Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Baghaei: Nota Kesepahaman Islamabad Telah Diteken Presiden Iran dan AS

POROS PERLAWANAN – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei mengumumkan, Nota Kesepahaman Islamabad telah ditandatangani secara digital oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Menurut laporan Fars, dalam sebuah wawancara televisi pada Kamis dini hari 18 Juni, Baghaei menyatakan bahwa saat ini, teks tersebut telah secara resmi ditandatangani oleh para Presiden kedua negara.

Ia menjelaskan, awalnya direncanakan penandatanganan resmi dilakukan di Swiss. Namun dalam 24 jam terakhir diputuskan bahwa penandatanganan dilakukan secara virtual oleh kedua Presiden. Salah satu alasan utama keputusan ini adalah agar ketika teks ditandatangani oleh otoritas tertinggi kedua negara, maka konsekuensi atau biaya pelanggaran akan lebih besar.

Mengenai isi nota kesepahaman, Baghaei menyatakan bahwa teks tersebut terdiri dari 14 poin yang mencakup semua isu penting yang menjadi kepentingan dan keamanan nasional Iran. Ia menegaskan, jumlah poin tidaklah penting, melainkan pemenuhan kepentingan nasional yang utama.

Dalam poin pertama nota kesepahaman, Lebanon disebutkan sebanyak tiga kali, dengan penekanan pada penghentian perang di Lebanon serta penghormatan terhadap integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon.

Menurut Baghaei, penandatanganan ini bukan berarti melupakan masa lalu atau pelajaran yang telah dipelajari dengan biaya mahal. Ia menambahkan, pekerjaan kini menjadi lebih sulit karena implementasi perjanjian internasional lebih menantang dibandingkan penyusunannya, terutama dengan pihak yang seringkali tidak mematuhi komitmen.

Baghaei menyatakan bahwa pekerjaan baru saja dimulai. Dalam 60 hari ke depan, kedua pihak akan membahas rincian pelaksanaan bagian tertentu dari dokumen tersebut, termasuk masalah pencabutan sanksi dan isu nuklir.

Mengenai blokade laut, Baghaei menjelaskan bahwa ada kesepakatan timbal balik: Amerika Serikat akan mencabut blokade laut terhadap Iran dalam waktu 30 hari. Sebagai balasannya, Iran akan melakukan hal yang sama terkait lalu lintas di Selat Hormuz. Ia menyebutkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, kapal-kapal Iran telah mulai memasuki pelabuhan tanpa hambatan, yang menandakan bahwa komitmen ini sudah mulai dijalankan.

“Pengelolaan Selat Hormuz akan dilakukan dengan kerja sama antara Iran dan Oman sebagai negara pantai, guna menjamin keamanan pelayaran internasional,” kata Baghaei.

Baghaei menegaskan bahwa kemampuan rudal Iran tidak dapat dinegosiasikan. Rudal-rudal tersebut hanya untuk pertahanan dan bukan subjek pembicaraan dalam perjanjian ini.

Mengenai isu nuklir, Baghaei menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan mengenai pengayaan atau material yang diperkaya. Namun, opsi pengenceran material yang diperkaya di dalam Iran telah dibahas sebagai alternatif agar tidak perlu mengirim material tersebut ke luar negeri, yang merupakan opsi yang tidak dapat diterima oleh Iran.

Baghaei menegaskan bahwa teks perjanjian ini ditandatangani dalam dua bahasa, Persia dan Inggris, sebagai bentuk transparansi penuh dari pihak Iran. Ia menekankan bahwa ini adalah awal dari proses panjang untuk memastikan pihak lawan mematuhi komitmen mereka.