Axios: Orang-orang Dekat Trump Sesali Perang AS Lawan Iran
POROS PERLAWANAN – Dalam sebuah laporan, Axios menyoroti kesalahan perhitungan yang dilakukan Pemerintahan Donald Trump terkait Iran. Media ini menyatakan bahwa ia telah terjerumus ke dalam “jebakan eskalasi”.
Dilansir Tasnim, Axios menulis bahwa perang yang dilancarkan Donald Trump terhadap Iran kini telah menjadi krisis pertama yang membuat gaya pengambilan keputusannya yang didorong oleh insting, ketergesaaan, dan kesembronoan, menemui jalan buntu.
Menurut laporan tersebut, Trump bertindak berdasarkan insting dan kesembronoan selama lima tahun menjabat sebagai Presiden AS. Namun perang dengan Iran (yang kini memasuki pekan ketiga) merupakan skenario yang tidak dapat diatasi dengan mudah melalui negosiasi atau improvisasi.
Mengapa Perang Ini Berbeda?
Tidak seperti tarif perdagangan, yang dapat diberlakukan atau dicabut dengan cepat, hasil perang dengan Iran berada di luar kendali sepihak Amerika Serikat dan tidak bisa diselesaikan dengan cepat.
Axios menulis bahwa Iran juga memiliki keahlian dalam perimbangan ini. Trump bergerak untuk membantu memecahkan kebuntuan minyak Teluk Persia, tetapi dalam praktiknya telah terjebak dalam “perangkap eskalasi”; suatu situasi yang di situ kekuatan dominan, yang dipaksa untuk menunjukkan keunggulannya, terpaksa melanjutkan serangan yang hasilnya semakin berkurang.
Seorang pejabat senior dari Pemerintahan AS sebelumnya berkata kepada Axios: “Fakta bahwa Iran bermain-main dengan Selat Hormuz telah membuat [Trump] semakin nekat.”
Peran Para Pemangku Kepentingan dan Tujuan yang Bertentangan
Israel, di bawah kepemimpinan Benyamin Netanyahu, mengupayakan perubahan rezim di Iran dan penghancuran militer yang lebih luas.
Menurut Axios, Netanyahu telah berulang kali menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan untuk meyakinkan Trump agar berpihak kepadanya dalam urusan Iran.
Axios menulis bahwa tujuan Iran adalah kelangsungan hidupnya dan membuktikan kemampuannya untuk menimbulkan penderitaan militer dan ekonomi guna mencegah serangan di masa depan.
Negara-negara lain menginginkan aliran minyak dan perdagangan yang lancar di perairan dan wilayah udara Timur Tengah.
Garis Waktu dan Perkiraan
Axios menulis bahwa dengan merangkum pernyataan-pernyataan Trump dan para pembantunya, dapat disimpulkan bahwa Pemerintahannya telah memperkirakan operasi militer intensif selama 4 hingga 6 minggu. Karena itu, 1 April (hari ke-33 perang) menjadi momen krusial untuk evaluasi.
Namun, di Washington dan berbagai Ibu Kota negara-negara di seluruh dunia, para pejabat sedang bersiap menghadapi krisis yang jauh lebih lama.
Barak Ravid dari Axios telah mendengar dari tiga sumber berbeda di Pemerintahan AS dan negara-negara sekutu bahwa ketidakstabilan di Timur Tengah dan keterlibatan AS dapat berlangsung hingga September, bahkan jika perang berubah menjadi konflik intensitas rendah.
Israel juga telah memberi tahu wartawan bahwa mereka bermaksud menyerang ribuan target baru di Iran setidaknya selama tiga minggu ke depan.
Sikap Kontradiktif Trump
Dalam percakapan telepon dengan Financial Times Minggu lalu, Trump menyatakan, “Kami secara praktis telah menghancurkan Iran… Mereka tidak memiliki Angkatan Laut, Pertahanan Udara, maupun Angkatan Udara. Semuanya lenyap. Satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan hanyalah membuat sedikit gangguan dengan menanam ranjau di perairan.”
Kenyataan di Balik Layar
Terlepas dari pernyataan-pernyataan tersebut, sumber-sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada Axios bahwa ada “penyesalan pembeli” di kalangan lingkaran dalam Trump.
Menurut sumber yang dekat dengan Pemerintahan, beberapa pejabat kunci merasa ragu atau menginginkan lebih banyak waktu untuk mempertimbangkannya.
Sumber tersebut mengatakan, “Dia akhirnya berkata: ‘Saya hanya ingin melakukannya’. Dia telah sangat melebih-lebihkan kemampuannya untuk menggulingkan sebuah pemerintahan tanpa mengerahkan pasukan darat.”
Sumber tersebut menambahkan bahwa setelah serangan kilat musim panas lalu dan penculikan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro pada Januari, Trump telah menjadi “kecanduan dengan kesuksesannya sendiri”. Trump melihat beberapa kemenangan yang cepat dan menentukan sebagai tanda kehebatan militer yang luar biasa.
Tantangan di Depan: Eskalasi atau Mundur?
Axios menulis bahwa Trump kini dihadapkan pada keputusan sulit terkait eskalasi militer yang serius.
Beberapa pejabat dekatnya berharap bahwa dengan menunjukkan kemajuan cepat, dia dapat menyatakan kemenangan, tetapi kini tidak jelas bagaimana dia dapat melakukannya dengan meyakinkan.
Masalah besar lainnya, menurut Axios, adalah kurangnya jalur komunikasi yang jelas dengan Iran untuk mencapai kesepakatan yang langgeng.
Pada Jumat malam lalu, Trump menulis di platform media sosial Truth Social: “Iran telah benar-benar dikalahkan dan menginginkan kesepakatan, tetapi bukan kesepakatan yang akan saya terima!”
Axios menulis bahwa Trump mungkin bisa keluar dari perang besok, tetapi pihak Iran bisa tetap menutup Selat Hormuz dan menaikkan harga minyak sedemikian rupa sehingga AS terpaksa harus campur tangan lagi.
Menurut Axios, Iran telah menyatakan baik secara rahasia maupun terbuka bahwa meskipun Trump memutuskan untuk mengakhiri perang, mereka dapat terus menembakkan rudal dan roket hingga mereka mendapat jaminan bahwa ini adalah akhir perang, bukan sekadar gencatan senjata sementara.
