan bahwa Oman tidak dapat diatur melalui ancaman.

“Siapa pun yang mengandalkan diamnya Oman berarti tidak memahami kebesaran dan kedaulatannya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Oman selama ini konsisten mendorong perdamaian dan stabilitas kawasan serta tidak berpihak dalam konflik bersenjata.

Akademisi Oman, Zahir al-Ghasini, turut menyoroti pentingnya posisi diplomatik Oman sebagai “mediator terpercaya” di kawasan. Menurutnya, Muscat memainkan peran penting dalam menjembatani pihak-pihak yang bertikai dan mendorong penyelesaian damai konflik regional.

Pakar Teluk dan hubungan internasional, Abdullah Baaboud, menegaskan bahwa Oman akan tetap mempertahankan pendekatan damainya dan tidak akan tunduk pada tekanan Trump maupun Benjamin Netanyahu.

“Oman tidak akan menandatangani Kesepakatan Abraham yang tidak berguna,” katanya.

Ia juga menggambarkan bahasa Trump sebagai “kasar, sembrono, berbahaya, dan tidak dapat diterima.”

Peneliti Oman, Nasr al-Busaidi, menyebut Trump sebagai “bodoh dan teroris” serta menuduhnya berada di bawah pengaruh “proyek Zionis.”

“Trump berusaha menyesatkan opini publik melalui bahasa ancaman dan intimidasi,” ujarnya.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi majalah Ishraq, Dr. Hamid al-Saeedi, mengecam “ancaman agresif dan tidak bertanggung jawab” terhadap Oman dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Jurnalis Oman, Abdullah al-Saeedi, bahkan menyebut pernyataan Trump sebagai “kejatuhan media” dari “pemimpin paling bodoh dan paling tidak tahu malu di dunia.”

“Trump, melalui pernyataan ini, memperlihatkan wajah aslinya,” katanya.

Gelombang reaksi tersebut memperlihatkan meningkatnya sensitivitas Oman terhadap tekanan eksternal di tengah memanasnya dinamika kawasan Teluk dan konflik Amerika-Israel dengan Iran.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *