Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Apa yang Terjadi di Provinsi Hadramaut, Yaman?

POROS PERLAWANAN – Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa pasukan yang berafiliasi dengan suku-suku Yaman telah mengambil alih fasilitas minyak di wilayah timur Provinsi Hadramaut, Yaman selatan.

Menurut Kantor Berita Mehr, pada Minggu 30 November, mengutip Russia Today, pasukan suku memasuki fasilitas minyak PetroMasila di sebelah timur Ibu Kota Hadramaut, Mukalla, pada Sabtu dan menguasai kompleks tersebut. Pasukan penjaga fasilitas milik Perusahaan Petrokimia dan ladang minyak di bawah kendalinya tidak memberikan perlawanan.

Sebelumnya, pasukan Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA ditempatkan di sejumlah titik strategis di Hadramaut, memicu keberatan dari “Pakta Suku Hadramaut”. Kelompok suku itu menyebut langkah STC sebagai “pendudukan” yang bertujuan menguasai provinsi dan sumber daya minyaknya.

Surat kabar Lebanon Al-Akhbar melaporkan bahwa, seiring meningkatnya kekhawatiran internasional mengenai kemungkinan pergeseran skenario “pasukan reaksi cepat” ala Sudan ke Hadramaut, tensi antara kelompok bersenjata pro-UEA dan “Koalisi Suku Hadramaut” yang didukung Saudi meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini menimbulkan kecemasan politik dan publik atas potensi pecahnya konflik militer di provinsi kaya minyak tersebut.

Ketegangan memuncak setelah Dewan Transisi Selatan, melalui Komandan “Pasukan Elite Hadhramaut”, Abu Ali al-Hadhrami mengancam akan menyerang pasukan Perlindungan Hadhramaut yang bersekutu dengan koalisi suku, serta menuduh mereka menjalankan agenda asing yang mendorong perpecahan Yaman.

Koalisi suku yang didukung Saudi, dipimpin Sheikh Amr bin Habreesh, menolak ancaman tersebut. Mereka bertekad memperluas pengaruh di seluruh provinsi dan membentuk pasukan perlawanan suku untuk mengusir pasukan asing atau kelompok non-Hadramaut. Koalisi menegaskan bahwa pasukan bayaran Emirat bukan representasi masyarakat Hadramaut.

Dalam pernyataan terbaru, koalisi meminta Pasukan Perlindungan Hadramaut segera mengusir pasukan asing dari wilayah itu. Mereka menegaskan bahwa kehadiran apa pun dari luar Hadramaut merupakan bentuk pendudukan dan akan dilawan.

Menanggapi situasi tersebut, pasukan bayaran Emirat menyatakan status siaga dan mengerahkan ratusan kendaraan lapis baja ke sekitar Mukalla. Mereka juga mengancam akan menyerang dataran tinggi minyak yang kini dikuasai koalisi suku. Di sisi lain, suku-suku Hadramaut menetapkan status siaga penuh dan mengerahkan unit mereka ke dataran tinggi serta perbatasan timur, seraya menolak terulangnya kekacauan seperti di provinsi lain.

Koalisi Suku Hadramaut mengecam pengerahan pasukan Emirat ke wilayah mereka dan meminta Riyadh segera turun tangan untuk mencegah eskalasi. Mereka juga memperingatkan kemungkinan memindahkan medan konflik dari dataran tinggi menuju Mukalla dan kawasan pengaruh pasukan transisi di pesisir.

Menurut berbagai sumber, UEA memerintahkan pasukan transisi untuk mengeksekusi rencana penguasaan dataran tinggi minyak dengan memutus jalur pasokan dari Saudi dan mengambil alih fasilitas vital di Lembah Hadramaut serta jalur menuju gurun provinsi itu. Komandan Al-Hadhrami dilaporkan mencoba merekrut para syekh suku di wilayah gurun guna menguasai jalur menuju perbatasan Saudi.

Sementara itu, pasukan khusus Emirat menarik sejumlah unit dari Aden, Abyan, dan Shabwa untuk menjalankan misi baru jauh di dalam Hadramaut. Semua ini terjadi ketika Pemerintahan pro-Emirat di Aden sendiri tengah dilanda kekacauan: mereka baru mencopot Gubernur Hadramaut yang pro-UEA, Mabkhout bin Madhi, dan menggantinya dengan mantan Wakil Perdana Menteri, Salem al-Khanbashi. Namun langkah tersebut dinilai belum cukup untuk meredakan krisis yang sedang berlangsung.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *