Anggota Parlemen AS Tunda Pembahasan RUU Sanksi terhadap Rusia
POROS PERLAWANAN – Pemimpin Mayoritas Partai Republik di Senat AS, John Thune mengumumkan penangguhan sementara pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) mengenai sanksi baru terhadap Rusia dan mitra dagangnya.
Keputusan ini diambil menjelang pertemuan antara Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin yang dijadwalkan akan berlangsung dalam waktu dekat.
Mengutip laporan Politico yang dilansir oleh IRNA pada Selasa 21 Oktober, Thune menyampaikan dalam wawancara dengan para wartawan bahwa para anggota parlemen memilih menunggu hasil pertemuan Trump–Putin sebelum melanjutkan pembahasan RUU tersebut.
“Senator Lindsey Graham, yang memimpin koordinasi rencana ini dengan Gedung Putih, saat ini sedang berkonsultasi dengan Pemerintah untuk menilai efektivitas pertemuan itu,” ujar Thune.
Menurut Politico, RUU tersebut mendapat dukungan dari lebih dari 80 senator lintas partai, baik Republik maupun Demokrat. Isinya mencakup pengenaan tarif terhadap negara-negara yang mengimpor minyak dan gas Rusia, serta pemberlakuan sanksi sekunder terhadap perusahaan asing yang terlibat dalam sektor energi Rusia.
Namun, percakapan telepon panjang antara Trump dan Putin pada Kamis, 14 Oktober, disebut-sebut membuat Trump ragu mengenai waktu yang tepat untuk melanjutkan pembahasan rancangan kebijakan itu.
Sementara itu, sejumlah anggota Partai Republik di Kongres menyatakan kekhawatiran bahwa pengesahan RUU tersebut tanpa dukungan publik dari Trump dapat menempatkan mereka dalam posisi politik yang sulit, terlebih jika Presiden AS itu kemudian menentangnya.
Trump sebelumnya menyebut bahwa pertemuan berikutnya dengan Putin akan digelar di Budapest, Hungaria, meski hingga kini tanggal pastinya belum ditetapkan.
