Mahmoud Abbas Hina Hamas, Tokoh Nasional dan Warganet Palestina Murka
POROS PERLAWANAN – Para tokoh nasional Palestina dan warganet mengecam keras pernyataan Kepala Otoritas Palestina (PA), Mahmoud Abbas (Abu Mazen), yang dinilai sebagai penghinaan terbuka terhadap Gerakan Perlawanan. Mereka menegaskan bahwa kata-kata kasar Abbas sesungguhnya mencerminkan pengkhianatannya sendiri, bersama para sekutunya, terhadap rakyat Palestina, serta menunjukkan keberpihakannya yang memalukan kepada musuh.
Menurut laporan Kantor Berita Tasnim pada Kamis 24 April, pernyataan ofensif yang dilontarkan Abbas dalam sidang ke-32 Dewan Pusat Organisasi Pembebasan Palestina di Ramallah menuai gelombang reaksi keras dari berbagai kalangan. Dalam pernyataannya, Abbas secara terang-terangan menyerang pejuang Hamas dan faksi Perlawanan lain, serta menyerukan pembebasan tawanan Israel dengan mengikuti syarat-syarat Zionis.
Abu Mazen, Pengawas Zionis
Anggota Dewan Nasional Palestina, Taysir al-Ali menegaskan bahwa pidato Abbas merupakan bentuk penghinaan terhadap rakyat Palestina. Ia mengatakan, “Pernyataan seperti itu merupakan hambatan serius bagi upaya rekonsiliasi nasional. Tidak mungkin ada persatuan dengan mereka yang telah kehilangan identitas kebangsaannya dan justru menjadi alat penghancur perjuangan rakyatnya sendiri.”
Ia menambahkan bahwa pernyataan Abbas, yang menyalahkan Perlawanan atas kehancuran Gaza dan menyerukan pelucutan senjata serta pembebasan tawanan Israel, adalah cerminan dari sikap tunduk kepada narasi penjajah.
Karikatur dan Kecaman di Dunia Maya
Seniman Palestina, Dr. Alaa al-Qatah bahkan merespons pernyataan itu dengan melukis karikatur yang menggambarkan Abbas sebagai “anjing penjaga” Israel, menggarisbawahi kolaborasinya dengan tentara Pendudukan.
Di media sosial, reaksi tak kalah keras bermunculan. Seorang pengguna menulis: “Demi Tuhan, tak satu pun warga Palestina bangga memiliki pemimpin seperti Abbas. Di saat Zionis terus membombardir Gaza dan mengingkari kesepakatan pertukaran tawanan, Abbas justru menyerang Hamas dengan kata-kata keji yang memalukan”.
Warganet lain menambahkan: “Ucapan-ucapan itu lebih layak diarahkan kepada dirinya sendiri dan para kolaboratornya. Mereka adalah pelayan setia penjajah. Malu kamu, Abu Mazen”.
Pemimpin Gagal, Pengkhianat Bangsa
Sejumlah pengguna menuding Abbas sebagai aktor utama dalam perpanjangan pendudukan dan penghancuran hak-hak rakyat Palestina. Mereka menyatakan bahwa selama Abbas masih berkuasa, penderitaan rakyat Palestina akan terus berlanjut.
Seorang pengguna dengan nada sarkastis mempertanyakan, “Mengapa Anda sibuk mencela Gaza, padahal rakyat Palestina di Tepi Barat setiap hari menjadi korban kekerasan militer dan pemukim Zionis, sementara aparat keamanan PA bekerja sama dengan penjajah dalam hal ini?”
Tuntutan Perubahan Kepemimpinan
Gelombang kritik juga menyerukan perlunya perubahan radikal dalam kepemimpinan Palestina. “Kami berharap akan hadir pemimpin baru yang membela kehormatan dan hak bangsa Palestina, bukan mempermalukannya demi melayani agenda penjajah”, tulis salah satu pengguna.
Majelis Kamp Pengungsi: Abbas Mengkhianati Kehormatan Nasional
Majelis Nasional Kamp Pengungsi Palestina di Jalur Gaza turut menyuarakan sikap. Mereka menyatakan bahwa pernyataan Abbas sejalan sepenuhnya dengan narasi manipulatif Zionis. “Dengan bahasa vulgar dan posisi politik yang memalukan, Mahmoud Abbas tak hanya mengkhianati kehormatan nasional Palestina, tetapi juga mengabdi sebagai mitra keamanan Rezim Pendudukan,” tegas pernyataan mereka.
Menurut mereka, Abbas tidak lagi layak memimpin rakyat Palestina. Dengan melemparkan tanggung jawab atas kejahatan penjajah ke pundak rakyat Palestina, ia justru membela para penjahat itu dari jerat pertanggungjawaban.
Komite Perlawanan Palestina: Senjata adalah Simbol Martabat
Komite Perlawanan Palestina pun mengecam pernyataan Abbas dan menegaskan bahwa tindakan Kepala Otoritas Palestina itu merupakan penghinaan vulgar terhadap para pejuang yang mempertahankan Tanah Airnya.
“Saat Zionis bahkan tak mengizinkan Abbas terbang ke Damaskus atau mengizinkan pejabatnya mengunjungi desa-desa Palestina, ia malah bersikap manis terhadap musuh dan terus menyerang Perlawanan,” tegas mereka.
Pernyataan itu mengingatkan bahwa perlawanan terhadap pendudukan adalah hak sah menurut hukum internasional dan resolusi PBB.
“Senjata Perlawanan akan tetap berada di tangan para pejuang heroik sebagai lambang kehormatan, martabat, dan kebanggaan nasional,” tutup pernyataan tersebut.
