Apa Rencana Pendudukan Internasional di Gaza dan Peran Tony Blair?
POROS PERLAWANAN – Mengingat genosida yang terus dilakukan rezim Zionis di Jalur Gaza, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali melontarkan gagasan baru yang dinilai sebagai upaya mengulur waktu bagi Israel.
Menurut Al Jazeera pada Minggu 28 September, hingga kini jumlah korban jiwa di Gaza mencapai sekitar 65.000 orang. Ratusan ribu lainnya hilang, terluka, mengalami amputasi, atau terpaksa mengungsi. Di tengah tragedi kemanusiaan tersebut, pertempuran lain berlangsung di arena diplomatik.
Majalah Inggris The Economist melaporkan bahwa sejumlah pemerintah dan lembaga pemikir telah menyusun berbagai skenario tentang “hari setelah perang” di Gaza. Di antara inisiatif Eropa, Arab, dan rancangan yang diajukan Hamas, yang paling kontroversial adalah rencana yang dipimpin mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair.
Model Pemerintahan Usulan Blair di Gaza
Menurut laporan The Economist, Blair mengusulkan pembentukan badan pemerintahan di bawah mandat PBB sebagai “otoritas politik dan hukum tertinggi” selama lima tahun. Struktur ini dijalankan dewan beranggotakan tujuh orang dengan dukungan sekretariat kecil, serta didanai negara-negara Teluk.
Proyek tersebut, menurut majalah itu, mendapat dukungan sejumlah tokoh, termasuk menantu Donald Trump, Jared Kushner. Pada Agustus lalu, Trump disebut mengoordinasikan rencana itu bersama Blair, pejabat Amerika, dan Israel, sebelum ditawarkan kepada pemimpin Arab dan Asia.
Namun, sebagian besar warga Palestina menolak gagasan tersebut karena khawatir akan menjadi bentuk baru pendudukan internasional. Kekhawatiran ini diperkuat oleh sejarah kolonial Inggris di Palestina, catatan negatif Blair dalam invasi Irak 2003, serta kegagalannya sebagai utusan Kuartet sebelumnya.
Reaksi Pihak-Pihak Terkait
The Economist mencatat bahwa Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas juga mengincar kembalinya pengaruh di Gaza melalui pemerintahan teknokratis dengan dukungan Arab.
Hamas, di sisi lain, menyatakan siap memberi ruang bagi pemerintahan independen di Gaza asalkan disertai horizon politik yang nyata. Meski demikian, Hamas menolak menghapus perannya dari sektor sipil seperti pendidikan dan kesehatan.
Sebaliknya, Kabinet Israel di bawah Benyamin Netanyahu bersikeras mempertahankan kendali atas Gaza. Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich bahkan terbuka menyebut “peluang ekonomi” dari properti di Gaza. Sedangkan Netanyahu sendiri tidak memberi komitmen apa pun atas rencana Blair, meski ditekan lewat serangkaian panggilan diplomatik.
Pengamat menilai Tel Aviv sengaja memanfaatkan kontroversi seputar “hari setelah perang” untuk mengulur waktu dan menciptakan realitas baru di lapangan.
Detail Tambahan
Surat kabar Haaretz melaporkan bahwa rencana Blair mencakup pembentukan “otoritas internasional” yang bertugas membangun kembali Gaza serta mengelola urusannya selama beberapa tahun dengan mandat Dewan Keamanan PBB. Pasukan multinasional turut dikerahkan untuk mengamankan perbatasan dan mencegah Hamas kembali berkuasa.
Namun, rencana itu tidak memberikan kejelasan tentang kapan dan bagaimana Gaza akan diserahkan kepada Otoritas Palestina. Sumber-sumber Arab memperingatkan Netanyahu bisa memanfaatkan celah ini untuk menyingkirkan Otoritas Palestina dari skenario Gaza.
Sementara itu, Financial Times menambahkan bahwa Blair selama berbulan-bulan secara pribadi melobi gagasan perwalian internasional atas Gaza, meskipun menghadapi penolakan dari sejumlah Ibu Kota Arab.
Menurut laporan itu, rencana Trump-Blair merupakan kombinasi dari beberapa usulan Eropa dan Arab, dengan poin utama: gencatan senjata permanen, pembebasan seluruh tahanan Zionis di Gaza, penggantian pasukan Israel dengan pasukan internasional, serta pemerintahan sementara yang dijalankan komite Palestina di bawah pengawasan internasional. Rencana ini juga menolak segala bentuk pemindahan paksa penduduk Gaza.
Meski begitu, Hamas tidak diberi ruang dalam struktur pemerintahan baru. Otoritas Palestina diproyeksikan secara bertahap mengambil alih, meski nasib akhir Gaza masih belum jelas.
