Araghchi: Iran Siap Bangun 19 Reaktor Nuklir, Standar Ganda Dunia Harus Berakhir
POROS PERLAWANAN – Dalam pidato diplomatik yang dirilis publik pada Kamis 24 April oleh Surat Kabar Kayhan, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan rencana jangka panjang negaranya untuk membangun setidaknya 19 reaktor nuklir baru sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional. Langkah ini, menurutnya, dapat membuka peluang kontrak bernilai puluhan miliar Dolar, termasuk bagi industri nuklir Barat yang kini stagnan.
Pernyataan itu dibagikan melalui platform X (sebelumnya Twitter), sebagai tanggapan atas keputusan Konferensi Internasional Carnegie tentang Kebijakan Nuklir yang mendadak membatalkan pidato resminya dan mengganti format menjadi debat.
“Ketika dunia berbicara tentang non-proliferasi, mereka seharusnya tidak mengartikan itu sebagai monopoli teknologi oleh segelintir negara bersenjata nuklir. Dialog bukan berarti menyerah; justru konflik-lah yang membahayakan rezim nonproliferasi global,” tegas Araghchi.
Fatwa Haram Senjata Nuklir dan Zona Damai
Araghchi menggarisbawahi bahwa Iran adalah satu-satunya negara di dunia yang secara resmi dan religius menolak senjata nuklir. Fatwa dari Pemimpin Tertinggi Iran yang menyatakan senjata pemusnah massal sebagai haram, menjadi landasan moral dan strategis kebijakan nuklir damai Iran.
Iran, ujarnya, telah sejak 1974 bersama Mesir mengusulkan pembentukan Zona Bebas Senjata Nuklir di Timur Tengah, sebuah inisiatif yang hingga kini masih dihambat oleh keengganan Israel untuk bergabung dalam NPT dan membuka fasilitasnya pada inspeksi IAEA.
“Standar ganda negara-negara Barat yang membiarkan Israel tetap impunitas sembari menekan Iran adalah cermin rusaknya moralitas internasional,” ujar Araghchi.
JCPOA Tak Lagi Cukup, Iran Perlu Kesepakatan Baru
Menanggapi dinamika perundingan nuklir usai keluarnya AS dari JCPOA (2018) dan diberlakukannya kembali sanksi, Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan nuklir lama tak lagi mencerminkan realitas geopolitik dan kebutuhan Iran saat ini.
“Banyak rakyat Iran menilai JCPOA sudah usang. Kami menginginkan perjanjian baru yang benar-benar menjamin kepentingan nasional kami, dan menjawab kekhawatiran semua pihak tanpa menyerah pada tekanan,” ungkapnya.
Araghchi juga membantah tuduhan bahwa Iran menolak kerja sama dengan AS. Sebaliknya, katanya, Iran terbuka terhadap kerja sama ekonomi dan teknologi selama dilakukan atas dasar saling menghormati dan kesetaraan.
Reaktor Nuklir: Dari Bushehr Menuju 19 Reaktor Baru
Saat ini, Iran hanya memiliki satu reaktor aktif di Bushehr. Namun, visi jangka panjang yang diumumkan Araghchi adalah pembangunan 19 reaktor baru, yang tak hanya untuk ketahanan energi, tapi juga membuka pasar bernilai triliunan Dolar yang dapat menghidupkan kembali industri nuklir Barat—terutama Amerika Serikat yang kini kehabisan napas dalam sektor ini.
“Pasar Iran cukup besar untuk menghidupkan kembali industri nuklir Amerika yang stagnan”, tulisnya dalam opini yang terbit di Washington Post.
Nonproliferasi Bukan Monopoli
Araghchi menyimpulkan bahwa keberlangsungan rezim nonproliferasi hanya mungkin terjamin bila seluruh negara terutama pemilik senjata nuklir, menepati komitmen mereka. Ia mengingatkan bahwa Iran, sebagai penandatangan NPT, menuntut hak yang sama untuk mengejar energi nuklir damai.
“Iran bukan pengecualian. Kami tunduk pada kewajiban, dan berhak atas hak-hak kami. Tanpa keadilan dan kesetaraan, tak akan ada perdamaian yang berkelanjutan,” pungkasnya.
