Bahkan Bagi Warga Inggris, Tanda Tangan Trump Bukan Jaminan Ia Tepati Janji
POROS PERLAWANAN – Para netizen sejak kemarin hingga hari ini merespons laporan situs Politico, yang menyatakan bahwa dua pertiga warga Britania tidak percaya Donald Trump akan mematuhi kesepakatan dagang baru antara Washington dan London.
Diberitakan Fars, para pengguna X berpendapat, ketidakpercayaan ini adalah dampak langsung dari karakter komersialistik Trump dan ketidakpeduliannya kepada etika politik.
Sebelum ini, Lembaga Ipsos mengumumkan bahwa kurang lebih 3 orang dari tiap 4 warga Britania tidak percaya bahwa Trump bisa membantu terwujudnya perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
Berdasarkan jajak pendapat Yayasan Public First, 42 persen warga Britania menganggap China adalah mitra dagang yang lebih bisa dipercaya daripada AS. Sebagian besar mereka meyakini, problem terbesar dalam tiap kesepakatan dengan AS adalah karakteristik Trump “yang tidak bisa ditebak.”
Bahkan warga AS sendiri menyangsikan komitmen Trump terhadap kesepakatan Washington-London. Sebanyak 47 persen warga AS menganggap, kendala terbesar untuk perundingan antara dua sekutu lama ini adalah sifat Trump yang tidak bisa diprediksi. Sementara 42 persen (termasuk 11 persen pendukung Trump) menyatakan bahwa mereka tidak memercayai Presiden mereka sendiri.
Berikut adalah sebagian komentar netizen terkait kesepakatan dagang AS-Britania:

“Ini adalah problem ‘Anda-Tidak-Bisa-Dipercaya.’ Kenapa seseorang harus menyikapi Anda dengan niat baik, sementara Anda tidak menunjukkan itikad baik? Hubungan, bahkan dalam perundingan, membutuhkan skala tertentu dari kepercayaan. Butuh banyak pekerjaan untuk sampai kepada sebuah kesepakatan, yang mungkin besok akan dirobek oleh Trump.”

“Kenapa orang harus percaya Trump?”

“Dia (Trump) berusaha menyangkal Perjanjian USMCA (perjanjian antara AS, Meksiko, dan Kanada), padahal dia sendiri yang menegosiasikannya, menandatanganinya, dan berkata bahwa itu adalah kesepakatan hebat untuk AS. (Jika demikian) kenapa orang harus percaya Trump dalam tiap kesepakatan?”

“Dalam kondisi ini, apakah orang benar-benar harus percaya lagi kepada dia (Trump) atau AS? Jika ada yang percaya, dia orang idiot.”
