Araghchi: Iran yang Tentukan Waktu dan Cara Akhiri Perang
POROS PERLAWANAN – Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi menegaskan Teheran memegang kendali atas waktu dan cara mengakhiri perang melalui sistem pertahanan mosaik yang terdesentralisasi. Pernyataan itu disampaikan di tengah eskalasi konflik dengan AS–Israel.
Mengutip laporan Al Mayadeen pada Senin 2 Maret, Araghchi menyatakan rakyat Iran dan struktur pertahanan nasional berada dalam posisi menentukan arah akhir konflik.
Dalam unggahan di platform X, ia menulis: “Kami telah menghabiskan dua dekade mempelajari kekalahan tentara Amerika di wilayah yang berbatasan dengan kami di timur dan barat, dan kami telah mengambil pelajaran dari hal tersebut”.
Ia menambahkan, “Pemboman yang menargetkan Ibu Kota kami tidak memengaruhi kemampuan kami untuk berperang. Sistem pertahanan mosaik terdesentralisasi kami memungkinkan kami untuk menentukan kapan dan bagaimana perang akan berakhir”.
Hubungi Menlu Oman
Kementerian Luar Negeri Iran juga mengonfirmasi Araghchi melakukan percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi. Oman selama ini berperan sebagai mediator dalam negosiasi tidak langsung antara Teheran dan Washington.
Dalam komunikasi tersebut, Araghchi menyinggung apa yang ia sebut sebagai pengkhianatan terhadap jalur diplomasi di tengah proses perundingan nuklir. Ia menegaskan Iran tetap berkomitmen mempertahankan kedaulatan dalam kerangka hak sah membela diri.
Kontak bilateral itu berlangsung saat agresi militer masih berlanjut dan jalur diplomatik menghadapi tekanan serius.
Klaim Kesiapan Militer
Dalam wawancara dengan ABC News, Araghchi menyatakan Militer Iran berada dalam posisi siap dan memiliki kemampuan lebih baik dibanding konflik sebelumnya.
“Pasukan Militer Iran berada di posisi mereka dan cukup mampu untuk mempertahankan negara, bahkan lebih siap dan mampu daripada dalam perang sebelumnya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa respons militer dimulai kurang dari dua jam setelah serangan pertama. Target yang disasar mencakup kepentingan Israel dan pangkalan militer AS di Kawasan.
Araghchi juga menuduh pihak yang menentang diplomasi berupaya menggagalkan proses negosiasi ketika pembicaraan menunjukkan kemajuan. Ia menilai kampanye media dan tuduhan terhadap Iran menjadi bagian dari strategi tersebut.
Serangan yang dimulai Sabtu pagi menargetkan berbagai wilayah Iran dan, menurut otoritas setempat, menyebabkan ratusan korban jiwa, termasuk Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior di Teheran.
Perkembangan situasi masih berlangsung dengan tekanan militer dan diplomatik yang berjalan paralel. Arah konflik kini bergantung pada dinamika di lapangan dan ruang negosiasi yang tersisa.
