Annie Ernaux: Pemenang Nobel yang Tak Lelah Berdiri untuk Palestina
POROS PERLAWANAN – Jangan Biarkan Sejarah Berulang: Berikan Sanksi pada Rezim Genosida dan Apartheid Israel!
Annie Ernaux, penerima Nobel Sastra 2022, bukan hanya seorang sastrawan yang mahir merangkai kata-kata; ia adalah sosok yang lantang menyuarakan keadilan, terutama bagi Palestina.
Ernaux sudah sejak lama memperjuangkan suara-suara yang tertindas di bawah rezim apartheid dan genosida Israel. Melalui tulisan dan tindakan nyata, ia memperingatkan dunia bahwa melawan ketidakadilan adalah tanggung jawab moral yang tak bisa diabaikan.
Baru-baru ini, Ernaux menandatangani sebuah pernyataan bersama lebih dari seribu penulis dunia untuk memboikot Israel. Bagi Ernaux dan para penulis ini, aksi tersebut adalah lebih dari sekadar simbol solidaritas—ia merupakan pernyataan moral terhadap penderitaan yang dialami rakyat Gaza dan Lebanon. Mereka dengan tegas menolak bekerja sama dengan institusi atau acara budaya yang mendukung pendudukan atau pelanggaran hak asasi manusia, menyebut krisis ini sebagai “kemerosotan moral, politik, dan budaya terdalam” abad ini.
Melalui gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) yang didirikan pada 2005, mereka berharap untuk menekan Israel agar menghentikan pendudukan, mengakhiri diskriminasi, dan mengakui hak kembali para pengungsi Palestina. Ernaux, yang telah lama mendukung BDS, berupaya agar komunitas internasional tidak diam terhadap penindasan yang dialami rakyat Palestina. Ia bahkan menyerukan kepada Pemerintah Prancis untuk menghentikan kerja sama budaya dengan Israel, menegaskan bahwa tak ada kompromi dalam memperjuangkan keadilan.
Ernaux juga dikenal vokal dalam memperjuangkan nasib George Ibrahim Abdullah, seorang pejuang Lebanon yang telah dipenjara seumur hidup di Prancis sejak 1980-an. Dalam surat terbukanya, Ernaux memperkenalkan Abdullah sebagai korban penindasan di bawah bayang-bayang CIA dan Mossad. Ia menunjukkan bahwa perjuangannya melawan kolonialisme bukanlah hal baru, tetapi komitmen yang terus ia jaga. Hal ini terlihat dalam artikelnya di Le Monde pada 2017, ketika ia mendukung aktivis Prancis Houria Bouteldja dan menyuarakan keadilan bagi keturunan korban penjajahan.
Pada 2019, Ernaux kembali menunjukkan keberpihakannya dengan memboikot Kontes Lagu Eurovision di Tel Aviv, kota yang dianggap sebagai bagian dari Palestina yang telah diduduki sejak 1948. Dan ketika kekerasan Israel di Masjid Al-Aqsa dan Gaza memuncak pada 2021, Ernaux turut mengecam tindakan brutal tersebut dalam sebuah surat terbuka, menegaskan bahwa perlawanan terhadap penindasan bukanlah pilihan, melainkan kewajiban moral.
Sikap Ernaux memang tidak lepas dari kontroversi. Media pro-Zionis seperti Jerusalem Post dan Times of Israel dengan keras mengecam penghargaan Nobel yang ia terima, menyebut Ernaux sebagai “musuh besar Israel” dan menuduhnya anti-Semit. Namun, banyak akademisi dan aktivis membela Ernaux, menegaskan bahwa kritiknya berfokus pada kebijakan Israel, bukan terhadap Yahudi. Profesor Barbara Winken dari Universitas Ludwig Maximilian bahkan menyatakan bahwa pandangan politik Ernaux adalah bagian dari kebebasan berekspresi yang dihormati di Prancis.
Kini, di usianya yang ke-83, Ernaux tetap berdiri teguh melawan penindasan, menolak diam di tengah ketidakadilan yang melanda. Di dunia yang penuh konflik, ia bersama ribuan seniman lainnya tetap berdiri mendampingi anak-anak Gaza yang terperangkap dalam penderitaan, menyerukan keadilan bagi yang tak bersuara.
Kita bagaimana? Perjuangan ini membutuhkan suara dan dukungan dari kita semua. Mari bergabung dan ambil tindakan nyata. Palestina membutuhkan solidaritas dunia. Jangan biarkan sejarah kelam berulang; saatnya memberikan sanksi tegas kepada rezim yang menebarkan penderitaan. [MT/PP]
Rujukan:
https://bdsmovement.net/
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Annie_Ernaux
